Beranda Keislaman Hadis Ketika Orang yang Berhijrah Mengharamkan Musik, Ternyata Rasulullah SAW Membolehkan, Ini Hadisnya

Ketika Orang yang Berhijrah Mengharamkan Musik, Ternyata Rasulullah SAW Membolehkan, Ini Hadisnya

Harakah.id Beberapa hari belakangan, sosial media diramaikan dengan pernyataan seorang mantan musisi yang telah berhijrah. Intinya, ia berpendapat bahwa musik adalah perkara yang haram didengarkan. Tanpa memilah-milah jenis musiknya.

Ketika Orang yang Berhijrah Mengharamkan Musik. Beberapa hari belakangan, sosial media diramaikan dengan pernyataan seorang mantan musisi yang telah berhijrah. Intinya, ia berpendapat bahwa musik adalah perkara yang haram didengarkan. Tanpa memilah-milah jenis musiknya.

Sejatinya, ini adalah pilihan si musisi. Tetapi, ada kesan bahwa pilihan tersebut adalah pilihan yang harus diambil oleh Muslim lain. Atau setidaknya, begitulah yang ditangkap sebagian orang. Hal ini sontak membuat perdebatan tentang hukum musik kembali bergema. Para pengkaji agama, pasti sudah memahami bahwa masalah ini adalah masalah yang sudah dibahas ribuan tahun lalu oleh para ahli hukum Islam. Baik dari kalangan sahabat, tabiin, para imam mazhab dan ulama-ulama setelahnya.

Perkara yang jelas masih diperselisihkan para ulama ini, kemudian diangkat oleh sebagian pihak dengan hanya mengangkat pendapat yang mengharamkan. Jika ini didasari disclaimer bahwa ini pendapat pribadi, agaknya tidak masalah. Namun, nyatanya orang-orang yang mengharamkan musik hari ini –yang notabene nya tergolong awam, secara mutlak tidak berfikir demikian. Menurut mereka, hukum musik sudah jelas haram sebagaimana disebutkan dalam hadis Shahih riwayat Al-Bukhari. Tanpa melihat adanya hadis lain yang menunjukkan sebaliknya.

Karena itu, agaknya perlu juga dihadirkan hadis-hadis yang menunjukkan kebolehan mendengarkan musik yang tidak mengandung perkara-perkara yang tidak diharamkan di dalamnya. Berikut adalah hadis-hadis bolehnya mendengarkan musik.

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ بِغِنَاءِ بُعَاثَ،  فَاضْطَجَعَ عَلَى الفِرَاشِ، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ، وَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ، فَانْتَهَرَنِي وَقَالَ: مِزْمَارَةُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَقَالَ: «دَعْهُمَا»، فَلَمَّا غَفَلَ غَمَزْتُهُمَا فَخَرَجَتَا , وَكَانَ يَوْمَ عِيدٍ، يَلْعَبُ السُّودَانُ بِالدَّرَقِ وَالحِرَابِ، فَإِمَّا سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِمَّا قَالَ: «تَشْتَهِينَ تَنْظُرِينَ؟» فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَأَقَامَنِي وَرَاءَهُ، خَدِّي عَلَى خَدِّهِ، وَهُوَ يَقُولُ: «دُونَكُمْ يَا بَنِي أَرْفِدَةَ» حَتَّى إِذَا مَلِلْتُ، قَالَ: «حَسْبُكِ؟» قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «فَاذْهَبِي» (خ)

Dari [‘Aisyah radliallahu ‘anha]; “Rasulullah SAW masuk menemuiku saat itu disisiku ada dua sahaya wanita yang sedang bersenandung dengan lagu-lagu (tentang perang) Bu’ats. Maka Beliau berbaring di atas tikar lalu memalingkan wajahnya. Kemudian masuk Abu Bakar lalu mencelaku dan berkata: Seruling-seruling syetan (kalian perdengarkan) di hadapan Rasulullah SAW? Maka Rasulullah SAW memandang kepada Abu Bakar dan berkata: “Biarkanlah keduanya”. Setelah Beliau tidak menghiraukan lagi, aku memberi isyarat kepada kedua sahaya tersebut lalu keduanya pergi. Saat Hari Raya ‘Ied, biasanya ada dua budak Sudan yang memperlihatkan kebolehannya mempermainkan tombak dan perisai. Maka adakalanya aku sendiri yang meminta kepada Nabi SAW atau Beliau yang menawarkan kepadaku: “Apakah kamu mau melihatnya? ‘ Maka aku jawab: “Ya, mau”. Maka Beliau menempatkan aku berdiri di belakang, Beliau dimana pipiku bertemu dengan pipi Beliau sambil Beliau berkata: “Teruskan hai Banu Arfadah”. Demikianlah seterusnya sampai aku merasa bosan lalu Beliau berkata: “Apakah kamu merasa sudah cukup?” Aku jawab: “Ya, sudah. Lalu Beliau berkata: “Kalau begitu pergilah”. (HR. Al-Bukhari)

عَنْ أَبِي الْحُسَيْنِ اسْمُهُ خَالِدٌ الْمَدَنِيُّ قَالَ كُنَّا بِالْمَدِينَةِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَالْجَوَارِي يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ وَيَتَغَنَّيْنَ فَدَخَلْنَا عَلَى الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهَا فَقَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَبِيحَةَ عُرْسِي وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ يَتَغَنَّيَتَانِ وَتَنْدُبَانِ آبَائِي الَّذِينَ قُتِلُوا يَوْمَ بَدْرٍ وَتَقُولَانِ فِيمَا تَقُولَانِ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ أَمَّا هَذَا فَلَا تَقُولُوهُ مَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ

Dari [Abu Al Husain] -namanya adalah Khalid Al Madani- ia berkata; “Pada hari Asyura kami berada di Madinah sementara para budak wanita memukul-mukul rebana dan bernyanyi. Kami lalu menemui [Ar Rubai’ binti Mu’awwidz] dan menyebutkan hal itu kepadanya, ia menjawab; “Di hari pernikahanku Rasulullah SAW masuk ke rumahku di saat hari masih pagi, sementara di sisiku ada dua orang budak wanita yang sedang memukul rebana dan bernyanyi memuji bapak-bapak kami yang gugur pada perang badar, hingga mereka mengucapkan apa yang mereka ucapkan, padahal di sisi kami ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Maka beliau pun bersabda: ‘Jangan kalian ucapkan, sebab tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa datang selain Allah.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam kedua hadis di atas, disebutkan Nabi SAW hadir dalam suasana yang di dalamnya diperdengarkan nyanyian dan alat musik. Nabi SAW tidak melarang para perempuan itu menyanyi dan memainkan alat musik. Dalam ilmu hadis, tindakan Nabi SAW tersebut disebut dengan Sunnah Taqririyyah. Nabi SAW tidak memerintahkan dan tidak pula melarang. Nabi SAW hanya diam di momen seperti itu. Seandainya bernyanyi dan memainkan alat musik haram, niscaya Nabi SAW mengucapkan sesuatu yang tegas untuk melarangnya. Karena itu, dapat dipahami bahwa Nabi SAW mengizinkan sebagian nyanyian dan alat musik.

Berdasarkan dua hadis di atas, dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW mengizinkan sebagian musik; nyanyian, lagu, lirik, dan alat musik. Hal ini tentu tidak seluruh jenis musik. Tetapi hanya musik-musik yang di dalamnya tidak bertentangan dengan syariat, seperti liriknya tidak mengajak kepada maksiat atau syirik, tidak ditampilkan dengan cara yang bertentangan dengan syariat, dan tidak disertai dengan konsumsi alkohol dan lainnya.

Demikian artikel berjudul “Ketika Orang yang Berhijrah Mengharamkan Musik, Ternyata Rasulullah SAW Membolehkan.” Semoga “Ketika Orang yang Berhijrah Mengharamkan Musik, Ternyata Rasulullah SAW Membolehkan, Ini Hadisnya” dapat menambah wawasan kita bersama. Menjadi penjelasan tambahan agar kita semakin bijak saat berhijrah.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...