Ketika Sunan Gunung Jati Menengok Lauhul Mahfudz Untuk Mengecek Ramalan Syeikh Siti Jenar; Mengenal Babad Cirebon

0
Ketika Sunan Gunung Jati Menengok Lauhul Mahfudz Untuk Mengecek Ramalan Syeikh Siti Jenar; Mengenal Babad Cirebon

Harakah.idSalah satu korpus sejarah yang wajib dibaca generasi muda Nusantara adalah Babad Cirebon. Buku babon tentang bagaimana Islam Banten dan Sunan Gunung Jati Dikisahkan

Menelusuri latar historis suatu tempat merupakan pekerjaan sederhana dan menegangkan. Menantang seperti layaknya seorang arkeolog yang mencoba membaca kembali sebuah kawasan kuno yang bahkan sudah banyak ditinggalkan. Pembacaan latar historis seperti ini nantinya akan berperan dalam peletakan sebuah ide sesuai dengan rahim sosiologi-antropologis yang memperanakkannya

Babad cirebon atau babad tanah sunda menyajikan hal serupa. Meskipun di dalamnya hanya diceritakan secara parsial dengan susunan bab-bab, tapi secara epistemologis potongan-potongan cerita tersebut membentuk sebuah alur menarik tentang kemunculan sebuah daerah; Cirebon. Satu kawasan yang tentunya beraktorkan tokoh yang kita bicarakan kali ini, yaitu Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Penarasian dalam babad ini dimulai dengan mimpi yang dialami oleh putera Prabu Siliwangi waktu itu, yang menyebabkannya keluar dari istana untuk mencari jati diri yang sebenarnya. Hal ini, parahnya disusul oleh sang adik yang melengkapi kenestapaan sang raja. Praktis, ketika putera mahkota yang diharapkan melanjutkan tampuk pemerintahan pergi, kesinambungan epistem yang dibangun mulai awal mengalami guncangan dan timpang. Tak ayal, beberapa waktu setelahnya kerajaan tersebut mati dan runtuh.

Berkat mimpi yang didapatkannya, sang putera mahkota Siliwangi; Walangsungsang dan Rarasantang, berkelana dari gunung ke gunung, dari padepokan ke padepokan, dari guru ke guru untuk mendalami Islam sebagaimana yang terlintas dalam mimpinya. Setelah sekian lama berkenala, terutama setelah belajar kepada Syeikh Nurjati di Gunung Jati, Walangsungsang pun mendapat restu untuk mendirikan sebuah dukuh yang berlandaskan Islam. Pergilan ia ke daerah pinggiran pantai sebagaimana yang telah ditunjukkan gurunya. Daerah itu dibabad lalu dijadikan sebuah dukuh. Dari sini Walangsungsang lebih dikenal sebagai Cakrabuana. Tidak disangka, ternyata perdukuhan yang dibangun mengalami perkembangan yang sangat cepat. Dengan menjadikan produksi terasi rebonnya, kawasan ini kemudian dikenal dengan nama Caruban yang dikemudian hari berubah Cirebon.

Baca Juga: Jimat Kalimasada dan Dakwah Budaya Sunan Kalijaga

Kesuksesan Cakrabuana mendirikan dukuh ini ternyata hanyalah pertanda awal bagi peran besar selanjutnya yang akan dimainkannya sebagai pusat pergerakan dakwah Islam dan pembentukan beberapa kerajaan di Jawa. Terutama setelah kemunculan Syarif Hidayatullah yang tak lain adalah ponakan Cakrabuana sendiri.

Hal itu dimulai dengan ibadah haji yang dilakukan oleh Cakrabuana berserta Rarasantang sekaligus menimba ilmu untuk sementara waktu di tanah suci kepada beberapa ulama di sana. Kebetulan di lain tempat, seorang raja mesir sedang gusar karena keinginannya untuk meminang seorang perempuan sebagai ganti istrinya yang sudah tiada tak kunjung terealisasikan. Singkat cerita, bertemulah utusan sang raja dengan Rarasantang. Dirasa cocok, akad nikahpun dilaksanakan. Dari perkawinan ini lahir Syarif Hidayatullah yang nantinya akan menjadi tombak penyebaran Islam di tanah Jawa.

Sebelum benar-benar pergi ke nusantara untuk menybarkan agama Islam, Syarif Hidayatullah beberapa waktu menjadi raja di Mesir sebagai ganti ayahandanya. Beliau tumbuh sebagai seorang pemuda yang haus akan pengalaman spiritual. Hal ini ditunjukkan pada suatu hari ketika ia menceritakan kepada ibudanya perihal keinginan untuk belajar kepada Rasulullah SAW. Tentu hal ini ditanggapi sinis oleh beberapa orang termasuk ibundanya. Karena memang sudah beberapa abad yang lalu Rasulullah wafat. Tapi hal ini tidak memadamkan tekad Syarif Hidayatullah, yang pada akhirnya berbuah manis ketika beliau mi’raj dan bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Dari pertemuan itu beliau kemudian diberi nama Insan Kamil.

Setelah merasakan pengalaman spiritual yang cukup lama tersebut, akhirnya Syarif Hidayatullah meninggalkan Mesir dan menginjakkan kakinya di tanah Jawa. Hal ini tentunya disambut hangat oleh warga Cirebon, terutama oleh sang paman. Setelah beberapa waktu tinggal di sana, sambutan hangat tadi berbuah kepercayaan masyarakat setempat yang menjadikannya kuwu Cirebon.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, peran sebenarnya Cirebon akan terlihat semenjak kepemimpinan Syarif Hidayatullah. Dari dukuh ini kemudian Syarif Hidayatullah melancarkan misi dakwahnya. Baik yang dibungkus dengan pengajaran dan pendirian pesantren, ataupun yang berbentuk aksi politik pada kerajaan-kerajaan hindu-budha yang masih ada. Dari dukuh ini misalnya, kerajaan Majapahit ditekan dan dipaksa runtuh. Dibangunlah kerajaan Demak yang dipegang oleh para Wali. Dari dukuh ini pula ide pembangunan kerajaan Banten muncul dan terealisasikan.

Dalam sejarah perlawan terhadap kolonial pun Cirebon termasuk salah satu daerah yang memiliki andil besar, khususnya ketika membentuk aliansi Banten-Demak untuk mengusir bangsa Portugis saat itu. Sang kuwu, Waliyullah Sayrif Hidayatullah yang langsung turun menjadi panglima pasukan pengusir ini. Berkat beliau, akhirnya sebuah daerah yang nantinya akan dinamakan Jayakarta pun terselamatkan dari rengkuhan kaum penjajah.

Yang menarik dari Babad adalah sistematika penyajiannya yang metafisik. Dalam babad ini misalnya, tidak hanya diceritakan sejarah Cirebon secara kronologis dan verifikatif. Di dalamnya juga disajikan cerita-cerita yang berada di luar jangkauan nalar manusia. Semisal cerita tentang Syarif Hidayatullah yang mi’raj lalu bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Dari pertemuan itu Syarif Hidayatullah diberi nama Insan Kamil.

Baca Juga: Sunan Giri, Seorang Wali Seniman yang Menyebarkan Islam Hingga Pelosok Nusantara

Juga kisah tentang Syarif Hidayatullah yang sedikitnya dua kali menengok lauhul mahfudz untuk membuktikan kebenaran sebuah berita atau ramalan. Yaitu yang berkaitan dengan seorang Putri Cina dan ketika mendapat ramalan dari Syeikh Lemah Abang atau yang kita kenal dengan Syeikh Siti Jenar waktu pengeksekusiannya oleh para Wali. Saat itu Syeikh Lemah Abang mengatakan bahwa anak keturunan bangsa ini akan dijajah oleh orang pendek yang bermata sipit (Jepang). Untuk mengkorfimasi kebenaran berita itu, berangkatlah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati ke Lauhul Mahfudz. 

Atau juga kisah tentang keris-keris yang merupakan jelmaan dari berbagai fenomena yang dihadapi Syarif Hidayatullah dan lain-lain. Sehingga muncul berbagai jenis keris, semisal keris kaki naga gede yang diserahkan kepada puteranya, Muhammad Hasanuddin ketika diberi tanggung jawab memimpin Banten. Tentu, penulisan sejarah semacam ini bersifat diakronis dan metafisis. Yang tidak akan mungkin bisa dipahami kecuali oleh orang yang memiliki paham yang sama, yaitu kaum santri.                

Apakah kemudian hal-hal semacam itu kemudian mengaburkan dan mengacaukan alur narasi sebuah cerita sejarah? Tentu tidak. Bahkan, hal-hal semacam itu bisa menjadi bumbu dan teks yang tidak akan pernah selesai untuk diproduksi. Dengan menghadirkan kisah-kisah metafisis yang bersifat ramalan tersebut, secara tidak langsung memungkinkannya [babad, serat dan tulisan sejenisnya] selalu relevan untuk dibaca dan digali.