Beranda Khazanah Ketentuan Mahar "Jujuran" dalam Adat Pernikahan Banjar, Sesuaikah Dengan Ajaran Islam?

Ketentuan Mahar “Jujuran” dalam Adat Pernikahan Banjar, Sesuaikah Dengan Ajaran Islam?

Harakah.idJujuran dalam adat pernikahan Banjar mirip dengan mahar dalam Islam. Tradisi ini mewajibkan seorang laki-laki memberikan sejumlah uang kepada pihak perempuan dengan nominal yang sesuai dengan aturan adat. Artikel ini akan melihat tradisi tersebut dari perspektif Islam.

Pernikahan merupakan salah satu aspek yang cukup kental dengan namanya adat istiadat, termasuk adat istiadat yang secara turun temurun berjalan di masyarakat Banjar, yang dikenal dengan nama Jujuran. Yang perlu dipahami adalah menurut masyarakat Banjar Jujuran ini berbeda dengan mas kawin atau dalam hukum Islam disebut dengan mahar.

Jujuran bukan merupakan syarat sah perkawinan, bahkan dalam ajaran agama Islam yang menjadi kewajiban suatu pernikahan adalah membayar mahar atau mas kawin. Namun tradisi yang mengikat masyarakat Banjar ini secara turun menurun membentuk persepsi bahwa Jujuran dalam adat pernikahan Banjar merupakan suatu tradisi yang harus dibayar selain mahar atau mas kawin.

Sehingga ada beberapa problem yang timbul di masyarakat, seperti tertundanya pernikahan karena tidak sanggup membayar Jujuran, berhutang ke sana ke mari demi mampu memenuhi Jujuran yang ditawarkan, atau bahkan pernikahan akan batal karena tidak bisa memenuhi permintaan tersebut.

Dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 4, Allah berfirman yang artinya “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Dalam ayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa permintaan mahar sebaiknya adalah mahar yang sederhana sesuai kesanggupan dan tidak membebani calon suami. Yang pernyataan ini juga sesuai dengan hadits Rasulluh SAW bahwa “Wanita yang paling besar berkahnya ialah wanita yang paling mudah (murah) maharnya.” (H.R. Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Namun bukan berarti pihak laki-laki memberi mahar seenaknya untuk mempelai wanita tanpa dilihat terlebih dahulu kelayakan maharnya. Laki-laki hendaknya memberikan mahar kepada mempelai wanita sesuai dengan keberadaan wanita tersebut. 

Jujuran dalam adat pernikahan Banjar adalah suatu ketentuan yang harus dilaksanakan apabila menikahi perempuan yang dari Banjar. Berdasarkan hal tersebut uang Jujuran dalam adat pernikahan Banjar memiliki beberapa tujuan:

Pertama, dari segi kedudukan. Uang Jujuran merupakan rukun perkawinan di kalangan masyarakat Banjar.

Kedua, dari fungsinya. Uang Jujuran merupakan pemberian hadiah dari pihak pria kepada pihak perempuan sebagai biaya resepsi perkawinan dan bekal kehidupan kelak menjalani rumah tangga yang sudah turun temurun mengikuti adat istiadat.

Ketiga, dari segi tujuannya. Uang Jujuran merupakan suatu pemberian kehormatan atau penghargaan yang diberikan oleh pihak calon mempelai pria kepada wanita yang ingin dinikahinya jika uang jujuran tersebut mampu dipenuhi oleh pihak pria. 

Jumlah atau patokan yang ditawarkan oleh pihak perempuan dengan pihak laki-laki beragam, mulai dari yang paling rendah sampai paling tinggi, mulai dari nominal puluhan sampai ratusan. Dan patokan ini sesuai dengan fakta sosial yang dilihat oleh penulis sendiri di masyarakat Banjar, kecenderungan jumlah nominal jujuran yang tinggi akan dipengaruhi beberapa faktor seperti:

Pertama, status sosial calon istri. Semakin kaya calon istri atau semakin terpandang atau terhomatnya calon istri maka semakin tinggi pula Jujuran yang diberikan. Dan ini akan sangat berpengaruh pada cara pandang masyarakat Banjar terhadap keluarga calon pengantin.

Kedua, tinggi rendahnya jenjang pendidikan yang ditempuh oleh calon mempelai perempuan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh oleh perempuan maka semakin tinggi pula Jujuran yang diberikan.

Ketiga, masyarakat Banjar beranggapan bahwa uang Jujuran dengan harga yang tinggi adalah suatu kehormatan tersendiri karena menurut mereka akan berdampak pada kemeriahan, kemegahan bahkan banyaknya jumlah tamu yang diundang dalam pernikahan tersebut. 

Di dalam Islam dikenal prinsip raf’at taisir (mengutamakan kemudahan) dalam urusan pernikahan. Jujuran dalam adat pernikahan Banjar sebenarnya punya konsekuensi negatif, seperti; 1) terhambatnya pernikahan apalagi bagi mereka yang sudah serius satu sama lain, 2) mendorong atau bahkan memaksa pihak  laki-laki untuk berhutang demi membayar jujuran perempuan yang ingin dinikahinya, 3) mendorong terjadinya kawin lari atau bahkan terjalinnya hubungan di luar nikah, 4) terputusnya hubungan baik antara pihak pria beserta keluarganya hanya karena pihak pria tidak bisa membayar uang Jujuran yang diberikan, maka pernikahan pun dibatalkan dan 5) akan ada banyak perempuan yang tidak menikah dan menjadi perawan tua karena Jujuran yang ditawarkan sebelumnya terlalu tinggi.

Namun sesuai dengan fakta sosial, penulis melihat bahwa sebagian pihak pria yang menikahi perempuan Banjar merasa tidak dibebani dengan Jujuran dalam adat pernikahan Banjar yang relatif tinggi. Hal itu karena dalam penentuan uang Jujuran ini akan ada proses tawar menawar atau kesepakatan antara dua belah pihak mempelai sehingga bisa dikatakan bahwa pihak pria sudah mengetahui atau sepakat dengan adat istiadat yang ada dalam masyarakat tersebut yang mana pihak pria sudah menyanggupi dengan batas kemampuannya untuk memenuhi uang jujuran yang harus dibayarkan. Ketika pemberian uang Jujuran ini tidak mempersulit terjadinya pernikahan maka hal yang demikian tidak bertentangan dengan hukum Islam selama tidak ada unsur keterpaksaan untuk memberikannya. 

Tradisi Jujuran dalam adat pernikahan Banjar ini secara turun temurun dipandang bukan sesuatu hal yang buruk, dan merupakan sesuatu kebiasaan baik yang harus ditunaikan oleh pihak yang ingin menikahi wanita Banjar. Dan sesuatu yang dianggap baik serta dijalankan turun temurun berulang-ulang maka tidak diharamkan di dalam hukum Islam. Sebagaimana terdapat dalam buku yang berjudul Falsafah Hukum Islam yang ditulis oleh Hasby Ash- Shiddiqie, dikatakan bahwa adat atau kebiasaan dapat dijadikan sebagai sumber Hukum Islam jika memenuhi syarat sebagai berikut:

1) Adat kebiasaan dapat diterima oleh akal sehat dan diakui oleh pendapat umum, 2) Berulang kali terjadi dan sudah umum dalam masyarakat, 3) Kebiasaan itu sudah berjalan atau sedang berjalan, tidak boleh adat yang berlaku, 4) Tidak ada persetujuan lain kedua belah pihak, yang berlainan dengan kebiasaan dan 5) Tidak bertentangan dengan nash. Oleh karena itu, meskipun tradisi Jujuran yang terjadi di masyarakat Banjar tidak diatur dalam Hukum Islam namun pemberian ini dibolehkan selama hal tersebut tidak bertentangan dengan akidah dan syariat.

Menurut hemat penulis, tradisi yang dibangun oleh masyarakat Banjar tentang Jujuran sah-sah saja untuk dijalankan asalkan adanya sifat kerelaan antara dua belah pihak atau adanya kesepakatan yang mana pihak pria sudah menyanggupi dengan batas kemampuannya untuk memenuhi uang Jujuran yang harus dibayarkan dan tidak ada sisi di mana ada keterpaksaan di dalamnya ataupun memberatkan pihak laki-laki.

Sedangkan fenomena makna jujuran ini bisa dikatakan masih dalam indeks dimensi status sosial ketimbang dimensi moral dan spiritualnya. Uang Jujuran yang ditetapkan tinggi atau rendahnya di masyarakat Banjar, mereka memiliki argumen atau alasan tersendiri dalam menempatkan harga tersebut baik itu karena pengaruh status sosial, lingkungan, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Dan yang perlu diingat adalah agama Islam tidak pernah sama sekali memberatkan hambanya apalagi dalam masalah perkawinan sekalipun. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...