Ketika Masyarakat Arab Menganggap Bulan Safar Adalah Bulan Sial, Rasulullah Justru Menikahi Khadijah di Bulan Tersebut

0
337
Ketika Masyarakat Arab Menganggap Bulan Safar Adalah Bulan Sial, Rasulullah Justru Menikahi Khadijah di Bulan Tersebut

Harakah.idBulan Safar masih diliputi banyak mitos. Salah satunya adalah, bahwa Bulan Safar adalah bulan sial. Benarkan Demikian?

Benarkah Bulan Safar bulan sial?

Masyarakat keturunan arab mulanya berasal dari dua golongan besar. Pertama, golongan Qathan yang berada di wilayah selatan. Kedua, keturunan Ismail bin Ibrahim yang berada di kawasan utara. Kedua golongan ini berbaur akibat dari perpindahan penduduk. Dalam catatan sejarah yang ditulis oleh Azyumardi Azra menyebutkan bahwa arab merupakan kota kosmopolitan, pasar barter, dan persimpangan jalan yang dilalui para kafilah. 

Martin Link dalam bukunya menyebutkan bahwa orang pertama yang membangun rute perjalanan perjalanan besar kafilah mekkah adalah Hasyim, leluhur Nabi Muhammad. Kafilah pada musim dingin ke Yaman dan kafilah musim panas ke barat laut arab, dan di antara dua musim itu ke Palestina dan Suriah. 

Setelah ditetapkannya kalender Islam pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab, maka butuh penamaan dari masing-masing bulan. Penamaan ini tentu bukan tanpa alasan. Ada makna yang tersimpan dibalik itu semua. Pada bulan ini, orang arab sering melakukan perjalanan, baik dalam rangka berdagang atau lainnya. Dalam kitab Lisanul Arab, Ibnu Mandzur menyebutkan bahwa penduduk arab keluar mekkah dalam rangka berdagang.

Dalam teks yang lain, penulisan term safar dalam penamaan Bulan Safar menggunakan huruf “shad” yang bermakna kosong. dalam artian rumah penduduk mekkah kosong ditinggal pergi dalam rangka berperang. masyarakat Arab terbiasa berperang pada bulan ini, banyak terjadi peperangan antar kabilah. Kabilah yang kalah akan dirampas harta bendanya sehingga mereka tidak lagi memiliki harta, itulah mengapa bulan ini dinamakan bulan Shafar atau kosong. Berbeda dengan bulan-bulan lain yang diharamkan untuk berperang, seperti bulan Muharram, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan bulan Rajab.

Selain itu orang Arab Jahiliyah berpendapat bahwa Safar berarti penyakit yang bersarang di dalam perut, akibat dari adanya sejenis ulat besar yang sangat berbahaya. Pendapat lain menyatakan Safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit. Terutama rabu terakhir dalam bulan ini yang kita kenal dengan sebutan rabu wekasan. Selanjutnya, ada anggapan untuk tidak boleh menggelar kegiatan penting di Bulan Safar, seperti pernikahan, khitan, dan lainnya. 

Pendapat lain mengatakan bahwa orang-orang Arab dahulu menganggap sial bulan shafar. Mereka memiliki kebiasaan mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, karena anggapan bahwa bulan safar adalah bulan sial, maka mereka menganggapnya bulan haram yang tidak diperkenankan untuk berperang. Sedangkan bulan muharram adalah bulan yang baik untuk berperang.

Dalam buku “12 Bulan Mulia-Amalan Sepanjang Tahun” yang ditulis oleh Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny menyebutkan bahwa orang-orang Arab Jahiliyah menggunakan bulan Safar untuk meramal. Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Malik ra, bahwa penduduk Jahiliyah meramalkan nasib dengan Safar.

Dari Ibn ‘Abbas, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan, tidak ada sial burung hantu dan tak ada sial bulan Shafar.” [HR. Abu Dawud]

Yang dimaksud dengan tidak ada burung hantu sebagaimana yang dipaparkan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa orang-orang Arab dahulu kala sering merasa sial dengan adanya burung hantu. Mitos yang berkembang mengatakan bahwa ruh orang yang terbunuh tanpa diketahui pembunuhnya akan berubah menjadi burung hantu.

Namun, setelah datangnya agama islam semua mitos tersebut dibantah dengan hadits nabi. Beliau menyebutkan bahwa mitos seperti itu hanya dibangun oleh masyarakat jahiliyah sehingga terjadi penyimpangan keyakinan. 

Puncak dari bentuk bantahan Nabi terhadap mitos yang berkembang di masyarakat adalah ketika Nabi Muhammad melaksanakan pernikahan dengan Sayyidah Khadijah pada Bulan Shafar. Maka, dari sinilah dimulai dakwah Nabi. Meski pernikahan ini sebelum masa kenabian, ini memberi bukti kuat bahwa asumsi yang dianut penduduk mekah waktu itu tidaklah benar. Juga, hal ini untuk menepis segala kemungkinan yang tidak baik. Pada bulan ini, bisa dikatakan sebagai bulan the best wedding Nabi Muhammad. Jika tidak karena bantuan istrinya, Khadijah, mungkin agama islam tidak seperti sekarang. Nabi Muhammad ketika mengalami masa sulit, dicemooh, disakiti dan dikucilkan kaumnya, istrinya tidak pernah lepas dari segala bentuk perhatian kepada Nabi Muhammad. Segala perjuangan nabi dalam penyebaran islam tidak lepas dari bantuan istrinya. Baik berbentuk kasih sayang maupun finansial.

Siapa yang tidak tahu sayyidah khadijah, janda kaya yang akhirnya menikahi lelaki berusia 25 tahun. Dirinya sadar bahwa usia bukanlah tentang angka, namun lelaki yang berani meminangnya adalah lelaki yang tidak cacat sama sekali, baik cacat secara fisik maupun psikis. Perhatiannya tidak berkurang sama sekali. Dirinya tahu bahwa dakwah yang dibawa suaminya adalah benar, maka tugas seorang istri adalah membantu juang dakwah suaminya. 

Lain lagi dengan pernikahan Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi Muhammad sekaligus menantunya. Ali menikahi putri nabi pada bulan shafar juga. Oleh karenanya pada bulan ini terjadi bets wedding terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Pernikahan Nabi terbaik dengan Khadijah dan pernikahan Ali dengan Fatimah az-Zahra’.