fbpx
Beranda Sajian Utama Ketika Kartini Belajar Islam dan al-Quran Kepada Kiai Soleh Darat

Ketika Kartini Belajar Islam dan al-Quran Kepada Kiai Soleh Darat

Harakah.id – Meskipun dikenal sebagai tokoh pembebasan perempuan dari budaya yang dianggap partiarki, Kartini ternyata masih memiliki prinsip kalau belajar agama harus kepada Kiai. Ini terbukti ketika beliau belajar al-Quran kepada Kiai Soleh Darat.

R. A. Kartini, nama yang menjadi lambang emansipasi perempuan Indonesia. Pahlawan Nasional perempuan yang berjuang mengupayakan emansipasi perempuan dalam hal mendapatkan pendidikan. Banyak tudingan kalau Kartini adalah tokoh yang sangat dekat dengan pihak Barat (Belanda/Penjajah), bahkan tak jarang Kartini di-stigma sebagai tokoh produk penjajah. Pandangan ini mungkin disebabkan karena Kartini sering berkirim surat dengan orang-orang Barat. 

Bahkan banyak yang memandang kalau Kartini hendak mengupayakan westernisasi (pembaratan) lewat upaya emansipasi perempuannya. Ini jelas anggapan yang keliru, sebagaimana ungkap Kartini dalam suratnya pada Nyonya Abendanon, “Kami sekali-kali tiada hendak menjadikan murid-murid kami jadi setengah orang Eropa, atau orang Jawa kebelanda-belandaan. Maksud kami dengan mendidik bebas (emansipasi pendidikan bagi perempuan), ialah terutama sekali akan menjadikan orang Jawa (Indonesia) itu, orang Jawa (Indonesia) yang sejati, orang Jawa (Indonesia) yang berjiwa karena cinta dan gembira akan tanah air dan bangsanya, yang senang dan gembira melihat kebagusan, bangsa dan tanah airnya….

Selain sebagai perempuan Indonesia yang punya jiwa nasionalisme yang tinggi, Kartini juga adalah muslimah yang percaya pada Allah swt, bahkan Kartini juga merupakan seorang santriwati yang punya semangat ngaji Islam yang tinggi. 

Banyak yang belum begitu tahu, kalau Kartini adalah murid Mbah Sholeh Darat–seorang ulama besar dari Jawa. Mbah Soleh Darat juga merupakan gurunya Hadratuseikh Kiai Hasyim Asy’ari. Sehingga kita bisa berkata kalau Kartini dan Kiai Hasyim adalah saudara satu guru.

nucare-qurban

Kartini punya hasrat yang sangat tinggi untuk bisa memahami isi al-Qur’an yang dia baca. Ini bisa dilihat dari perkataan Kartini dalam suratnya: “Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Qur’an, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar di sini membaca, tetap[i] tidak diajarkan makna yang dibacanya itu. Sama saja engkau mengajar aku membaca kitab (buku) bahasa Inggris, aku harus hafal semuanya, sedangkan tiada kata sepatah juapun yang kau terangkan artinya kepadaku. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati….

Baca Juga: Soekarno, Kiai Basari Sukangera dan Ayam Panggang Bumbu Kemiri

Kritik Kartini yang luar biasa terhadap metode belajar mengaji waktu itu, berasal dari dorongan kuat hatinya untuk bisa memahami al-Qur’an. Sebab Kartini mau belajar Islam yang sebenarnya, biar tak hanya sekadar Islam keturunan saja. Kritik Kartini ini juga mengajarkan agar tak hanya membaca atau menghafal al-Qur’an saja, namun juga harus berusaha mempelajari dan memahami isi al-Qur’an.

Konon, salah satu alasan yang mendorong Mbah Sholeh Darat menyusun tafsir al-Qur’an bahasa Jawa, adalah karena dorongan dari keinginan Kartini tersebut. Sehingga Mbah Sholeh Darat pun memberikan hadiah kitab tafsir al-Qur’an bahasa Jawanya pada Kartini.

Kata Kartini dalam suratnya: “Wahai! Sangat benar gembira hati orang-orang tua karena kami yang tersesat, telah balik kepada jalan yang benar, sangatlah mengharukan hati kami. Seorang tua di sini karena girangnya, menyerahkan kepada kami semua kitab-kitabnya naskah bahasa Jawa, banyak pula yang ditulis dengan huruf Arab. Kami pelajari kembali membaca dan menulisnya.” 

Nampak kalau Kartini sangat gembira, sebab bisa belajar memahami isi al-Qur’an lewat kitab berbahasa Jawa. Jadi, Kartini adalah seorang santriwati yang belajar pada ulama besar di Jawa yaitu Mbah Soleh Darat, selain itu Kartini juga punya semangat ngaji Islam yang sangat tinggi. Semangat yang hari ini mulai luntur di kalangan anak muda Indonesia. 

Meskipun dalam surat Kartini tak disebutkan nama kitab dan siapa orang tua yang memberikan kitab berbahasa Jawa padanya. Namun, saya menduga kalau yang dimaksud Kartini adalah guru ngajinya Mbah Sholeh Darat dan kitab itu adalah tafsir bahasa Jawa yang disusun Mbah Sholeh Darat.

Dan dari kerisauan Kartini untuk bisa benar-benar memahami isi al-Qur’an, juga bisa menjadi pelajaran untuk kita agar tak hanya sekadar membaca al-Qur’an namun juga berusaha memahami maknanya. Tentu upaya memahami isi al-Qur’an tak hanya sekadar lewat Kiai Google, namun sebagaimana Kartini memahaminya lewat kitab tafsir bahasa Jawa plus dengan guru mumpuni yang adalah ulama besar tanah Jawa waktu itu.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.id - Ketika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu...

Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

Harakah.id - Sedang marak berita penahanan Vicky Prasetyo. Meski kontroversial, Vicky tetap bisa kita jadikan acuan soal etika beragama. Dalam sebuah...

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...