Beranda Keislaman Akhlak Ketika Rasulullah Mengkritik Orang Yang Rajin Beribadah

Ketika Rasulullah Mengkritik Orang Yang Rajin Beribadah

Harakah.idDalam Sebuah riwayat, ada peristiwa ketika Rasulullah mengkritik orang yang rajin ibadah. Lho, kok dikritik? Simak penjelasannya…

Ibadah adalah tujuan penciptaan insan, sehingga tak sedikit orang yang berlomba-lomba untuk memperbanyak intensitas ibadahnya. Bahkan, sebagian orang rela menyiksa diri agar ibadah tidak berhenti. Pertanyaannya; bolehkah ibadah yang semacam itu, satu sisi menunjukkan ketaatan dan di sisi lainnya menganiaya dirinya sendiri?

Apalagi bertepatan dengan Bulan Suci, biasanya kekuatan beribadah tiba-tiba meningkat berkali-kali lipat. Masalah yang seperti ini telah berkali-kali dihadapi oleh Nabi Muhammad dan beliau menyikapinya dengan sangat bijaksana. 

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ̶ nomor 1150 ̶ dan juga oleh Imam Muslim ̶ nomor 784 ̶ , diceritakan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad melihat seutas tali yang terikat pada dua tiang masjid. Hal ini membuat Nabi Muhammad penasaran, sehingga Nabi Mempertanyakan ihwal seutas tali tersebut.

Diberitahukan pada Nabi Muhammad bahwa tali tersebut digunakan oleh Zainab untuk membantunya berdiri dalam shalat sunnah ketika ia telah lelah. Seketika itu juga Nabi Muhammad memerintahkan agar tali itu dilepas.

Selain itu, Nabi Muhammad juga menegur Zainab agar shalat sunnah semampunya dan tidak melupakan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Beliau bersabda, “Hendaknya kalian shalat semampunya. Jika lelah, tidurlah!.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa ibadah sejatinya boleh-boleh saja ̶ malah sangat bagus ̶ , tetapi menyiksa diri itu dilarang oleh Nabi. Tubuh juga memiliki hak untuk diistirahatkan.

Dalam hadits lainnya ̶ riwayat Imam Bukhari nomor 1151 dan Imam Muslim nomor 785 ̶ juga dikisahkan ihwal Nabi Muhammad menegur teman wanita Aisyah yang ‘terlau berlebihan’ dalam beribadah sunnah.

Nabi Muhammad mengomentarinya dengan bersabda, “Jangan! Lakukan saja sesuai kadar kemampuan. Demi Allah, Dia tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang bosan.”

Hal yang paling dicintai Nabi Muhammad dalam urusan agama adalah keajegan ̶ atau istiqamah. Oleh sebab itu, ibadah yang menyiksa diri dikhawatirkan dapat memutus keajegan tersebut. Satu hari ibadahnya luar biasa hingga tidak tidur semalaman, lalu esoknya tak beribadah sama sekali karena kelelahan. Hal semacam ini yang dikhawatirkan dapat menganggu keajegan. 

Kisah Tiga Lelaki yang Meremehkan Ibadah Nabi

Terdapat sebuah kisah menarik tentang topik ‘ibadah yang menyiksa ini’, yakni ketika Nabi Muhammad didatangi tiga lelaki yang ingin mengetahui intensitas ibadah Rasulullah.

Kisah ini terdapat di dalam hadits riwayat Imam Bukhari nomor 5063 dan riwayat Imam Muslim nomor 1401. Pasca diberitahu oleh Nabi tentang ibadah beliau, mereka bertiga menganggap ibadah Nabi terlalu sedikit.

Mereka bertiga berkomentar bahwa Nabi memang tak perlu beribadah sebanyak mereka, sebab dosa-dosa yang dulu dan dosa-dosa yang nanti sudah pasti diampuni oleh Allah. 

Lelaki pertama berkata bahwa ia senantia berpuasa terus-menerus tanpa putus. Lelaki kedua tak mau kalah juga berkata bahwa ia sholat sunnah tak pernah putus, hingga tak pernah tidur.

Lelaki ketiga pun tak mau ketinggalan dengan dua lainnya, ia berkata bahwa ia tidak akan menikah dan mejomlo seumur hidup. Setelah semuanya tuntas mengutarakan ‘kehebatannya’, Nabi sungguh tidak suka dan melarang perbuatan mereka sambil bersabda, “Ingat, akulah yang paling bertakwa kepada Allah. Namun, aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga beristirahat, dan aku juga menikahi wanita. Siapapun yang berpaling dari sunnahku, maka ia bukan termasuk kelompokku.” 

Tampak jelas sudah bahwa makan, tidur, dan menikah adalah nikmat dari Allah; oleh sebab itu, jangan kufuri nikmat-nikmat tersebut dengan dalih ibadah. Makan pun dapat bernilai ibadah dengan niat menjaga kekuatan badan untuk tetap istiqomah beribadah.

Tidur pun juga dapat bernilai ibadah dengan niat mengistirahatkan tubuh demi mencari nafkah untuk keluarga di hari esok. Begitu juga nikah, sudah ‘sangat jelas’ ibadah apa saja yang terkandung di dalamnya. Sampai-sampai, Nabi menganalogikan ibadah beliau sendiri untuk menyadarkan tiga lelaki tersebut.

Dijelaskan dalam kitab Fi Bayt al-Rasul karya Nizar Abazhah ̶ Guru Besar Sirah Nabawiyyah di Akademi al-Fath al-Islami Syria ̶ bahwa lama Nabi Muhammad bertasbih di waktu Isya’ akhir, sampai membuat pelayannya (Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami) bosan menunggunya, mengantuk, dan akhirnya pergi.

Ibadah kelas tinggi seperti Nabi saja, tetap membuat beliau tidak melupakan makan, istirahat,dan menikah. Lalu, apa kabar dengan ibadah ‘kelas teri’ seperti kita yang berlagak menyiksa diri sendiri ̶ yang mengaku tidak takut wabah dan menerjang himbauan ahli medis dan pemerintah ̶ ?

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...