Beranda Keislaman Hikmah Ketika Seorang Adik Mencintai Istri Kakaknya, Endingnya Bikin Haru

Ketika Seorang Adik Mencintai Istri Kakaknya, Endingnya Bikin Haru

Harakah.idSebuah kisah tentang cinta di masa lalu. Ketika seorang adik mencintai istri kakaknya, endingnya bikin haru.

Pepatah mengatakan bahwa cinta adalah urusan rasa, sehingga mempersalahkan cinta adalah hal yang sia-sia. Cinta tak bisa disalahkan dan dibenarkan, sebab cinta adalah hal yang tidak direncanakan. Berkaitan dengan hal ini, di dalam kitab Raudhal al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah disebutkan sebuah kisah tentang seorang adik yang jatuh cinta terhadap istri kakaknya. Bagaimanakah akhir dari kisah tersebut? 

Sa’id bin Yahya al-Jumawi meriwayatkan dari pamannya (Muhammad bin Sa’id) bahwa Abdul Malik bin Umair pernah bercerita tentang kisah cinta dua lelaki kakak beradik dari Tsaqif. Mereka adalah dua bersaudara dari Bani Kunnah yang saling menyayangi. 

Suatu hari sang kakak hendak melakukan perjalanan jauh. Sang kakak berpesan kepada adiknya untuk mengurus segala kebutuhan istri dan keluarganya. Kebetulan sang adik adalah seorang lelaki yang belum menikah (bujangan). Selepas kakaknya pergi, sang adik untuk kali pertama memperhatikan rupa kakak iparnya. Sang adik takjub dengan paras kakak iparnya, sebab kakak iparnya memiliki wajah yang sangat cantik nan mempesona. Begitu pula si kakak iparnya, perjumpaan dengan adik suaminya membuat hatinya berdesir. 

Sejak saat itu, sang adik sering menyendiri karena rasa takut atas ‘cinta terlarangnya.’ Akibatnya, tubuh sang adik semakin kurus dan wajahnya semakin tirus. Selang beberapa minggu, sang kakak telah kembali pulang dari perjalanannya dan sangat terkejut melihat keadaan adiknya. Sang kakak bertanya, “Apa yang telah terjadi denganmu? Mengapa engkau menjadi kurus seperti ini? Penyakit apa yang sedang menggerogoti tubuhmu?”

Sang adik menjawab, “Aku sedang tidak sakit, Kak.”

Sang kakak tidak tega melihat keadaan adiknya, sehingga ia memanggil seorang tabib untuk mengobatinya. Tiga tabib telah dipanggil secara berurutan dan semuanya gagal mendiagnosa penyakit yang diderita adiknya, hingga seorang tabib terakhir yang bernama al-Harits bin Kaladah datang memeriksa sang adik. Setelah memperhatikan kondisi lelaki kurus di depannya selama beberapa saat, al-Harits bin Kaladah berkata, “Aku melihat dua matanya sehat; namun setelah kuamati lebih saksama, aku menduga dia sedang dimabuk oleh cinta.”

Sang kakak langsung berteriak, “Subhanallah. Aku bertanya tentang penyakit yang diderita adikku dan kau justru mengatakan tentang ‘jatuh cinta.’ Kau sedang tidak becanda kan?”

Al-Harits bin Kaladah menjawab, “Lalu, kau berharap aku akan mengatakan apa? Aku sedang tidak becanda. Aku bisa membuktikannya dengan memberinya ramuan, kemudian kau bisa melihat kenyataannya sendiri. Dengan ramuan ini, adikmu akan berbicara dengan jujur ihwal sesuatu yang dirasakannya.” 

Akhirnya al-Harits bin Kaladah memberikan segelas minuman (ramuan) si adik yang kemudian diminum sedikit, demi sedikit. Setelah minuman tersebut habis, tubuh si adik tetiba menggigil dan mengucapkan sebuah puisi (sya’ir):

Aku menderita karena wanita yang berjalan-jalan

Dari rumah ke rumah dari Khaif untuk berkunjung

Hari ini aku tidak melihat kijang yang lebih lincah

Selain seekor kijang yang berasal dari Kunnah

Pipinya halus dan tubuhnya indah menawan

Kata-katanya seakan mengandung nyanyian

Sang kakak terkejut karena dugaan al-Harits bin Kaladah ternyata benar. Sang kakak kemudian berkata kepada al-Harits, “Engkau adalah seorang tabib yang terkenal di Arab, apa yang bisa kau lakukan untuk menyembuhkannya?”

Al-Harits bin Kaladah menjawab, “Aku akan memberikannya segelas minuman lagi. Semoga adikmu menyebutkan identitas wanita yang dicintainya.”

Sang adik kembali diberi minum. Selang beberapa saat, terucaplah nama wanita yang dicintainya yang merupakan kakak iparnya sendiri. Sang kakak kembali terkejut untuk kali kesekian setelah mendengar jawaban sang adik. 

Akhirnya sang kakak memilih menceraikan istrinya, agar adiknya bisa menikahinya. Sang kakak lebih memilih kesembuhan adiknya daripada keinginan pribadinya. Hal itu dilakukan karena istrinya juga memendam rasa cinta pula kepada adiknya. Demikian kisah seorang adik mencintai istri kakaknya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...