Beranda Keislaman Tafsir Ketika Al-Fatihah Mengajarkan Kerukunan dan Persatuan

Ketika Al-Fatihah Mengajarkan Kerukunan dan Persatuan

Harakah.idAl-Fatihah merupakan surat yang harus dibaca dalam ibadah shalat. Ternyata ia memiliki kandungan luar biasa. Al-Fatihah mengajarkan kerukunan dan persatuan. Bagaimana penjelasannya?

Setiap seorang muslim di dalam shalatnya selalu membuat pengakuan bahwa hanya kepada Allah ia menyembah dan memohon pertolongan. Pengakuan tersebut dilakukan ketika membaca surat al-Fatihah dalam ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.

Hal yang sering menjadi pertanyaan dalam pengakuan tersebut adalah “Mengapa pengakuannya menggunakan kata ganti ‘kami’ (untuk orang yang banyak), padahal ayat tersebut sedang dibaca oleh satu orang? Mengapa tidak menggunakan kalimat ‘Saya menyembah dan saya memohon pertolongan’?

Penggunaan kata ganti ‘kami’ di dalam ayat tersebut bukanlah tanpa alasan, tetapi terdapat beberapa alasan indah di balik penggunaan kata ganti ‘kami’. Berikut beberapa alasannya.

Pertama; penggunaan kata ganti ‘kami’ bertujuan untuk mengungkapkan kekurangan, kelemahan, dan kebutuhan seorang hamba kepada Tuhan-nya. Dalam hal ini, seakan-akan seorang hamba sedang berkata, “Ya Allah, ibadahku belum mampu mencapai tingkatan yang layak karena dalam setiap ibadahku masih dipenuhi berbagai macam kekurangan (riya’, ‘ujub, sum’ah, dan seterusnya). Oleh sebab itu, aku akan menggabungkannya dengan ibadah seluruh hamba lainnya lewat sebutan ‘kami’. Dengan harapan dari sekian banyak hamba-Mu yang ada di muka bumi, terdapat satu atau lebih di antara hamba-Mu yang beribadah dengan tulus”.  

Alasan yang pertama ini disampaikan oleh Abu al-Fadhl Syihabuddin Mahmud al-Alusi di dalam Ruh al-Ma’ani fi Tafsir Al-Quran al-Adzim wa al-Sab’ al-Matsani. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang hamba berdiri di hadapan Allah, berkomunikasi dengan-Nya (misalnya ketika shalat), lalu merendahkan diri di hadapan-Nya; maka hamba tersebut tak lagi berbicara sebagai individu, tetapi sebagai perwakilan dari keseluruhan. 

Kedua; penggunaan kata ganti ‘kami’ menunjukkan bahwa syariat telah menganjurkan kepada hamba-hamba Allah untuk mendoakan saudaranya sesama muslim. Selain itu, kata ‘kami’ juga menunjukkan simbol jama’ah dan kebersamaan, sebab ‘saya’ berarti sendiri dan ‘kami’ berarti bersama. Alasan ini dikatakan oleh Muhammad bin Umar bin Husain al-Razi di dalam at-Tafsir al-Kabir. Saling berkumpul (jamaah) antar sesama muslim dapat menjadi jalan kerukunan dan persatuan. 

Dengan berkumpul, seseorang dapat saling mengenal, saling berhubungan, saling meminta nasihat, saling meminta bantuan, saling mendiskusikan berbagai macam masalah, dan yang paling penting adalah saling mendoakan. Sesama muslim perlu terjalin rasa saling tolong-menolong, sebab hal ini sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad. Di dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, disebutkan bahwa Nabi Muhammad bersabda:

والله في عون العبد ما كان العبد في عون اخيه

Artinya: Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. (diambil dari kitab Shahih Muslim, hadits nomor 2699)

Ketiga; penggunaan kata ganti ‘kami’ merupakan cara terbaik untuk menyingkirkan diskriminasi berdasarkan warna kulit, suku, ras, maupun tanah asal. Tidak ada lagi seseorang yang berkata, “Aku berasal dari Suku Q, sementara kamu dari suku B. jadi, aku lebih mulia daripada kamu”. Juga tak ada lagi yang berkata, “Aku berasal dari tanah mulia, sedangkan kau dari tanah hina. Jadi, kau harus menghormatiku”. 

Semuanya telah utuh menjadi “Kami adalah hamba-Mu yang hanya menyembah-Mu dan memohon pertolongan kepada-Mu”. Kata ganti ‘kami’ adalah refleksi dari rasa saling menghormati, saling peduli, saling menyayangi, saling mengasihi, dan saling mencintai antar sesama muslim. Penyebutan ‘kami’ adalah lambang bahwa seluruh umat muslim di belahan bumi bagian manapun adalah saudara.

Demikian penjelasan singkat tentang al-Fatihah yang mengajarkan kerukunan dan persatuan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...