Beranda Khazanah Kemeriahan Ekspresi Ramadhan di Negerinya Para Nabi, Mesir

Kemeriahan Ekspresi Ramadhan di Negerinya Para Nabi, Mesir

Harakah.id – Mungkin ekspresi Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, maidaturrahman dan talaqi-talaqi akan di-off-kan karena ada pandemi Covid-19

Umat islam sedunia hari ini sedang memasuki bulan suci penuh berkah, bulan Ramadhan. Bulan penuh ampunan dan pahala amal baik akan dilipat gandakan.

Umat Islam di negeri kinanah, negerinya para Nabi memiliki cara tersendiri dalam menyambut datangnya bulan suci ini. Dimana semua masyarakat menyambut gembira euforia Ramadhan.

Jalanan di gang-gang komplek bersolek, lampu-lampu di jalan raya berwarna-warni, rumah-rumah penduduk seolah saling berlomba mempercantik diri dengan hiasan lampu-lampu hias fanous (lampion) dan pernak-pernik penghias lainnya.

Ada yang unik dari kebiasaan warga Mesir dalam menyambut Ramadhan. Hidangan Tuhan atau yang biasa warga Mesir sebut dengan Ma’idaturrahman. Ya, sepanjang pinggir jalan raya dan halaman masjid para dermawan (muhsinin) berlomba-lomba menghidangkan hidangan terbaik mereka bagi masyarakat yang mencari menu buka puasa.

Hidangan yang terdiri dari nasi campur mie (sya’riyyah), daging yang dimasak dengan kentang, ayam panggang khas Mesir, acar atau sejenis salad sayur ditambah dengan minuman dengan beraneka warna lengkap dibagikan secara cuma-cuma setiap harinya selama bulan suci.

Menu dijajakkan di sepanjang jalan dan area depan masjid pada bangunan semi permanen lengkap dengan meja dan kursinya. selain itu, warga Mesir juga berlomba-lomba membagikan sembako ke rumah-rumah warga dan mahasisiwa, ditambah pembagian uang di masjid-masjid setiap hari jumat yang biasa disebut dengan musa’adah.

Jadilah kemeriahan awal bulan puasa di Mesir tak ubahnya kemeriahan Idul Fitri di Indonesia. Jalan-jalan lebih ramai dan semarak dengan orang lalu-lalang. Setiap warga yang berpapasan akan saling melontarkan ucapan, “Kullu sanah wa enta thayyib atau kullu sanah wa antum bikhair.”

Sebuah tahniah yang di Indonesia lazim disampaikan hanya ketika sedang berlebaran atau tahun baru. Penyambutan orang Mesir akan datangnya Ramadhan hampir menyamai kemeriahan dan kebahagiaan masyarakat Indonesia saat menyambut datangnya hari raya lebaran.

Barangkali masyarakat Mesir sekaligus sedang mengamalkan hadis dalam kitab Riyadussholihin yang berbunyi :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan bersungguh-sungguh (penuh kesadaran) maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari dan Muslim).

“Orang mesir kalau Ramadhan semua berubah menjadi malaikat ya?” Celetuk Rina, mahasiswi semester 1 yang baru 3 bulan menapakak kakinya di negera kinanah ini.

Hal lain yang menambah sukacita masisir dalam menikmati Ramadhan ialah melakukan tarawih keliling atau yang biasa kami sebut dengan tarling. Agar tak ketinggalan tarawih tepat setelah berbuka puasa mereka langsung menuju masjid-masjid yang sudah di list sebelumnya bahkan banyak dari mereka yang berangkat menuju masjid sebelum azan maghrib untuk mempersingkat waktu.

Masjid-masjid yang menjadi favorit para masisir di antaranya masjid tertua di benua Afrika masjid Amru bin ‘ash, masjid Al-azhar yang berada di Darrasah , masjid Husein dimana Sayyidina Husein di maqomkan, masjid Imam Syafi’i. Bacaan fasih dan merdu imam masjid selalu membuat betah berlama-lama menunaikan setiap rakaat tarawih.

Selain sukacita yang dirasakan pasti juga ada tantangan dibalik itu semua, sudah 3 tahun belakangan Universitas Al-azhar mengadakan ujian akhir kenaikan semester tepat saat bulan puasa dan bertepatan dengan puncak musim panas yang derajat panasnya mencapai 39-45 derajat.

Durasi waktu puasa yang biasanya di indonesia hanya dalam kurun waktu 13 jam di Mesir mereka harus melalui dalam kurun 16 jam. Ujian yang diadakan sekitar satu bulan sampai satu bulan setengah.

Dalam tempo setiap minggunya berjeda 2-3 hari  dari satu mapel ke mapel selanjutnya yang terdiri dari 10 mata pelajaran. Sungguh ujian didalam ujian dan merupakan tantangan tersendiri bagi para mahasiswa di negeri kinanah ini, bukan?

Di lain waktu, ketika bulan puasa tidak bertepatan dengan momen ujian akhir semester (UAS) masisir sering menghabiskan waktu luangnya dengan kegiatan organisasi, kajian ilmiah dan fasilitas mengaji talaqi yang diadakan di ruwaq-ruqwaq masjid Al-Azhar, apartemen dan rumah kepunyaan para syeikh (madyafah).

Di dalamnya diisi pembacaan kitab-kitab khusus yang dikaji selama Ramadhan lengkap ijazah sanadnya. Semua fasilitas yang diberikan para syeikh tersebut murni tanpa memungut biaya sepeserpun bahkan selalu disedikan menu ta’jil berupa kurma dan minuman manis.

Di setiap perjalanan mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan warga mesir yang membaca Al-Qur’an baik di halte bus, kendaraan umum bahkan di pasar-pasar.

Mungkin Ramadhan kali ini akan berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, sementara maidaturrahman dan talaqi-talaqi akan di-off-kan mengingat pandemi Covid-19 yang menyerang hampir seluruh negara di belahan dunia tak terkecuali Mesir. Semoga pandemi ini segera berlalu.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...