Beranda Khazanah Ketika Majalah Tempo Justru Menyalahkan Korban Kekejaman PKI

Ketika Majalah Tempo Justru Menyalahkan Korban Kekejaman PKI

Harakah.idPada 2012, Majalah Tempo menerbitkan laporan tentang kekejaman para pihak yang terlibat dalam pembantaian anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965. Para pihak yang dituduh, terutama adalah kalangan Nahdlatul Ulama (NU) beserta jaringan organisasinya seperti Gerakan Pemuda Ansor.

Pada 2012, Majalah Tempo menerbitkan laporan tentang kekejaman para pihak yang terlibat dalam pembantaian anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965. Para pihak yang dituduh, terutama adalah kalangan Nahdlatul Ulama (NU) beserta jaringan organisasinya seperti Gerakan Pemuda Ansor.

Merespon upaya penyudutan NU sebagai pelaku pembataian anggota PKI oleh Majalah Tempo, para intelektual NU tergerak menulis balik rangkaian sejarah yang dinilai lebih adil dan komprehensif. Tidak berat sebelah. Para intelektual NU menyebut bahwa sejatinya, NU dan anggotanya adalah korban dari kekejaman PKI.

Jika penumpasan PKI dianggap bentuk kekejaman, maka pembantaian yang dilakukan PKI dalam periodesasi sejarah juga harus disebut kekejaman. Dalam diskursus media, kebijakan redaksi Majalah Temo adalah bentuk “Blaming the Victims”. Upaya menyalahkan korban.

Berikut ini adalah tanggapan Ahmad Baso, intelektual NU, pada 2012 lalu tentang upaya “memperkarakan korban” yang dilakukan oleh Majalah Tempo.

NU, PKI, 1965: JANGAN CONTOH POLITIK “BLAMING THE VICTIMS”-NYA majalah TEMPO

Seberapa besar Anda tahu tentang 1965 dan peran NU dalam pembersihan PKI? Baca misalnya satu dokumen intel Angkatan Darat tanggal 30 November 1965 yang menyebut soal joint action bersama Ansor di Jawa Timur menumpas PKI. Ternyata sikap AD terhadap Ansor ada dua. Ada Ansor binaan AD, dan Ansor binaan kiai. Ada satu kejadian dimana di Pare, Kediri, Jawa Timur, dua Ansor ini bertemu.

Ansor kader kiai mengumpulkan para petani yang dituduh kader PKI untuk diberikan lambang Ansor dan NU supaya mereka selamat dari pembersihan oleh tentara. Tapi Ansor kader TNI AD datang bersama tentara AD membawa pasukan ratusan. Mereka kemudian menghajar para petani tersebut. Korban tewas sekitar 300 orang. Lihat dokumen itu dalam versi Inggris dalam Laporan Intel dari Jawa Timur pasca Kup 1965, “Report from East Java”, diterbitkan oleh Jurnal Indonesia (Cornell) No. 41 April 1986. Adakah yg menelusuri sejarah ini dan tidak sekedar nuduh NU secara total sebagai pelaku pembantaian?

Ada lagi satu buku yang ditulis Ernst Utrecht, Onderbroken Revolutie In Het Indonesische Dorp (1974), yang bercerita tentang mobilisasi kiai-kiai oleh tentara dan mereka dikumpulkan di Pesantren Gontor pada November 1965. Para kiai diminta untuk segera anti-PKI dan memusnahkan mereka. Para kiai tidak setuju, dan akhirnya pertemuan bubar tanpa hasil. Waktu itu, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Idham Chalid yang mempelopori penolakan itu.

Tentara yang bergerak dengan dana dari Amerika itu, tidak kehilangan akal. Ia datangi kiai kai lokal yang punya memori kurang bagus tentang PKI sewaktu ada kejadian aksi sepihak oleh BTI. Di antaranya mereka mendatangi Kiai Mahrus Lirboyo dan Kiai Shiddiq Jember. Maka terjadilah mobilisasi oleh kiai di bawah koordinasi tentara untuk aksi pengganyangan tersebut.

Satu lagi, soal aksi sepihak BTI/PKI. Menggapa aksi sepihak land reform itu digerakkan di Jawa Timur dan menyasar kiai-kiai kita? Bukan misalnya menyasar lahan-lahan milik tentara di Jawa atau tanah tanah okupasi perusahaan perusahaan Amerika di Sumatera pesisir timur dan di daerah lainnya? Apakah memang ingin memancingkan kemarahan kiai terhadap PKI yg suatu saat bisa diledakkan? Ini harus dicari. Tulisan-tulisan Arnold Brackman, The Communist Collapse in Indonesia, Guy Peuker dan Donald Hindley, sudah menargetkan pertengkaran itu di desa-desa dengan menyasar pertengkaran antar massa pedesaan. Dan itu jelas NU dan massa PKI. Jadi, G30S adalah momentum untuk membenarkan adanya aksi pembersihan.

Dulu NU, pesantren dan PKI sering joinan. Ada kiai komunis, ada pula kiai aktivis PKI. Aktifis PKI tahun 1926 di Banten msialnya, kebanyakan adalah haji dan kiai. Kiai Achmad Chatib misalnya adalah Prseiden Agama PKI Cabang Banten. Contohnya juga adalah Kiai Ahmad Dasuki Siraj, anggota PKI dari Solo dan kolega Kiai Wahab Chasbullah di Konstituante. Mereka ini joinan menentang ide Masyumi dalam Konstituante menolak negara Islam, dan keduanya mengutuk pemberontakan DI/TII-nya Kertosuwiryo. Sementara Masyumi membela DI/TII dengan alasan PKI adalah ancaman. Kiai Wahab ketawa aja dengerin ini.

Ada pula faktor orang-orang Masyumi yang sakit hati kepada PKI, dan juga kepada NU karena terlalu akrab dengan Sukarno, dengan PKI dan orang-orang pesantren dikenal banyak menyudutkan Masyumi. Bos-bos Masyumi yang ikut PRRI didukung oleh jaringan PSI-Amerika dengan pentolannya Sumitro Djojohadikusumo.

Dalam penumpasan PRRI di Sumatera, tentara-tentara pro-PKI banyak mempermalukan orang-orang Masyumi di sana. Muncul dendam kemudian terhadap PKI. Dan itu ditumpahkan di Jawa. Caranya, dengan pola permainan konflik komunal yg sering dipakai oleh kalangan puritan muslim hingga kini dengan aliansinya dengan orang-orang PSI-Amerika. Mereka bikin mobilisasi di kalangan kiai bahwa PKI ateis, dan suka menghina Islam. Ada kasus yang mereka ledakkan di Jawa Timur: Kanigoro. Maka terjadilah konflik dan ketegangan.

Ada satu yg bikin aneh: kemunculan Syam kamaruzzaman, yang dulunya dikader Sjahrir, bos PSI-Amerika, di Yogyakarta. Ini yg harus dilacak. Orang ini yang membuat PKI beringas dan anti kiai di tahun 1960-an. Aidit pun terpancing dengan provokasinya sehingga berani menyebut kiai sebagai salah satu “setan desa”! Gila!

Jadi narasi seperti apa yang harus ditampilkan sehingga kini muncul bahwa NU-lah pelaku pembunuhan orang-orang PKI? Dan jangan harap TEMPO akan membuat laporan yang menguntungkan orang-orang pesantren. Karena dalam kasus 1965, para suhu dan bos-bos TEMPO memang terkait dan diuntungkan dengan aksi pembersihan itu (PKI) dan pasca pembersihan (peminggran NU). Sudah dipinggirkan, sudah dikalahkan di era Orde Baru, eh malah dituduh lagi sebagai pelaku pembersihan terhadap saudara-saudaranya.

Demikian tanggapan intelektual NU tentang laporan Majalah Tempo soal keterlibatan NU dalam pembersihan PKI. Kekejaman PKI dan perlawanan kelompok NU memiliki latar belakang politik yang keras. Persaingan antara kelompok tentara, kelompok Islam, nasionalis dan komunis dalam merebut pengaruh politik di Indonesia. Semoga kekejaman PKI di masa lalu dapat menjadi pelajaran penting bagi masa depan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...