Beranda Keislaman Akidah Kenapa Mayoritas Saintis Tidak Percaya Tuhan, Dialog Kiai Madura Dan Profesor Melbourne...

Kenapa Mayoritas Saintis Tidak Percaya Tuhan, Dialog Kiai Madura Dan Profesor Melbourne Tentang Agnosiknya Ilmuan

Harakah.idKenapa mayoritas saintis tidak percaya tuhan? Pertanyaan ini diajukan seorang Kiai Madura kepada seorang profeson di Melbourne. Memang kerapkali, karena terlalu mengandalkan data empirik dan penalaran, mayoritas saintis tidak percaya kepada hal yang “tak terlihat”. Termasuk Tuhan.

Ini adalah catatan dialog antara KH. Afifuddin Muhajir (salah seorang pengasuh Ponpes Sukorejo Situbondo) dengan Gus Nadirsyah Hosen (yang kini menjadi salah seorang dosen tetap di Melbourne). Catatan dialog ini ditulis sendiri oleh Gus Nadir. Sebuah catatan menarik tentang pertanyaan besar, “Kenapa mayoritas saintis tidak percaya Tuhan?”

Beberapa hari lalu saya menerima sms dari KH Afifuddin Muhajir. Beliau adalah Katib Syuriah PBNU, salah satu pengasuh utama pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo yang merupakan pengarang kitab Fath al-Mujib al-Qarib, yang men-syarh matan Taqrib.

Di bulan Ramadan dapat sms dari kiai ahli ushul al-fiqh dan fiqh ini rasanya anugerah luar biasa buat saya. Terjadilah dialog lewat sms tersebut yang menurut saya isinya pantas di-share di sini (semoga pak kiai tidak keberatan):

Baca Juga: 7 Ilmuan Muslim yang Bergelut Dengan Angka dan Berkontribusi di Dunia Matematika

Kiai: Assalamualaikum wr wb. Sy membaca sebuah tulisan, “hampir semua scientis itu agnustik”. Apa maksudnya? Tk. Afifuddin m.

Saat membaca sms ini reaksi spontan saya adalah: wah ini pintu masuk yang baik utk para kiai tradisional kita mengenal perdebatan sains dan agama. Luar biasa juga kiai yang tinggal di Madura tapi bacaannya melampaui kitab kuning.

Saya menjawab sms beliau: Wa alaikum salam pak yai. Ramadan karim. Hampir semua scientist itu agnostik maksudnya adalah mereka tidak dapat menentukan lewat akal dan hasil penelitian mereka akan keberadaan tuhan. Agnostik sedikit berbeda dg ateis. Kalau ateis tdk percaya ada tuhan, kalau agnostik itu tidak dpt menentukan apakah tuhan itu memang ada atau tidak –bisa jd mereka percaya adanya tuhan (tdk spt orang ateis) tapi akal mereka tdk sampai utk menyimpulkan tuhan itu ada. Demikian pak yai.

Beliau membalas jawaban saya tsb.

KiaiSementar bagi kaum shufi, Tuhan adlh اظهر من كل شئ

Saya tertegun sejenak membaca jawaban beliau. Beliau bertanya soal saintis tapi mengomentari dg pendekatan sufistik. Ah benar-benar anugerah. Beliau benar bahwa bagi sufi, Tuhan itu tampilan dari semuanya. Tuhan itu tampil dengan amat jelas. Lantas mengapa para saintis yang otaknya luar biasa itu tidak mampu sampai kepada Tuhan?

Beliau mengirim sms lagi:

Kiai: Apa ada scientis terkemuka yg agamis? Tk.

Saya bergumam cerdas sekali Kiai kita ini. Saya memahami pertanyaan beliau itu dalam konteks Barat karena beliau pasti paham dalam sejarah dunia Islam kita juga memiliki para raksasa ilmu yang sangat alim. Kira-kira pertanyaan beliau kalau ditulis ulang spt ini: adakah saintis terkemuka di Barat yg percaya adanya Tuhan dan tidak masuk kategori agnostik?

Baca Juga: Dari “Aqua Regia” hingga Prinsip Kekekalan Massa, Tiga Ilmuan Muslim Ini Punya Kontribusi Besar di Bidang Kimia

Ini jawaban saya:

NHBanyak pak yai scientist terkemuka di barat yg percaya tuhan (bukan agnostik) misalnya Johannes Kepler, Descartes, Pascal, Isaac Newton, termasuk Einstein.

Saya susul dengan jawaban berikutnya:

NH: 65,4% penerima hadiah nobel beragama kristen, jadi sebenarnya masih mayoritas scientist yg percaya keberadaan tuhan.

Dan tidak disangka-sangka beliau menjawab dengan kutipan ayat: انما يخشى الله من عباده العلماء

Saya kembali merenung. Semakin tambah pengetahuan kita semakin tundukkah kita pada Allah atau justru semakin ingkar? Sungguh yang takut-tunduk pada Allah dari hamba-hambaNya itu adalah para ulama (orang yang berpengetahuan). Ya allah jadikanlah sejumput ilmu kami ini sebagai wasilah untuk mengenalMu

Beliau mengirimkan sms susulan:

KiaiAwalnya sy gundah mendengar bhw Stephen Hawking, scientis terkemuka engris saat ini adlh ateis, tp akhirnya sy sadar bhw hidayah tak cukup hnya dg modal akal.

Hebat sekali kiai kita ini sampai tahu soal Hawking. Malamnya tanpa direncanakan saya menonton film tentang Stephen Hawking di DVD. Wah bisa pas banget nih dengan dialog saya bersama Pak Kiai. Saya jadi punya bahan untuk menjawab sms beliau. Komentar beliau soal kaitan akal dan hidayah itu juga menarik sekali utk diskusi lebih lanjut.

Keesokan harinya beliau sms saya lagi.

KiaiAssalamu’alaikum… Ma’af, mau tanya lagi: apakah org barat mempercayai adanya jin? Tk.

Saya menjawab dengan lebih dahulu komen balik soal Hawking.

NHHawking itu dulu agnostik dan kemudian disertasinya soal waktu (time) dianggap brilian. Bbrp th kemudian Hawking membantah sendiri teori dlm disertasinya. Ia tdk percaya alam semesta ini diciptakan. Dg teori big bang nya ia merasa awal semesta ini hanya karena ledakan besar. Hawking yg dianggap hebat ternyata belum sampai akalnya menuju allah.

Saya teruskan mengirim sms:

NHAda sebagian kecil di barat yang percaya dg jin, spirit, dst nya tapi sebagian besar sangat rasional dan sekuler. Bagi mrk ciri masyarakat berperadaban modern itu tdk percaya dg dunia gaib nan ajaib. Hanya masyarakat terbelakang yg mau percaya dg jin, spirit, dll dan itu dibuktikan lewat penjajahan yg mrk lakukan ke negeri afrika, timur tengah dan asia yg masih percaya jin tapi ternyata bisa mereka taklukkan dan mereka jajah. Sementara masyarakat kita sedang demam batu akik. Kembali ke jaman batu hehhe

Lagi-lagi saya terkejut dengan respon beliau.

Kiai: (والعارفون بربهم لم يشهدوا * شيئا سوى المتكبرالعالي (ابو مدين

Jawaban singkat tapi padat dengan mengutip Syekh Abu Madyan al-Maghribi.

Para ‘Arifin itu sangat mengenal Tuhannya dan mereka tidak melihat apapun melainkan Allah. Kemanapun mereka palingkan wajah mereka, yang mereka lihat adalah kebesaran Tuhan. Tidak mereka lihat suatu benda kecuali diujungnya ada Tuhan. Saya sapukan pandangan wajah saya dengan mata yang mulai berkaca-kaca; tak juga saya lihat ada wajah ilahi.

Baca Juga: 6 Ilmuan Muslim yang Punya Kontribusi Besar di Bidang Astronomi

Duh Gusti, ampuni aku… Alam semesta itu nyata dan ini yang dijadikan obyek penelitian Hawking. Jin itu tidak kelihatan alias gaib dan ditolak oleh sebagian besar masyarakat Barat. Buat para Arifin, pada yang terlihat atau tidak terlihat, semuanya merupakan tajalliNya. Wa Allahu a’lam.

Saya membalas sms terakhir beliau dengan satu kata: Subhanallah.

Itulah dialog antara Kiai Afifuddin Muhajir dan Prof. Nadirsyah Hosen tentang kenapa mayoritas saintis tidak percaya Tuhan. Alhasil, akal dan nalar manusia, yang paling maksimum sekalipun, tidak akan mampu mengurai seluruh misteri tentang alam semesta. Ada Tuhan yang beperan di balik setiap gerak dan detak kehidupan di dunia ini.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...