Ketika Sufyan al-Tsauri “Kabur” Setelah Mendengar Lima Hadis dari Manshur bin al-Mu’tamir [1]

0
124
Ketika Sufyan al-Tsauri “Kabur” Setelah Mendengar Lima Hadis dari Manshur bin al-Mu’tamir

Harakah.idMansur bin al-Mu’tamir adalah salah seorang guru Sufyan al-Tsauri. Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama jempolan di Kufah. Meskipun ada beberapa versi pendapat, Mansur bin al-Mu’tamir wafat pada kisaran tahun 133 hijriyah.

Sosok Mansur bin al-Mu’tamir digambarkan dalam kitab-kitab Tarajum wa Tabaqat sebagai sosok yang salih, mudah menangis dan berwajah cahaya. Konon, menurut Sufyan bin Uyaynah, Mansur berpuasa selama 40 tahun (ada juga yang berpendapat 60 tahun). Mansur tidak pernah tidak mengerjakan salat malam selama hidupnya. Ketika membaca hadis-hadis Nabi Muhammad, atau berada dalam satu keadaan yang membuat dirinya tenggelam dalam alam spiritualitasnya, hampir bisa dipastikan air matanya tumpah ruah. Oleh para muridnya, sosok Mansur akrab dengan garis wajahnya yang teduh, dan mata yang selalu sembab akibat air mata yang dia jatuhkan dalam setiap ibadahnya.

Hampir semua sepakat, bahwa Mansur adalah satu di antara beberapa ulama paling alim di Kufah. Bahkan terang-terangan, Abdurrahman bin Mahdi, dikutip oleh al-Dzahabi mengatakan;

حدثني العباس بن محمد حدثنا أبو بكر بن أبي الأسود سمعت ابن مهدي يقول لم يكن بالكوفة أثبت من أربعة، فبدأ بمنصور وأبي حصين وسلمة بن كهيل وعمرو بن مرة قال وكان منصور أثبتهم.

“Tidak ada orang yang lebih atsbat di Kufah selain empat orang; Mansur, Abu Husain, Salamah bin Kuhail dan Amr bin Murrah. Dan Mansur adalah sosok yang lebih tsabit dibanding yang lain”

Ketisqahan Mansur bin al-Mu’tamir tentu bukan tanpa alasan. Selain karena dikaruniai akurasi hafalan dan kekuatan dalam menjaga apa yang masuk ke dalam memorinya, Mansur juga dikenal sosok yang kuat dalam aspek ‘adalahnya. Ketekunan, konsistensi dan integritasnya sebagai ulama, berpadu sempurna dalam hal tindakan, ucapan, kebersihan hati dan kekuatan hafalan yang terang benderang.

Kekuatan hafalan Mansur, dikonfirmasi sendiri oleh Mansur sebagaimana yang diriwayatkan dari Syu’bah, bahwa dirinya sendiri pernah berkata, “tak pernah satu kalipun aku menulis hadis [yang aku dapatkan]”. Dan kenyataan ini dikonfirmasi oleh orang lain, semisal Abdurrahman bin Mahdi yang berkata,

وقال عبد الرحمن بن مهدي لم يكن بالكوفة أحد أحفظ من منصور.

“Abdurrahman bin Mahdi, ‘tak ada seorang pun di Kufah yang lebih kuat hafalannya dari Mansur’”

Tak heran kalau Mansur kemudian dirujuk oleh banyak perawi hadis untuk belajar sabda-sabda Nabi Muhammad SAW. Beberapa di antara muridnya adalah, Sulaiman al-Taymi, Sulaiman al-A’masy, Sufyan al-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyaynah, Syu’bah, Syarik al-Qadhi, Ma’mar bin Rasyid dan puluhan orang lainnya.

Tampaknya tidak hanya hafal, Mansur al-Mu’tamir juga memiliki kekuatan pemahaman yang sangat mendalam terkait hadis yang diajarkannya kepada murid-muridnya. Hal ini sebagaimana yang diungkap oleh Sufyan al-Tsauri, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya al-Qattan;

عن الثوري قال لو رأيت منصور بن المعتمر لقلت يموت الساعة.

“Kalau aku melihat sosok Mansur, seolah-olah waktu dan jam mati begitu saja”

Kita mungkin juga pernah mengenal atau menemui dua karakteristik guru; ada guru yang memilih menjelaskan sedikit materi tapi mendalam, ada juga yang memilih menjelaskan banyak dengan penjelasan ringkas. Dan tampaknya, Mansur, yang dari pengakuan Sufyan al-Tsauri, adalah sosok guru yang pertama. Beliau lebih memilih menjelaskan sedikit hadis namun mendalam, daripada meriwayatkan banyak hadis namun dengan penjelasan yang sepintas saja.

Dan karena karakter semacam itu, Sufyan al-Tsauri pernah membuat pengakuan bahwa dirinya sengaja pulang agar Mansur tidak lagi menambah materi hadis yang beliau ajarkan. Dalam al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi, al-Khatib al-Baghdadi menyampaikan sebuah riwayat mengenai kisah tersebut.

أنا محمد بن الحسين القطان أنا دعلج أنا أحمد بن علي نا يعقوب بن الدورقي نا عبد الرحمن بن مهدي قال قال سفيان كنت آتي الأعمش ومنصورا فأسمع أربعة أحاديث خمسة ثم أنصرف كراهة أن تكثر وتفلت

“Sufyan al-Tsauri berkata, ‘aku datang [untuk mengaji dan meriwayatkan hadis] kepada al-A’masy dan Mansur. Setelah aku mendengar darinya empat atau lima hadis, aku lalu beranjak pulang khawatir mereka akan menambah [materi hadis yang akan dipelajari saat itu.]’”

Jadi bisa dibayangkan, sepanjang dan sedalam apa penjelasan seorang Mansur bin al-Mu’tamir kala dirinya meriwayatkan sekaligus menjelaskan sebuah hadis, sampai-sampai, seorang ulama sekaliber Sufyan al-Tsauri bertekuk lutut?

Dan pada kenyataannya, banyak sekali ulama hadis yang hanya mengajarkan tiga sampai lima buah hadis saja di setiap pertemuan. Ya salah satunya adalah Mansur. Ini menandakan bahwa belajar hadis tidak bisa dijalani hanya dengan waktu yang singkat. Kalau kita mengenal istilah “thuluz zaman” dalam kitab Ta’lim, dalam hadis, hal itu berlaku dalam maknanya yang paling rill. Seseorang rawi akan membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk mempelajari sejumlah riwayat hadis dari seorang guru.

Bersambung…