Beranda Keislaman Kenakan Masker Untuk Cegah Virus, Tapi Menimbunnya Untuk Diri Sendiri Lebih Nampak...

Kenakan Masker Untuk Cegah Virus, Tapi Menimbunnya Untuk Diri Sendiri Lebih Nampak Seperti Perbuatan Dajjal

Harakah.idManusia memang terlahir dengan sifat panikan. Sesaat setelah berita Virus Corona merebak, stok masker dan hand sanitizer di toko-toko ludes tak tersisa. Bagaimana hukumnya menimbun masker dan hand sanitizer untuk diri sendiri atau dijual kembali demi meraup keuntungan?

Berita mengenai kedatangan virus Corona di Indonesia mengagetkan banyak pihak. Berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran pun muncul. Ya bagaimana tidak? Ribuan nyawa hilang akibat virus yang muncul pertama kali di Wuhan Cina ini. Masyarakat pun panik dan menimbulkan keriuhan, salah satunya dengan memborong habis masker dan sanitizer di toko-toko guna melindungi diri dari virus tersebut.

Sebagaimana layaknya hukum pasar, ketika barang sedikit namun permintaan pasar besar, maka harga barang melonjak naik. Harga masker pun demikian. Ia naik hampir 200 kali lipat dari harga aslinya. Di satu sisi ia mendatangkan keuntungan bagi produsen dan penjual, namun di sisi yang lain ia juga mendatangkan kesulitan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Lalu bagaimana Islam memandang fenomena semacam itu?

Menimbun masker dan sanitizer untuk dijual kembali dengan harga yang lebih mahal haram hukumnya. Seluruh ulama madzhab dari Hanabilah, Syafi’iyyah, Malikiyah dan Hanafiyah sepakat bahwa praktek menimbun harta hukumnya haram. Apalagi yang ditimbun adalah barang yang dibutuhkan oleh banyak orang. Pendapat ini didasarkan pada hadis-hadis masyhur yang berbicara soal haramnya menimbun barang.

Seperti misalnya hadis riwayat Abu Hurairah;

من احتكر حكرة يريد أن يغلى بها على المسلمين فهو خاطئ

“Barang siapa yang menimbun agar semakin mahal ketika dijual kepada Umat Muslim, maka dia telah berbuat salah”

Salah satu illat hukum yang membuat praktek menimbun barang haram, adalah karena ia mendatangkan kemudharatan atau kesusahan. Di waktu masyarakat sedang membutuhkan masker, ada pihak-pihak yang justru menimbunnya lalu dijual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal. Sikap semacam ini tentu saja menyulitkan masyarakat terdampak, utamanya mereka yang berada di bawah garis kemiskinan.

Lalu bagaimana jika seseorang menimbun barang untuk dirinya sendiri?

Hukumnya sama. Orang-orang yang membeli barang dalam jumlah banyak, selain akan merusak keseimbangan harga pasar, juga akan mempersulit orang lain untuk mendapatkan barang tersebut. Ketika barang di pasar habis, sedangkan permintaan masih banyak, maka harga barang akan melonjak tinggi. Nah, orang-orang yang membeli barang dalam jumlah banyak, tanpa peduli bahwa orang lain juga membutuhkannya, secara tidak langsung menyumbang sebab keharaman dari praktek menimbun barang.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...