Beranda Keislaman Akhlak Ketika Gus Mus Ngaji Ihya Kepada Gus Ulil, Inilah Pelajaran Pentingnya

Ketika Gus Mus Ngaji Ihya Kepada Gus Ulil, Inilah Pelajaran Pentingnya

Harakah.id Kemudahan akses di era digital juga semakin membuat Gus Mus bersyukur. Karena kemudahan tersebut dapat menjadi wasilah bagi beliau untuk memperoleh pengetahuan dari kiai-kiai yang berada jauh di sana, termasuk kiai-kiai muda yang layak untuk diserap ilmunya.

Belum lama ini, K.H. Ahmad Mustofa Bisri menceritakan ihwal semangat beliau menimba ilmu. Melalui unggahan foto di akun Instagram pribadi, Ahad (20/07), Gus Mus menuliskan percakapan beliau bersama cucu terkasihnya, Muhammad Ravi Hamadah. Percakapan itu terjadi kala Gus Mus diketahuinya tengah menyimak Ngaji Ihya-nya Gus Ulil Abshar Abdalla, menantu Gus Mus.

Kemudahan akses di era digital juga semakin membuat Gus Mus bersyukur. Karena kemudahan tersebut dapat menjadi wasilah bagi beliau untuk memperoleh pengetahuan dari kiai-kiai yang berada jauh di sana, termasuk kiai-kiai muda yang layak untuk diserap ilmunya. Di antara kiai muda yang disebutkan beliau ialah; Gus Ulil Abshar Abdalla, Gus Bahauddin Nursalim, Kiai Syarofuddin, Kiai Yahya Kholil Staquf, dan lain sebagainya.

Kepada cucu terkasihnya, Gus Mus juga menjelaskan bahwa, “Orang mengaji, mencari ilmu, itu wajib bagi setiap orang. Tidak peduli umur dan kedudukannya. Mengaji, mencari ilmu, itu kepada kiai yang memiliki ilmu. Tidak peduli umur dan kedudukannya.”

Membaca caption yang dituliskan Gus Mus, membuat kami teringat dengan kisah Khalifah Muhammad bin Mansur Al-Mahdi yang mengakui kecerdasan anak berusia 16 tahun. Meski pada awalnya ia tampak menggerutu dan hendak menegurnya. Cerita ini dituturkan oleh Syekh Mutawali Asy-Sya’rawi melalui karya beliau yang berjudul Qashash Ash-Shahabah wa Ash-Shalihin.

Kisah ini terjadi ketika Muhammad bin Mansur Al-Mahdi sedang melakukan perjalanan menuju kota Makkah. Di tengah perjalannya, Khalifah ketiga Daulah Abbasiyah ini menjumpai banyak orang yang sedang berkumpul dan membentuk halaqah.

Karena penasaran, Khalifah Al-Mahdi beserta rombongannya pun berhenti untuk melihat apa yang sedang terjadi. Setelah mendekat, ia mengetahui bahwa di sana sedang ada pengajian agama. Ketika Khalifah Al-Mahdi sudah berada di antara para pengunjung lain, ia tertegun karena menyaksikan bahwa yang menjadi guru dalam halaqah tersebut adalah anak remaja yang baru berusia enam belas atau tujuh belas tahun.

Anak remaja yang menyampaikan pelajaran agama itu dikelilingi sekitar 400 orang tua yang tampak berwibawa dan terkesan lebih pantas untuk menyampaikan pelajaran. Bahkan sebagian di antara mereka sudah berhiaskan jenggot yang memutih di dagunya.

Masih dalam kondisi kaget akan apa yang terjadi, Al-Mahdi berguman, “Bagaimana orang-orang tua ini, tidak adakah di antara mereka yang lebih pintar, lebih berwibawa, lebih tua, dan lebih pantas dijadikan guru dari anak muda itu?”

Tak lama setelah pengajian usai, pimpinan Daulah Abbasiyah ini menghampiri dan hendak mengingatkan–atau bahkan memaki–anak yang dianggapnya telah lancang itu. Al-Mahdi memulainya dengan sebuah pertanyaan, “Berapa usiamu, wahai anak muda?”

Mendengar pertanyaan tersebut, anak itu lantas menghadapkan wajahnya untuk menatap Khalifah Al-Mahdi. Anak muda itu menjawab, “Usiaku sebagaimana usia Usamah bin Zaid, tatkala Rasulullah Muhammad memberinya kepercayaan untuk memimpin pasukan, padahal di antara pasukan itu ada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab.”

Sebagaimana diketahui, bahwa Usamah bin Zaid bin Haritsah terkenal sebagai panglima perang termuda dan sangat hebat, yang ditunjuk oleh Rasulullah, ketika beliau sedang sakit. Menurut sebagian riwayat, Usamah bin Zaid menerima titah tersebut ketika masih berusia 17 atau 18 tahun.

Jawaban cerdas anak remaja itu akhirnya kembali membuat Khalifah Al-Mahdi tertegun kepadanya. Beliau pun mengakui kecerdasan dan kepantasan anak itu untuk memberikan petuah-petuah keagamaan. Sebelum berpisah, Al-Mahdi mendoakannya, “Semoga Allah memberkahimu.”

Membaca kisah-kisah di atas, memberikan pelajaran kepada kita bahwa belajar jelas tak terbatas oleh usia. Begitu juga dalam memilih seorang guru, asal “layak” untuk diserap ilmunya, maka ia pantas untuk dijadikan guru. Kelayakan ini tentu saja berdasar pada kualitas keilmuannya, bukan sekadar kuantitas usianya. Terlebih, apabila bisa berguru kepada orang yang memiliki kualitas keilmuan, sekaligus kuantitas usia dan pengalamannya. Wallahu a’lam bis shawab.

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...