Beranda Keislaman Hikmah Ketika Rasulullah Membeli Unta Tua Milik Jabir bin Abdillah

Ketika Rasulullah Membeli Unta Tua Milik Jabir bin Abdillah

Harakah.id Jabir bin Abdillah adalah satu dari sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW. Dalam Sirah Nabawiyah, dikisahkan bahwa Rasulullah pernah membeli unta tua milik Jabir bin Abdillah. Tapi…

- Advertisement -

Bumi Pertiwi hingga saat ini masih saja dihiasi dengan tindakan-tindakan kolusi, nepotisme, dan korupsi. Pemanfaatan kekuasaan sebagai senjata untuk menguasai wilayah kerakyatan, menjadi penyebab utama tindakan-tindakan tersebut (kolusi, nepotisme, dan korupsi). Segala hal yang bersinggungan dengan ranah jabatan, keuangan, atau ketenaran; memang sering membuat manusia ‘lupa daratan’. Satu di antara cara untuk mengatasi problematika seperti ini adalah belajar melakukan pengorbanan. 

Seorang pemimpin (dalam hal ini bisa disebut dengan istilah ‘para pemangku kepentingan’) seharusnya lebih banyak belajar berkorban untuk para rakyatnya, bukan malah ‘menelanjangi’ dan ‘memoroti’ rakyatnya. Amanat jabatan yang diberikan adalah tugas untuk mengutamakan kepentingan rakyat, bukan malah tugas untuk mensejahterakan diri pribadi dan keluarganya sendiri. Sikap seorang pemimpin yang rela mengorbankan kepemilikan pribadi demi kebahagiaan rakyatnya pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad ketika perjalanan pulang dari dataran Najd menuju ke Madinah. Kisah ini dikisahkan oleh Muhammad ibn Ishaq dalam karyanya yang berjudul Sirah Rasulullah

Salah satu pria yang turut serta dalam ekspedisi ke dataran Najd adalah Jabir bin Abdillah. Kala perjalanan pulang; unta yang ditunggangi Jabir sudah sangat lemah dan tua, sehingga tidak bisa menyamai langkah rombongan-rombongan yang lain.

Selang beberapa saat, Nabi Muhammad yang berada di baris agak belakang berhasil menyusul Jabir dan menanyakan penyebab jarak yang cukup jauh antara Jabir dan rombongan lainnya. Jabir menjawab, “Wahai Rasululllah, untaku kini tak bisa berjalan lebih cepat lagi”.

Jawaban dari Jabir bin Abdillah membuat Rasulullah memerintahkan Jabir untuk merundukkan untanya. “Mana pecutnya?”, tanya Rasulullah. Jabir segera mengambil pecut dan memberikannya pada Nabi Muhammad. Rasulullah memukul unta Jabir, lalu memerintahkan Jabir untuk menungganginya lagi. Sebab kebesaran Allah, unta Jabir dapat berjalan dengan cepat dan mendahului Nabi Muhammad. 

Di tengah-tengah perjalanan, Jabir bin Abdillah bercakap-cakap dengan Nabi Muhammad. Percakapan tersebut berisi tentang keinginan Nabi Muhammad membeli unta Jabir. Secara spontan, Jabir langsung berkata, “Tidak usah dibeli, Wahai Rasulullah. Unta ini akan kuberikan padamu secara cuma-cuma”.

Nabi Muhammad tetap tidak mau mendapatkan unta Jabir secara gratis dan memaksa ingin membelinya. Akhirnya ditemui kesepakatan bahwa unta Jabir dihargai empat puluh dirham. Dari bagian ini, satu hal yang tampak jelas adalah pemimpin yang peduli rakyat tidak akan mengambil keuntungan di sela-sela kemelaratan rakyatnya.

Setelah sampai di kota Madinah, esoknya Jabir bin Abdillah mengantarkan unta tuanya ke depan pintu rumah Nabi Muhammad. Ketika Nabi Muhammad keluar dari dalam rumah, Nabi Muhammad mengajak Jabir melaksanakan salat dua rakaat di masjid.

Selesai melaksanakan salat, Nabi Muhammad memberi Jabir harga dari unta tua tersebut sebesar 40 dirham (sesuai kesepakatan). Uang tersebut segera disimpan ke dalam jubahnya lalu ingin berpamitan kepada Rasulullah. Kemudian Nabi Muhammad berkata, “Ambillah untamu dan bawalah pulang. Unta itu milikmu dan uang 40 dirham itu juga milikmu”. 

Dari keseluruhan cerita, hal yang dapat disimpulkan adalah pengorbanan yang dilakukan oleh seorang pemimpin (dalam hal ini berarti Nabi Muhammad) dapat menghindarkannya dari tindakan-tindakan yang tercela (seperti kolusi, nepotisme, dan korupsi). Nabi Muhammad bisa saja mengambil unta itu secara gratis dan tidak mempedulikan kemiskinan Jabir bin Abdullah, tapi Nabi Muhammad memilih melakukan pengorbanan daripada meraup keuntungan.

REKOMENDASI

Di Bulan Ramadan, Bekerja Untuk Menafkahi Keluarga Tetap Lebih Baik Daripada I’tikaf Di Masjid

Harakah.id – I'tikaf di masjid memang menjadi opsi ibadah yang dianjurkan dilakukan di Bulan Ramadan. Tapi, yang harus jadi catatan, bekerja...

Pas Sahur, Masih Bolehkah Kita Makan dan Minum Ketika Imsak Sudah Diumumkan? Ini Penjelasan...

Harakah.id - Ketika Imsak sudah diumumkan, mungkin sebagian dari kita masih bertanya; masih bolehkah kita menelan makanan dan menyeruput minuman? Apa...

Orang Mulia Meninggal Di Bulan Mulia, Ini Daftar Ulama-Ulama Nusantara yang Wafat di Bulan...

Harakah.id - Wafat di Bulan Ramadan konon merupakan keberkahan tersendiri bagi seseorang. Meninggalkan dunia di waktu mulia adalah satu tanda kemuliaan...

Larangan Berpuasa di Hari Syak, Hari Meragukan Apakah Ramadan Sudah Masuk Atau Belum

Harakah.id - Berpuasa di hari syak adalah praktik berpuasa yang dilarang oleh Islam. Hal itu dikarenakan, hari syak adalah hari yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...