Beranda Keislaman Hadis Ketika Sahabat Melaporkan Perbuatan Nabi, Apakah Ia Termasuk Hadis Marfu’ atau Justru...

Ketika Sahabat Melaporkan Perbuatan Nabi, Apakah Ia Termasuk Hadis Marfu’ atau Justru Jadi Mauquf?

Harakah.idPernahkah Anda memikirkan kategorisasi hadis Nabi berdasarkan sumbernya, ketika menjumpai sebuah hadis berwujud laporan sahabat tentang perbuatan Nabi? Apakah ia disebut mauquf karena laporan tersebut “dibuat” oleh sahabat Nabi? Atau, ia disebut marfu’ karena sumber laporannya adalah perbuatan Nabi?

Sepintas tampaknya memang pikiran seperti itu tampak tidak penting. Namun, kesediaan Anda meluangkan waktu hanya untuk memikirkan dan merenungi hal-hal yang kecil seperti itu merupakan indikator bahwa Anda adalah pecinta hadis dan ilmu hadis. Karena, pecinta sejati itu akan selalu memikirkan kekasihnya, dalam hal apapun, hatta hal yang remeh sekalipun. Selamat, Anda telah mencintai hadis Nabi!

Masalah seperti ini sebenarnya bukan masalah kecil. Ini karena status perbuatan Nabi dengan status perbuatan sahabat, jelas berbeda otoritasnya. Perbuatan sahabat, betapapun diinspirasi oleh sunnah Nabi, adalah tidak sepenuhnya wahyu. Sedangkan perbuatan Nabi, adalah wahyu sepenuhnya. Karena itu, soal mauquf dan marfu’ seperti ini tetap penting untuk direnungkan.

Misalnya hadis seperti ini,

حدثنا محمد بن يوسف قال أخبرنا سفيان عن الأعمش عن أبي وائل عن ابن مسعود قال: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي اْلأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَآمَةِ عَلَيْنَا (رواه البخاري)

Hadis riwayat al-Bukhari (w. 256 H) di atas merupakan laporan Ibnu Mas’ud (w. 32 H). Beliu menyatakan bahwa, dulu Nabi sesekali meliburkan pembelajaran kami beberapa, karena kuatir kami akan bosan. Dalam beberapa hari, Nabi libur dari menasihati para sahabat.

Sepintas, hadis di atas adalah hadis mauquf karena Ibnu Mas’ud, sahabat Nabi yang mengatakannya. Bukan Nabi yang melaporkan langsung. Dilihat dari aspek ini, barangkali akan benar untuk kita sebut sebagai mauquf. Namun, pertanayannya adalah, dari mana sumber laporan dan pernyataan Ibnu Mas’ud tersbeut? Ternayata kalau dirunut lagi, sumber pernyataan Ibnu Mas’ud tersebut adalah perbuatan Nabi. Kalau begitu, masih tepatkah ia disebut sebagai hadis mauquf?

Jika dilihat dari aspek perbuatan Nabi yang meliburkan pembelajaran, maka hadis itu jelas disebut marfu’. Dengan demikian, karena sumber pernyataand an laporan Ibnu Mas’ud tersebut adalah perbuatan Nabi yang meliburkan pembelajaran, maka hadis ini dipastikan hukumnya adalah marfu’ fi’li, bukan mauquf qauli. Dengan kata lain, pernyataan Ibnu Mas’ud tersebut bukanlah menunjukkan sumber, melainkan masih kategori ujung sanad.

Trikotomi marfu’, mauquf, dan maqthu’ adalah masalah sumber laporan, bukan soal pernyataan atau laporannya itu sendiri. Jika yang melaporkan adalah nabi sendiri, maka sumbernya pasti wahyu. Jika yang berbuat adalah Nabi sendiri, maka sumbernya adalah wahyu. Jika yang menetapkan adalah Nabi senidiri, maka sumbernya adalah wahyu. Ketika demikian, ia disebut marfu’, karena bersumber dari Nabi sendiri. Jika ia disebut langsung oleh Nabi sebagai bersumber dari Allah, maka disebut hadis qudsi. Hadis qudsi pun termasuk kategori marfu’.

Sedangkan jika sebuah pernyataan sumbernya dari sahabat sendiri, bukan dari pernyataan, perbuatan, ketetapan ataupun sifat Nabi sama sekali, maka hal itu dinamakan hadis mauquf. Jika sahabat berbuat sesuatu atas dasar inisiatifnya sendiri, maka disbeut mauquf. Namun jika perbuatan itu diinspirasi oleh pemahamn mereka terhadap sunnah, maka dihukumi marfu’ (mauquf fi hukmil marfu’).

Jika sahabat Nabi menetapkan suatu hukum atau perkara tanpa didasari oleh apapun yang berkaitan langsung dengan sunnah Nabi, maka hal itu juga mauquf.  Misalnya, Sayyidina Umar bin Khattab (w. 23 H), menetapkan kebijakan salat tarawih berjamaah di masjid. Beliau tidak lantas mengklaim sebagai sunnah, melainkan sebagai bidah yang sangat baik. Hal ini adalah salah satu contoh paling jelas dari hadis mauquf.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...