Ketika Seseorang Mati Karena Bunuh Diri, Apakah Jenazahnya Masih Harus Disalati? Ini Jawabannya…

0
801
Ketika Seseorang Mati Karena Bunuh Diri, Apakah Jenazahnya Masih Harus Disalati? Ini Jawabannya...

Harakah.idHari ini kita masih banyak menemukan seseorang mati karena bunuh diri. Berdasarkan peristiwa tersebut, pertanyaannya, apakah jenazahnya masih harus disalati?

Tidak ada seseorang yang ingin mati karena bunuh diri. Setiap orang, ingin mati secara wajar, dan berakhir dengan husnul khatimah. Seorang yang mati dengan cara bunuh diri biasanya karena derita yang bertubi-tubi, perasaan kalut yang tak terselesaikan, sehingga masuklah setan dan memberikan solusi “bunuh diri saja”, “gantung diri saja”, “minum racun serangga saja” atau “ini senjata, cepat gunakan!”  Meski yang bersangkutan seorang muslim, kalau ia sudah lupa Allah, lupa agama, lupa Al-Qur’an, tentun seribu nasihat takkan merasuk di hatinya, dan ia memandang dunia ini dengan gelap dan tak berpengharapan. Akhirnya ia mengambil kesimpulan yang konyol, memilih jalan gelap, jalan setan, jalan yang tidak diridhai Tuhan!

Lalu apakah seseorang mati karena bunuh diri, jenazahnya tetap disalati? Berikut beberapa dalilnya:

Seseorang mati karena bunuh diri atau korupsi dalam pembagian ghanimah (harta rampasan perang) ia tetap dimandikan dan dishalatkan. Ini menurut madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Abu Dawud. Tapi kata Imam Ahmad, sebaiknya pemimpin tidak ikut menyalati, orang lain saja.”

Para sahabat menjawab hadis riwayat Jabir yang mengatakan: Nabi tidak menyalati dan mencegah para sahabat lainnya menyalati. Sikap demikian ini dikuatkan oleh hadis An-Nasa’i dengan kata-kata: Saya (Nabi) tidak akan mau menyalati.

Riwayat Ibnu Samurah: ada seseorang yang bunuh diri dengan menggunakan beberapa anak panah, Rasulullah SAW lalu bersabda, “saya tidak akan menyalatinya” sampai kata-kata “siapa bunuh diri dengan besi (benda tajam) putus hubungan dengan aku. Karena senjata ada di tangannya dan menghunjamkan ke perutnya, ia kelak akan masuk neraka Jahannam, dan abadi selama-lamanya.

Bunuh diri adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya pada hari kiamat ia akan di siksa dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Malik dan yang lainnya berpendapat bahwa hendaknya pemuka masyarakat tidak menshalati orang yang mati karena dihukum dan orang fasik sebagai peringatan bagi masyarakat. Sementara Az-Zuhri berpendapat, pemuka masyarakat tidak menshalati orang yang  mati dirajam, namun manshalati orang yang mati karena qishas, adapun Abu Hanifah berpendapat bahwa orang yang berbuat keonaran dan orang yang terbunuh dari kalangan kelompok pembangkang tidak dishalatkan.

Dalam kasus ini ternyata para ulama berselisih pendapat. Tetapi menurut pendapat mayoritas ulama, jenazah tetap dishalati. Sedangkan menurut Imam Ahmad bin Hanbal, seorang imam tidak perlu menshalatinya tetapi yang menshalatinya adalah selainnya. Pandangan Imam Ahmad bin Hanbal ini mungkin bisa dipahami bahwa tokoh masyarakat atau kiainya tidak perlu ikut menshalati, tetapi cukup jamaah atau masyarakat yang lain yang menshalatinya.

Setidaknya dapat ditarik kesimpulan, bahwa seseorang mati karena bunuh diri sepanjang di adalah orang muslim, tetap disalati. Sebab, dosa besar perbuatan bunuh diri tidak dengan serta merta menyebabkan ia keluar dari Islam, sepanjang ia tidak menganggap bahwa tindakkan bunuh diri adalah halal.