Beranda Sajian Utama Ketika Kiai Hasyim Bekerjasama dengan Kolonial Jepang Agar Santri Bisa Latihan Militer

Ketika Kiai Hasyim Bekerjasama dengan Kolonial Jepang Agar Santri Bisa Latihan Militer

Harakah.idBeberapa kali Hadratussyeikh Hasyim Asyari bekerjasama dan menunjukkan sikap kooperatif dengan Penjajah Jepang. Bukan tanpa alasan. Kiai Hasyim selalu mendasarkan keputusannya kepada kaidah fikih.

Tujuan dan sarana untuk mencapai tujuan adalah dua hal berbeda meskipun keduanya saling melengkapi dan berkorelasi. Tujuan tidak akan tercapai dengan baik tanpa melewati jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap jalan yang dapat mengantarkan pada kebaikan dan menjauhkan kita dari keburukan mesti ditempuh dan dilakukan. Sementara jalan yang bisa mendatangkan kemudaratan dan kerugian harus dijauhi. Hukum melalui jalan tersebut didasarkan pada tujuannya.

‘Izzuddin Ibn ‘Abdul Salam menjelaskan dalam Syajarah al-Ma’arif, dibolehkan melakukan perbuatan yang dilarang syariat selama tujuannya baik dan diyakini kemaslahatannya lebih besar daripada kemudaratannya. Misalnya, dibolehkan berbohong untuk mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan dan bertengkar. Meskipun berbohong dilarang syariat, tetapi pada situasi tertentu dibolehkan bohong asalkan tujuannya baik. Hal ini boleh dilakukan selama kemaslahatannya lebih besar dibanding kemudaratannya.

Dalam fikih ada sebuah kaidah:

كُلُّ سَبَبٍ فِيْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ أَضْدَادِ الْمَفَاسِدِ فَهُوَ وَاجِبٌ شَرْعًا

Kullu sababin fi jalbil mashalih adhdadil mafasid fahuwa wajibun syar’an

(Setiap sesuatu yang dapat mengantarkan pada kemaslahatan dan menghindari kemudaratan dihukumi wajib menurut syariat)

KH. Hasyim Asy’ari semasa hidupnya pernah beberapa kali bekerjasama dengan Jepang. Sebagaimana diketahui, setelah Belanda menguasai Indonesia, tentara Jepang menduduki beberapa wilayah di Indonesia dan melakukan penjarahan. Pada waktu itu, penjajah Jepang membuat program latihan militer untuk santri. Program ini disetujui oleh Mbah Hasyim dan beliau menyuruh santri untuk ikut latihan militer.

Persetujuan Mbah Hasyim ini dipermasalahkan oleh beberapa santrinya. Seharusnya yang dilakukan adalah melawan dan mengusir penjajah, bukan malah bekerjasama dengan mereka. Kita dapat membayangkan betapa kontroversialnya kebijakan Mbah Hasyim pada waktu itu. Di saat orang-orang mengutuk penjajahan Jepang, beliau malah kooperatif dengan mereka.

Sebagian orang mungkin tidak sepakat dengan ide ini dan mempermasalahkannya, sebab tidak semua orang bisa memahami jalan pikiran Mbah Hasyim. Kebijakan Mbah Hasyim tidak jauh berbeda dengan kebijakan Nabi Muhammad ketika menandatangani perjanjian Hudaibiyyah. Perjanjian Hudaibiyyah dinilai oleh Umar Ibn Khattab merugikan umat Islam dan beliau memarahi Nabi.

Seorang pemimpin mesti berpikir jauh ke dapan melebihi pemikiran para pengikutnya. Dia bisa saja memutuskan kebijakan yang tidak masuk akal bagi pengikutnya selama kebijakan itu menghasilkan kemaslahatan. Terbukti kebijakan Nabi Muhammad  terkait perjanjian Hudaibiyah justru banyak menguntungkan umat Islam. Demikian pula kebijakan Mbah Hasyim ‘Asy’ari tentang program latihan militer pada gilirannya membawa berkah bagi kaum santri.

Bagaimana tidak, setelah Jepang menyerah pada kekuatan sekutu, Belanda (NICA) membawa para sekutunya untuk melancarkan agresi militer kedua. Agresi ini dilakukan untuk merebut dan menjajah kembali Indonesia. Dikarenakan para santri sudah mengikuti pelatihan militer, mereka mampu menghadang kekuatan Belanda dan mengusirnya dari Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, Mbah Hasyim mengeluarkan fatwa resolusi Jihad yang berpengaruh besar pada perlawanan kaum santri terhadap pasukan sekutu.

Kalau santri tidak dilatih militer oleh Jepang dan Mbah Hasyim tetap melakukan perlawanan, niscaya tenaga umat Islam tidak memadai untuk mengusir agresi militer kedua. Kembalinya sekutu untuk menjajah Indonesia tampaknya sudah dipikirkan oleh Mbah Hasyim, sehingga beliau memilih kompromi dengan Jepang. Sikap kompromi tersebut nyatanya membuahkan hasil manis bagi masyarakat Indonesia.  Dengan demikian, berdasarkan kaidah di atas, kompromi dengan kolonial dibolehkan selama terdapat kemaslahatan dan tidak resikonya sangat kecil.

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...