Kenapa Jiwa Manusia Perlu Disucikan dengan Ibadah Puasa?

0
212
Kenapa Jiwa Manusia Perlu Disucikan dengan Puasa dan Ibadah Lainnya - Harakah.id

Harakah.id – Keinginan-keinginan tak terbatas yang timbul oleh syahwat menyebabkan jiwa jadi kotor. Ibadah puasa menyucikannya.

Puasa memiliki dua dimensi dalam pemaknaannya, dimensi sosial dan personal. Dalam dimensi sosial, jelas bahwa dengan berpuasa, Allah menghendaki kita untuk dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum fakir dan miskin. Mereka adalah kaum dhuafa yang serba kekurangan dalam hal mencukupi kebutuhan primer kesehariannya. Darinya, kepekaan sosial kita diuji dengan berpuasa sebulan penuh, agar jiwa kepedulian sosial kita aktif dalam merespon kesenjangan sosial yang ada di sekitar kita.

Dalam dimensi personal, dengan berpuasa tentunya sebagai medium latihan spiritual agar jiwa kita kembali kepada fitrahnya, yaitu suci. Lantas muncul pertanyaan kenapa jiwa kita perlu untuk disucikan?

Manusia seperti umum diketahui terdiri atas dua unsur, tubuh dan jiwa. Tubuh adalah wadah yang bersifat fisik alamiah, jiwa adalah isi yang memberi nilai kesempurnaan bagi tubuh itu. Tanpa jiwa, tubuh manusia tak bermakna apa-apa. Darinya, seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Sina, bahwa jiwa adalah awal mula kesempurnaan bagi entitas tubuh alami tersebut.

Baca Juga: Ilmu Rasional Itu Bersifat Syar’i, Ini Penjelasan Ibn Sina

Jiwa menghidupkan tubuh yang tadinya mati, tak dapat berbuat apa-apa. Lantas jiwa menjadi semacam energi, kekuatan, atau daya agar materi tubuh fisik tersebut dapat tumbuh-kembang, berkembang-biak berregenerasi, bergerak untuk dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, mempersepsi objek-objek di luar dirinya, bahkan memikirkan sesuatu hal yang bersifat abstrak-metafisik dengan bantuan akalnya.

Karena persenyawaan jiwa kepada tubuh fisik tersebut, lantas menjadikannya tak lagi suci. Ia terpenjara dalam penjara kotor yang dinamakan dengan tubuh itu. Dalam sebuah puisi tentang jiwa berjudul Qasīdah Al-`Ainiyyah fī Al-Nafs, Ibn Sina mengilustrasikan:

Ia (jiwa itu) turun kepadamu dari tempat yang tinggi;
Bagaikan merpati jinak tetapi enggan dan menghindar.
Terselubung terhadap pelupuk setiap pemandang;
Padahal ia yang membuka wajah tanpa cadar.
Ia tiba kepadamu dengan terpaksa;
Dan boleh jadi enggan berpisah, kendati ia penuh keluhan.
Engganlah ia dan tidak senang menyatu denganmu.
Tetapi begitu menyatu akhirnya terbiasa.
Bersanding dengan kebobrokan yang kumuh.

Dari penggalan pertama puisi tersebut, jelas bahwa Ibn Sina menggambarkan dua entitas yang berbeda, tubuh yang memiliki derajat yang rendah dan jiwa yang memiliki derajat tinggi. Keduanya bersatu dalam satu makhluk bernama manusia. Dalam perjalanannya, tak jarang jiwa terbuai dan terlena dalam penjara tubuh fisik itu, dan menjadikannya tak suci lagi.

Mulanya, jiwa ditugaskan untuk membawa manusia kepada Tuhan Sang Pencipta yang dengannya segala bentuk kebaikan dan kesempurnaan itu bermuara. Namun ia lupa atau khilaf atas tugas dan amanah yang diembannya itu. Dalam puisinya itu, Ibn Sina melanjutkan:

Kuduga ia lupa janji-janjinya
Ketika ia berada di alamnya yang tinggi
Ia menangis bila mengingat janji-janji di alamnya yang luhur
Mencucurkan air mata deras tiada henti.

Jiwa yang gagal mengemban misi sucinya menjadikan manusia sebagai pribadi yang buruk, jahat, rakus, tamak, koruptif. Ia menjadi manusia yang cinta kepada hal-hal yang bersifat fisik duniawi. Jelas manusia semisal itu telah melenceng dari fitrah asalnya sebagai makhluk yang suci dan memiliki derajat yang tinggi. Meminjam dalil Al-Quran, manusia semisal itu derajatnya lebih rendah dari binatang ternak.

Baca Juga: Letak & Posisi Bintang Tsurayya di Langit dan Pengaruhnya Terhadap Corona

Lantas bagaimana cara agar manusia dapat kembali menjadi makluk yang suci? Jawabannya adalah dengan cara ibadah. Ibadah merupakan tujuan dari penciptaan manusia. Di dalam Al-Qur`an diterangkan, “Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat : 56]. Ibadah berfungsi untuk melatih jiwa kita agar dapat kembali kepada fitrahnya yang bersih dan suci.

Puasa merupakan salah satu ibadah yang dibebankan kepada manusia. Ritual ibadah ini merupakan suatu bentuk latihan spiritual yang dapat menekan dan menahan segala bentuk keinginan-keinginan tak terbatas yang syahwat yang terdapat di dalam diri manusia.

Keinginan-keinginan tak terbatas yang ditimbulkan oleh syahwat tersebut yang menjadikan jiwa kita menjadi kotor dan tidak suci lagi. Jika kelak kita wafat –jiwa kita terpisah dari badannya— apakah Allah akan menerima jiwa kita dalam keadaan kotor dan tidak suci? Tentu jawabannya tidak mungkin. Karena dalam satu keterangan disebutkan bahwa Allah itu Suci, Ia hanya mencintai orang-orang yang menyucikan diri.

Dari itu, setiap individu yang telah melaksanakan ibadah puasa secara benar dan sempurna maka ia akan mendapatkan kualitas diri sebagai manusia yang bertakwa. “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [QS: Al-Baqarah: 183]

Manusia yang bertakwa tentu di dalam dirinya terdapat kualitas jiwa yang bersih, suci dan tenang. Jiwa manusia semisal inilah yang kelak akan kembali kepada Allah. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” [QS: Al-Fajr: 27-30]

Baca Juga: Kaidah “al-Yaqin La Yuzalu bis-Syakk” dan Kepastian Indonesia Sebagai Darul Islam

Saat puasa dan ibadah lainnya tidak dijadikan sarana untuk melatih spiritualitas jiwa agar mendapatkan kesuciannya kembali, maka jiwa tersebut seperti apa yang digambarkan oleh Ibn Sina di ujung puisinya, “ia terbenam, tak serupa terbitnya, ia seakan kilat cemerlang di bentengnya yang tinggi, lalu redup, menghilang bagai tak pernah berkilau.” []

Baca Juga: Siapa Pertama Kali Mempopulerkan Istilah “Riwayah-Dirayah” dan Menjadikannya Nama Cabang Ilmu?