Beranda Keislaman Akhlak Kemuliaan Muslim yang Pakai Akal dalam Menjalani Hidup Menurut Buya Hamka

Kemuliaan Muslim yang Pakai Akal dalam Menjalani Hidup Menurut Buya Hamka

Harakah.idAkal menjadi penjaga yang dihadiahkan Tuhan untuk manusia. Sehingga dengan akal manusia bisa menimbang baik-buruk suatu perkara sebelum akan dikerjakan.

Walau kedengarannya agak kegeeran, manusia adalah makhluk yang istimewa plus mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan. Diberi wujud sebaik-baiknya makhluk oleh Tuhan, dan lewat Nabi-Nya Tuhan memberi manusia agama sebagai bekal jalan kehidupan mulia di dunia dan akhirat. Sehingga manusia pun menjadi makhluk yang tak hanya punya sebaik-baik wujud makhluk, namun juga punya akhlak yang baik.

Selain agama, salah satu kelebihan yang menjadi keistimewaan yang Tuhan berikan pada manusia adalah akal. Dengan anugerah akal yang dibantu petunjuk wahyu, manusia bisa menjaga dirinya agar tak jatuh dalam jurang kehidupan yang menghinakan dan menghancurkan hidupnya.

Buya Hamka dalam bukunya “Falsafah Hidup” berkata kalau: …yang dirasakannya (yang dirasakan hewan) hanyalah semata-mata kelezatan perasaan kasar. Dikejarnya kelezatan itu dengan tidak menimbang dan memikir lebih dahulu. Sedang bagi manusia, akal itulah yang menjadi penjaganya dan menguasainya. Meskipun suatu perkara dipandangnya lezat untuk badannya, belum tentu dia mau mengerjakannya kalau belum dapat persetujuan dari akalnya.

Akal menjadi penjaga yang dihadiahkan Tuhan untuk manusia. Sehingga dengan akal manusia bisa menimbang baik-buruk suatu perkara sebelum akan dikerjakan. Jika perkara itu buruk, oleh manusia yang menggunakan akalnya, pasti akan ditinggalkan. Sedangkan, perkara baik meski berat pasti akan dikerjakan

Dalam bukunya Buya Hamka yang berjudul “Falsafah Hidup” dijelaskan kalau ada 11 tanda manusia yang menggunakan akalnya.

Pertama, orang yang berakal luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih perkara yang bermanfaat dan menjauhi yang akan menyakiti.

Manusia yang menggunakan akalnya menjalani hidup bukan semata untuk mencari kesenangan. Dia tahu mana kesenangan yang hakiki dan mana kesenangan yang menipu. Kesenangan yang menipu merupakan suatu perkara yang kelihatannya saja menyenangkan, namun sejatinya bisa menjerumuskan hidup dalam jurang kehinaan, kehancuran, dan kesengsaraan. Dan orang yang berakal pasti akan lebih memilih kesenangan hakiki daripada kesenangan menipu. Meski kesenangan hakiki kelihatannya berat, namun sejatinya membawa hidup pada kebaikan, kedamaian, dan kemuliaan dunia-akhirat.

Kedua, orang yang berakal selalu menaksir harga dirinya, menaksir harga diri ialah dengan menilik hari-hari yang telah dilalui, adakah dipergunakan pada perbuatan yang berguna atau tidak. Selalu merenungi hari-hari yang telah dilalui. Apa lebih banyak melakukan hal bermanfaat atau malah lebih banyak menyia-nyiakan umur yang diberi Tuhan.

Ketiga, orang yang berakal selalu berbantah dengan dirinya. Kalau datang keinginan melakukan kejahatan atau hal buruk, dihukumnya bahwa kejahatan itu berbahaya, merugikan, mencelakakan. Sehingga dirinya pun tak berani mengerjakannya dan meninggalkan perbuatan yang tak baik itu.

Keempat, orang yang berakal selalu mengingat kekurangannya. Baik kekurangan pada agama maupun pada akhlaknya. Kemudian berusaha memperbaiki kekurangan itu. Sehingga orang yang menggunakan akalnya selalu berupaya memperbaiki dirinya menuju kebaikan hidup.

Kelima, orang yang berakal tidak berduka kalau ada keinginan yang tidak terpenuhi atau ada nikmat yang meninggalkannya. Menerima sesuatu dengan tidak kecewa dan selalu berusaha menggapai cita-cita hidup.

Keenam, orang yang berakal mencari teman yang berakal juga. Karena tanpa teman yang berakal lemahlah dia. Dengan bersama dia akan dapat membandingkan di mana kekurangan dan kelebihannya. Sehingga bersama mereka selalu saling mengingatkan dalam upaya menjadi lebih baik.

Ketujuh, orang yang berakal memandang besar segala kesalahan. Walaupun menurut orang lain hanya kesalahan kecil, dia tetap tidak mau memandang kecil  kesalahan. Dia sadar kalau bahaya besar sering timbul akibat menganggap remeh perkara yang kecil.

Kedelapan, orang yang berakal hanya merindui tiga perkara. Yaitu: menyediakan bekal untuk hari kemudian, mencari kelezatan buat jiwa, dan menyelidiki arti hidup.

Kesembilan, orang yang berakal tidak menjawab sebelum ditanya. Maksudnya adalah tidak sok-sokan sebagai manusia yang paling tahu segalanya. Kalau ada pertanyaan, dipikirkan dengan baik dan tidak dijawab asal-asalan. Menjawab pertanyaan dengan ilmu, jika ada pertanyaan yang tak dipahami, akan diakui untuk kemudian dicari jawaban yang belum dipahami itu.

Kesepuluh, orang yang berakal tidak menghinakan orang lain. Sebab dirinya sadar kalau dia juga punya kekurangan.

Kesebelas, orang yang berakal hidup menebarkan kebaikan buat manusia lainnya. Ini sejalan dengan pesan Nabi Muhammad saw bahwa sebaik-baik manusia adalah yang menebar manfaat bagi manusia lain. Jadi, orang yang berakal pasti tak suka mengacau dan merugikan apalagi mencelakakan orang lain.

Demikian tanda orang yang berakal atau manusia yang menggunakan akalnya. Kalau tak ada tanda-tanda itu dalam diri manusia bukan karena dirinya tak punya akal, sebab semua manusia dihadiahkan akal oleh Tuhan. Hanya saja, belum digunakannya secara baik dan maksimal, akalnya masih sering dikalahkan oleh nafsu. Sehingga makin lama akal itu makin kecil, sementara nafsu malah makin bertambah besar. 

Buya Hamka dalam bukunya “Tasawuf Modern” berkata kalau: Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka.

Semoga kita semua menjadi manusia yang berakal luas, dan selamat dunia-akhirat. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...