Beranda Headline Ketika Agama dan Politik Menikah, Anaknya Bernama Konspirasi

Ketika Agama dan Politik Menikah, Anaknya Bernama Konspirasi

Dalam beberapa bulan terakhir, rakyat Indonesia tampak semakin lucu. Netizen sempat heboh dengan kemunculan “Ustadz Segitiga” Ahmad Baiquni ketika mengklaim desain masjid Ridwan Kamil penuh dengan simbol-simbol Yahudi. Konspirasi segitiga tersebut ternyata laku keras mengingat banyak orang yang percaya dan kemudian mengamini dalih argumentasi Sang Ustadz. Setelah diteliti lebih lanjut, AB dan kroni-kroninya ternyata simpatisan dan pendukung garis keras salah satu pasangan calon di pertarungan pilres 2019.

Putusan MK yang awalnya diharapkan mampu meredam keretakan yang disisakan pemilu serentak selama beberapa bulan terakhir ternyata tidak cukup efektif. Dalih kecurangan yang didasarkan pada hal-hal yang juga berbau konspirasi ramai dijadikan argumen untuk menolak putusan sekaligus mempertanyakan keberimbangan MK. Isu-isu rasial dengan demikian masih berlanjut dan episode pertarungan yang menggunakan sentimen agama akan memasuki babak yang kita tidak tahu akan berakhir seperti apa.

Pada dasarnya, kesadaran yang dibangun dalam politik adalah kesadaran teologis sebagaimana yang ada dalam agama. al-Jabiri dalam al-‘Aqlus Siyasi menjelaskan:

والعقل السياسي يقوم، كما هو معروف منذ ارسطو، على الاعتقاد وليس على البرهان، وهو ليس عقل فرد بل عقل جماعة، انه المنطق الذي يحركها كجماعة. ومعروف ان منطق الجماعة يتاسس لا على مقاييس معرفية بل على رموز مخيالية تؤسس الاعتقاد والايمان

Politik dibangun di atas galian pondasi yang tidak menggunakan batu data dan ilmu pengetahuan, melainkan batu-batu akidah dan ayat-ayat keimanan yang memang ditujukan untuk melahirkan “dogmatisme politik”, fanatisme dan militansi kegilaan terhadap person atau partai.

Keyakinan akan “kebenaran” politis tidak dikonstruk layaknya keyakinan kita pada ukuran-ukuran koginitif-ilmiah kalau 1 + 1 = 2 atau jumlah total besaran sudut dalam segitiga itu 180 derajat. Tidak! Keyakinan politik dikonstruk mirip seperti keyakinan dalam beragama. Manusia tidak diperkenankan bertanya terlalu rinci dalam politik. Mereka hanya didorong untuk “ikut saja lah” kehendak partai dan pimpinannya.

Maka maklum biasanya yang dijual adalah imajinasi, bayang-bayang situasional dan angan-angan terhadap tatanan nilai yang selama ini selalu diimpikan.

Manusia mayoritas mengisi sholatnya dengan kesadaran bahwa hal itu adalah perintah Tuhan. Ia melakukan amal shalih dan menjauhi maksiat karena tahu itu termaktub dalam kitab suci dan difirmankan langsung oleh Tuhan. Ada juga manusia yang hanya mengisi sholatnya dengan ketakutan pada neraka dan keberharapan masuk surga. Level iman menentukan kualitas ibadah. Semakin kuat imannya, semakin hilang tata ukur rasionalitas dalam setiap amal yang dikerjakannya, semakin hilang pertimbangan-pertimbangan logika karena tujuan utamanya semakin jelas: Tuhan… Dzat Yang tak bisa direngkuh logika.

Dalam politik, semakin kuat level imannya, biasanya semakin gila dan banyak bohongnya. Jangan salah, di dalam partai-partai yang ada, mayoritasnya adalah orang-orang yang terdidik dan punya ijazah. Ada profesor, doktor/PhD, Magister dan seterusnya. Tapi lihat ketika tampil di TV; kebohongan, kegilaan dan kebodohan justru yang tampak. Mengapa? Lah wong lagi bela “agama” dan “tuhannya” kok. Jadi gak penting itu rasionalitas dan argumentasi berbasis data dan logika. Yang penting fanatik, militan dan dogmatis.

Nah legitimasi kemenangan pasca pemilu dan berikut dampak-dampak lainnya adalah hal yang biasa kalau kita ikuti bagaimana alur dogmatisme politik terbentuk. Jadi gak usah lah mereka itu dicaci bodoh, goblok dan dungu karena gak mau menerima kriteria kebenaran dalam metodologi survey sampai mereka harus membuat versinya sendiri, karena memang politik tidak menghendaki orang pintar menggunakan kepintaran dan potensi otaknya. Itu epistemenya.

Apa yang mereka lakukan adalah upaya menjaga dan merawat “imajinasi kolektif” yang dibekap pendukungnya. Itu memang tugas nabi dalam sebuah agama… Tugas tuhan! Artinya itulah memang tugas petugas partai apalagi ketum sekaligus capresnya. Sekerat imajinasi yang dibangun berdasarkan “ketidaksadaran kolektif” yang membentuk akidah politik dan keimanan elektoral.

Karakteristik cara kerja politik semacam ini akan menemukan batas maksimumnya ketika dikawinkan dengan agama. Kita tentu tidak bisa membayangkan apa yang bisa dihasilkan oleh perkawinan agama dan politik. Eskalasi yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir saja sudah terlalu menakutkan bagi kita yang terbiasa hidup dalam kedamaian. Seluruh kekacauan dan kerusakan pada akhirnya akan muncul, dan hal pertama yang menyulutnya adalah konspirasi dan provokasi.

Semoga bangsa kita senantiasa damai dan dilindungi oleh Allah SWT.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...