Ketika Sufyan al-Tsauri “Kabur” Setelah Mendengar Lima Hadis dari Manshur bin al-Mu’tamir [2]

0
47
Ketika Sufyan al-Tsauri “Kabur” Setelah Mendengar Lima Hadis dari Manshur bin al-Mu’tamir [2]

Harakah.idMansur bin al-Mu’tamir adalah salah seorang guru Sufyan al-Tsauri. Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama jempolan di Kufah. Meskipun ada beberapa versi pendapat, Mansur bin al-Mu’tamir wafat pada kisaran tahun 133 hijriyah.

Lalu banyak kritikus hadis yang kemudian menyandingkan sosok Mansur dengan al-A’mash (yang juga merupakan guru Sufyan al-Tsauri). Dua-duanya adalah ulama hadis yang berada dalam jajaran elit periwayatan hadis. Dan menyandingkan serta memperbandingkan semacam ini lumrah dilakukan para ulama dan bertebaran dalam kitab-kitab rijalul hadis. Mengapa dibandingkan? Ya salah satunya untuk mengukur level kualitas individualnya dalam konteks periwayatan hadis.

Lalu siapa yang lebih baik, Mansur atau al-A’masy? Kalau kita mengamini pendapat Abu Hatim al-Razy, maka yang lebih baik adalah Mansur. Hal ini sebagaimana yang dinukil oleh al-Dzahabi;

قال أبو حاتم الرازي الأعمش حافظ يدلس ويخلط ومنصور أتقن منه لا يخلط ولا يدلس.

“Al-‘Amasy adalah seorang hafidz, tapi mudallis dan hafalannya tidak konsisten. Sedangkan Mansur adalah sosok yang lebih mutqin, juga tidak tadlis dan hafalannya terus konsisten.”

Terlepas dari kegiatan banding membandingkan semacam itu, satu hal yang bisa disimpulkan adalah, Mansur bin al-Mu’tamir adalah sosok yang tsabit, tsiqah dan alim.

Namun yang harus kita ingat, periwayatan hadis selamanya selalu soal transmisi. Transmisi hadis yang sahih, adalah hadis dengan rantai periwayatan yang diisi oleh orang-orang tsiqah. Percuma gurunya tsiqah jika muridnya ternyata tidak. Hadis yang diriwayatkan bisa berpotensi keliru jika ditransmisikan kepada generasi selanjutnya.

Karena itu, Mansur bin al-Mu’tamir tidak sembarangan memilih murid. Ada standar yang dia tetapkan sendiri kapan dan bagaimana seseorang layak menjadi murid sekaligus meriwayatkan hadis darinya. Hal pertama yang perlu dijaga dalam hal ini, adalah berkenaan dengan kualitas hafalan sang murid. Kuat tidak hafalannya? Kalau lemah, tentu ada potensi keliru ketika kelak dia meriwayatkan hadis kepada muridnya.

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa kekuatan hafalan Mansur terlihat dalam kenyataan bahwa dirinya selalu menghafal hadis yang didapatkannya dan tidak menulisnya ke dalam sebuah kertas. Dan ini ternyata juga diterapkan Mansur kepada murid-muridnya. Ini sebagaimana kesaksian Jarir, salah seorang murid Mansur,

ابن معين سمعت جريرا يقول كان منصور إذا رأى معي رقعة يقول لا تكتب عني

“Kata Jarir, jika Mansur melihat selembar kertas ada padaku, dia langsung berkata ‘jangan sekali-kali engkau tulis [hadis] dariku!’”

Melalui proses seleksi ketat semacam itu, ditambah lagi dengan metode pembelajaran yang mendalam, maka tak heran jika para ulama memasukkan nama Mansur sebagai salah satu perawi dalam daftar rantai periwayatan paling sahih di antara banyak periwayatan yang lain. Ya, para ulama kemudian menggolongkan riwayat Sufyan al-Tsauri dari Mansur sebagai salah satu asahhul asanid (rantai periwayatan hadis paling sahih) dibandingkan pola rantai periwayatan lainnya. Ini sebagaimana yang dikutip oleh al-Dzahabi,

وقيل أصح الأسانيد مطلقا سفيان عن منصور عن إبراهيم عن علقمة عن ابن مسعود.

Dalam Sahih al-Bukhari saja, kalau kita ketik “haddatsana Sufyan hadddatsana Mansur” (jalur periwayatan hadis Mansur dari Sufyan al-Tsauri), maka muncul setidaknya tiga buah hadis, salah satunya adalah;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ وَالْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يُحَدِّثُ فِي كِنْدَةَ فَقَالَ يَجِيءُ دُخَانٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَأْخُذُ بِأَسْمَاعِ الْمُنَافِقِينَ وَأَبْصَارِهِمْ يَأْخُذُ الْمُؤْمِنَ كَهَيْئَةِ الزُّكَامِ فَفَزِعْنَا فَأَتَيْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَغَضِبَ فَجَلَسَ فَقَالَ مَنْ عَلِمَ فَلْيَقُلْ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ اللَّهُ أَعْلَمُ فَإِنَّ مِنْ الْعِلْمِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لَا يَعْلَمُ لَا أَعْلَمُ فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنْ الْمُتَكَلِّفِينَ } وَإِنَّ قُرَيْشًا أَبْطَئُوا عَنْ الْإِسْلَامِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ فَأَخَذَتْهُمْ سَنَةٌ حَتَّى هَلَكُوا فِيهَا وَأَكَلُوا الْمَيْتَةَ وَالْعِظَامَ وَيَرَى الرَّجُلُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ

Sedangkan untuk hadis Mansur sendiri, setidaknya ada 19 riwayat yang dicantumkan oleh Imam al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari, salah satunya adalah:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ قَالَ حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ الْمُعْتَمِرِ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَقَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَنَسَكَ نُسْكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَتِلْكَ شَاةُ لَحْمٍ فَقَامَ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ لَقَدْ نَسَكْتُ قَبْلَ أَنْ أَخْرُجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ فَتَعَجَّلْتُ وَأَكَلْتُ وَأَطْعَمْتُ أَهْلِي وَجِيرَانِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ شَاةُ لَحْمٍ قَالَ فَإِنَّ عِنْدِي عَنَاقَ جَذَعَةٍ هِيَ خَيْرٌ مِنْ شَاتَيْ لَحْمٍ فَهَلْ تَجْزِي عَنِّي قَالَ نَعَمْ وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ

Jadi itulah kisah mengenai sosok Mansur al-Mu’tamir dan kisah “kaburnya” Sufyan al-Tsauri dari pengajian gurunya itu karena khawatir memakan waktu yang lebih lama lagi. Dari kisah tersebut, kita sedikit banyak tahu bagaimana seorang perawi hadis, selain berupaya menjaga kualitas dirinya, juga berupaya menjaga kualitas periwayatannya dengan melakukan seleksi ketat terhadap murid yang hendak belajar sekaligus metode pengajian yang digunakan. Dari kisah Mansur dan al-Tsauri di atas, kita bisa menengok sebuah proses bagaimana sebuah hadis sahih diproduksi.