Ketika Mbah Maimun Zubair Iri Sama Orang Bodoh, Cerita Gus Baha Tentang Nikmatnya Kebodohan

0
1973
Ketika Mbah Maimun Zubair Iri Sama Orang Bodoh, Cerita Gus Baha Tentang Nikmatnya Kebodohan

Harakah.id Cerita Gus Baha tentang nikmatnya jadi orang bodoh dan tidak tahu. Dalam sebuah kesempatan, Gus Baha juga bercerita kalau Mbah Moen juga pernah iri sama orang bodoh.

Dalam konsep taklif, tahu dan tidak tahunya seseorang berpengaruh pada konsekuensi hukum yang akan diterima. Orang yang tahu kalau makan daging anjing itu haram akan berdosa jika ia tetap memakannya. Tapi mereka yang tidak tahu, tidak mendapatkan dosa. Tidak tahunya seseorang akan hukum makan daging anjing, bisa saja memang dia tidak pernah diajari sebelumnya, atau tidak tidak tahu kalau makanan yang dia makanan mengandung unsur anjing.

Dengan kata lain, semakin tidak tahu, sebenarnya manusia semakin tenang hidupnya. Beda dengan mereka yang tahu dan paham ilmunya. Ada seperangkat aturan yang harus dipatuhi yang membuat mereka terus mempertimbangkan dan menganalisa keadaan. Pada titik inilah, jadi orang bodoh sebenarnya lebih mampu membawa ketenangan… hehe

Dalam sebuah pengajian, Gus Baha juga mengakui hal tersebut. Tidak hanya itu, gurunya, alm. Kiai Maimun Zubair, juga pernah mengaku kepada Gus Baha kalau beliau pernah iri sama orang bodoh. Ini dia cerita Gus Baha,

“Jare mbah Moen kulo sek iling, “aku ki kadang iri Ha bek wong goblok”. Tau Mbah Moen jaman masih kiai anyaran rombongan wali, neng tanjakan bise macet. Iku Mbah Moen karena pengalaman iku wedi, nak rime blong piye? Iku wong diso tuueenang ae pas macet di hand rem tuenang. Seng jajan mangan jajan, santae. Ditakoi Mbah Moen, “kowe kok santai? Iki nek glundung piye? Mpun dipikir supir mbah. Hahahaha…”

“Kata Mbah Moen yang masih saya ingat, ‘aku itu kadang iri sama orang bodoh, Ha.’ Sewaktu beliau jadi kiai di masa-masa awal pernah memimpin rombongan ziarah Walisongo. Tepat di tanjakan, busnya macet. Karena orang pengalaman, Mbah Moen ketakutan, ‘kalau remnya blong bagaimana?’ orang-orang kampong tenang-tenang aja, santai. Yang makan jajan, ya tetap makan. Ditanya oleh Mbah Moen, ‘kamu ini kok santai? Ini kalau bisnya terguling bagaimana?’ ‘Sudah dipikir supirnya, Mbah…’ hahaha…”

Dalam cerita Gus Baha itu kita bisa melihat beberapa hal. Pertama posisi Mbah Moen sebagai orang yang tahu, dan jamaah orang-orang desa yang tidak tahu. Karena tahu teori dan konsepnya, kalau rem bis blong ketika di tanjakan, bis akan terguling, Mbah Moen gelisah. Mbah Maimoen khawatir kalau itu akan berbahaya. Sedangkan orang-orang kampung tetap santai. Pertama karena memang tidak begitu memahami detail situasinya. Mereka dengan pasrah menyerahkan urusan bis kepada supirnya.

Karena ini Mbah Moen iri. Betapa tenang dan tawakkalnya menjadi orang bodoh. Mereka bisa dengan tetap santai dan tenang menjalani hidup meski terkadang situasi mencekam ada di hadapannya. Dengan cara pandang yang sederhana dan kemampuan untuk memahami situasi dari garis besarnya saja, orang-orang kampong dengan tenang dan santai menyerahkan urusan kepada orang yang mereka percaya; supir! Heuheu…

Lalu Mbah Moen bikin perumpaan, yang juga disampaikan Gus Baha,

“sek sek tak takoi, Ha, “lha kowe mikir mlebbu suargo opo ora?” lho iku kan dipikir jenengan gus wong jenengan kiaine. Hahaha…”

“Coba kamu nanya, Ha, “Kamu itu apa ndak mikir masuk surge atau neraka nanti? [mereka pasti jawab] Lho itu kan dipikir jenengan Gus. Kan jenengan kiainya! Hahaha…”

Kesederhanaan dan simplisitas yang menjadi karakter berpikir masyarakat awam adalah sumber bagi segala bentuk kesantaian-kesantaian dan ketenangan mereka dalam menjalani hidup. Maka tidak heran kalau orang-orang desa punya komitmen untuk pasrah dan tawakkal jauh lebih besar dibanding kelompok masyarakat yang secara pendidikan jauh lebih tinggi.

Gus Baha lalu memberikan bukti betapa santainya orang bodoh,

“Coba wong goblok Indonesia iku dipikir pakar seng doctor. Ono ruapat tenanan untuk mengentas kemiskinan. Seng mlarat suantaai ngopi roko’an, hahahaha…

“Coba orang bodoh Indonesia, itu dipikir pakar-pakar yang doktor. Ada rapat serius untuk mengentaskan kemiskinan. Yang miskin justru suantaai ngopi dan rokoan. Hahaha…”

Tentu cerita Gus Baha bukan soal anjuran dan ajakan untuk menjadi orang yang bodoh. Apa yang dijelaskan Gus Baha adalah soal bagaimana kelompok-kelompok masyarakat bawah yang biasa dikategorikan “bodoh” dan “miskin” tetap dirangkul, utamanya dalam soal beragama dan beribadah.

Jadi ndak bisa misalnya kita mendakwahkan Islam yang ideal untuk kelas masyarakat kampung yang sudah capek nyangkul dan bajak sawah. Agama selamanya harus ditampilkan sederhana, mudah dan riang gembira. Ketika kehidupan dunia sudah bikin ruwet, jangan sampai agama juga dianggap bikin ruwet. Dunia sudah gak hasanah, akhirat pun dibikin susah hasanah; kan kleru?! heuheu…