Beranda Headline Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.idKisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs. al-Mujadilah.

Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam berbangsa dan bernegara. Perempuan memiliki hak memilih dalam ranah domestik atau bahkan ranah publik. Kedudukan perempuan pada kesetaraan gender menjadi salah satu isu sebuah prioritas. Perempuan di setiap negara selalu saja tidak terlepas dari penindasan dan kecurangan. Dalam bermasyarakat, kerap kali perempuan dianggap lemah dalam beberapa aspek kehidupan.

Pada Zaman jahiliyah, perempuan merupakan sebuah aib. Menurut Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam bukunya Al-Mar’ah Baina Tughyanin Nidzamil Gharbi wa Lathaifit Tasyri’i ar-Rabbany menjelaskan perempuan dimasa jahiliyah merupakan sebuah ‘rahasia’ yang harus disembunyikan.

Perempuan dan laki-laki dalam Islam pada dasarnya memiliki derajat yang sama dalam masalah tanggung jawab pelaksanaan kewajiban agama, takdir, kemanusiaan dan hak-haknya di hadapan Allah swt. Islam menempatkan derajat perempuan pada posisi terhormat dan mulia. Islam telah menghapus tradisi jahiliyah yang sangat diskriminatif terhadap perempuan. Oleh karenanya, sampai saat ini perubahan terus mulai tampak bagi perempuan dalam menyuarakan suara-suaranya untuk menuntut sebuah keadilan.

Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs. al-Mujadilah (58).

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka.

Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka wajib atasnya memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih”.

Surat “Al-Mujadilah” atau “Al-Mujadalah” dalam susunan Mushaf Utsmani merupakan surat ke 58. Di dalamnya terdapat 22 ayat. Penamaan ayat tersebut berdasar pada kandungan surat yang menceritakan tentang perdebatan atau perempuan yang mendebat, atau menggugat.

Surat ini menceritakan Khaulah binti Tsa’labah bin Ahram al-Khazrajiyah. Ia merupakan wanita dari kaum Anshar. Ia istri Aus bintu Shamid. Ia mengadukan kasus zihar yang dilakukan suaminya kepada Nabi Muhammad saw. Zihar merupakan salah satu tradisi dari jahiliyah dimana suami melontarkan kalimat: “Bagiku engkau sama dengan punggung ibuku”. Zihar juga merupakan ungkapan secara tidak langsung untuk sebuah perceraian.

Rumah tangga Khaulah dan Aus sangat membahagiakan karena tidak pernah terdengar kabar pertengkaran antara keduanya. Keharmonisan rumah tangga ini mulai terganggu saat Aus mulai menua, yang mengakibatkan kondisinya lemah secara fisik.

Suatu hari, terjadilah pertengkaran antara keduanya dan masing-masing mengklaim bahwa dirinya benar tidak mau mengalah. Terlontarlah dari suaminya Aus kalimat “Wahai Khaulah, engkau bagiku seperti punggung ibuku”. Khaulah sangat terkejut dan tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut suaminya. Karena kalimat itu keluar, pertanda suami yang dicintainya sudah tidak terikat lagi dalam ikatan pernikahan.

Khaulah binti Tsa’labah masih sangat mencintai suaminya begitupun sebaliknya. Suaminya menyesal telah melontarkan kalimat tersebut. Khaulah mengadukan kepada Rasulullah saw atas apa yang dialaminya. Rasulullah bersabda “Engkau telah haram bagi suamimu dan aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelesaikan masalah ini”. Khaulah berdoa kepada Allah swt ”Ya Allah turunkanlah melalui lidah Nabi-Mu sesuatu yang dapat mengatasi masalah kami ini”. Kemudian Rasulullah saw tersenyum sambil memanggil Khaulah dan mengatakan bahwa Allah swt telah mendengar doa Khaulah. Allah telah menurunkan ayat al-Qur’an QS. al-Mujadilah ayat 1: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah

Tafsir Quraish Shihab menjelaskan bahwa surat ini diawali dengan pembicaraan mengenai perempuan yang dijatuhi zihar oleh suaminya. Allah swt benar-benar mendengar keluhan perempuan tersebut. Latar belakang ayat ini turun karena Aus ibn Shamit menzihar istrinya, Khaulah, yang mana ungkapan tersebut di zaman itu merupakan makna majas (metaforis) yang berarti perceraian. Turunlah ayat ini dan tiga ayat selanjutnya.

Rasulullah memanggil Aus dan berkata “Adakah engkau sanggup memerdekakan budak?” Aus menjawab “Tidak”. Rasul bertanya lagi “Apakah engkau sanggup melakukan puasa?” Aus juga tidak sanggup berpuasa karena mengingat kondisinya yang mulai melemah. Kemudian Rasulullah berkata “Kamu harus bersedekah.” Setelah itu Rasulullah menyuruh Khaulah untuk mengajak Aus kepada Ummu al-Munzir binti Qais agar mengambil kurma sebanyak setengah muatan unta kemudian disedekahkan kepada enam puluh orang miskin. Aus langsung mengerjakan apa yang diperintahkan dan istrinya kembali halal baginya.

Kisah Khaulah binti Tsa’labah yang menjumpai dan berani menyuarakan permasalahannya kepada Rasulullah dan berusaha mendapat jawaban yang diinginkannya menandakan, laki-laki dan perempuan semuanya berhak bersuara dan memberikan pendapatnya sekalipun di ranah publik. Perempuan juga dapat memberikan sebuah pandangan keputusan mengenai dirinya. Kesetaraan laki-laki dan perempuan harus diposisikan secara baik, masing-masing dapat memposisikan diri sesuai dengaan porsinya masing-masing.

*Artikel ini merupakan hasil kerja sama Harakah.ID dengan Rumah KitaB dalam program Investing in Women untuk mendukung perempuan bekerja.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...