fbpx
Beranda Sajian Utama Ketika Kiai Hasyim Bekerjasama dengan Kolonial Jepang Agar Santri Bisa Latihan Militer

Ketika Kiai Hasyim Bekerjasama dengan Kolonial Jepang Agar Santri Bisa Latihan Militer

Harakah.idBeberapa kali Hadratussyeikh Hasyim Asyari bekerjasama dan menunjukkan sikap kooperatif dengan Penjajah Jepang. Bukan tanpa alasan. Kiai Hasyim selalu mendasarkan keputusannya kepada kaidah fikih.

Tujuan dan sarana untuk mencapai tujuan adalah dua hal berbeda meskipun keduanya saling melengkapi dan berkorelasi. Tujuan tidak akan tercapai dengan baik tanpa melewati jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap jalan yang dapat mengantarkan pada kebaikan dan menjauhkan kita dari keburukan mesti ditempuh dan dilakukan. Sementara jalan yang bisa mendatangkan kemudaratan dan kerugian harus dijauhi. Hukum melalui jalan tersebut didasarkan pada tujuannya.

‘Izzuddin Ibn ‘Abdul Salam menjelaskan dalam Syajarah al-Ma’arif, dibolehkan melakukan perbuatan yang dilarang syariat selama tujuannya baik dan diyakini kemaslahatannya lebih besar daripada kemudaratannya. Misalnya, dibolehkan berbohong untuk mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan dan bertengkar. Meskipun berbohong dilarang syariat, tetapi pada situasi tertentu dibolehkan bohong asalkan tujuannya baik. Hal ini boleh dilakukan selama kemaslahatannya lebih besar dibanding kemudaratannya.

Dalam fikih ada sebuah kaidah:

كُلُّ سَبَبٍ فِيْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ أَضْدَادِ الْمَفَاسِدِ فَهُوَ وَاجِبٌ شَرْعًا

Kullu sababin fi jalbil mashalih adhdadil mafasid fahuwa wajibun syar’an

nucare-qurban

(Setiap sesuatu yang dapat mengantarkan pada kemaslahatan dan menghindari kemudaratan dihukumi wajib menurut syariat)

KH. Hasyim Asy’ari semasa hidupnya pernah beberapa kali bekerjasama dengan Jepang. Sebagaimana diketahui, setelah Belanda menguasai Indonesia, tentara Jepang menduduki beberapa wilayah di Indonesia dan melakukan penjarahan. Pada waktu itu, penjajah Jepang membuat program latihan militer untuk santri. Program ini disetujui oleh Mbah Hasyim dan beliau menyuruh santri untuk ikut latihan militer.

Persetujuan Mbah Hasyim ini dipermasalahkan oleh beberapa santrinya. Seharusnya yang dilakukan adalah melawan dan mengusir penjajah, bukan malah bekerjasama dengan mereka. Kita dapat membayangkan betapa kontroversialnya kebijakan Mbah Hasyim pada waktu itu. Di saat orang-orang mengutuk penjajahan Jepang, beliau malah kooperatif dengan mereka.

Sebagian orang mungkin tidak sepakat dengan ide ini dan mempermasalahkannya, sebab tidak semua orang bisa memahami jalan pikiran Mbah Hasyim. Kebijakan Mbah Hasyim tidak jauh berbeda dengan kebijakan Nabi Muhammad ketika menandatangani perjanjian Hudaibiyyah. Perjanjian Hudaibiyyah dinilai oleh Umar Ibn Khattab merugikan umat Islam dan beliau memarahi Nabi.

Seorang pemimpin mesti berpikir jauh ke dapan melebihi pemikiran para pengikutnya. Dia bisa saja memutuskan kebijakan yang tidak masuk akal bagi pengikutnya selama kebijakan itu menghasilkan kemaslahatan. Terbukti kebijakan Nabi Muhammad  terkait perjanjian Hudaibiyah justru banyak menguntungkan umat Islam. Demikian pula kebijakan Mbah Hasyim ‘Asy’ari tentang program latihan militer pada gilirannya membawa berkah bagi kaum santri.

Bagaimana tidak, setelah Jepang menyerah pada kekuatan sekutu, Belanda (NICA) membawa para sekutunya untuk melancarkan agresi militer kedua. Agresi ini dilakukan untuk merebut dan menjajah kembali Indonesia. Dikarenakan para santri sudah mengikuti pelatihan militer, mereka mampu menghadang kekuatan Belanda dan mengusirnya dari Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, Mbah Hasyim mengeluarkan fatwa resolusi Jihad yang berpengaruh besar pada perlawanan kaum santri terhadap pasukan sekutu.

Kalau santri tidak dilatih militer oleh Jepang dan Mbah Hasyim tetap melakukan perlawanan, niscaya tenaga umat Islam tidak memadai untuk mengusir agresi militer kedua. Kembalinya sekutu untuk menjajah Indonesia tampaknya sudah dipikirkan oleh Mbah Hasyim, sehingga beliau memilih kompromi dengan Jepang. Sikap kompromi tersebut nyatanya membuahkan hasil manis bagi masyarakat Indonesia.  Dengan demikian, berdasarkan kaidah di atas, kompromi dengan kolonial dibolehkan selama terdapat kemaslahatan dan tidak resikonya sangat kecil.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.id - Ketika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu...

Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

Harakah.id - Sedang marak berita penahanan Vicky Prasetyo. Meski kontroversial, Vicky tetap bisa kita jadikan acuan soal etika beragama. Dalam sebuah...

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...