Beranda Tokoh Keutamaan Fatimah Az-Zahra, Pemimpin Para Perempuan Surga

Keutamaan Fatimah Az-Zahra, Pemimpin Para Perempuan Surga

Harakah.idFatimah Az-Zahra merupakan putri keempat Rasulullah Saw dan Ibundanya Khadijah binti Khuwailid. Ia lahir pada tanggal 20 Jumadil Akhir, lima tahun sebelum Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul.

Fatimah Az-Zahra merupakan putri keempat Rasulullah Saw dan Ibundanya Khadijah binti Khuwailid. Ia lahir pada tanggal 20 Jumadil Akhir, lima tahun sebelum Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul.

Fatimah Az-Zahra dikenal sebagai perempuan yang memiliki akhlak yang mulia, lemah lembut, sabar, suka membantu, qana’ah, dan dekat dengan Allah. Bersama Ali bin Abi Thalib, ia memiliki dua putra shalih yang bernama Hasan dan Husein. Dan dari kedua putranyalah kemudian menurunkan orang-orang shalih yang menjadi Ulama dan Wali Allah.

Rasulullah Saw menyambut kelahiran Fatimah Az-Zahra dengan teramat bahagia karena dia dilahirkan lima tahun sebelum diangkat menjadi Rasul oleh Allah.

Sebagai perempuan yang suci dan memiliki kepribadian yang terpuji, Fatimah Az-Zahra merupakan salah satu contoh dan suri tauladan terbaik perempuan muslim di seluruh dunia. Terdapat beberapa keutamaan yang dimilikinya, sehingga layak dijadikan teladan bagi para perempuan, di antaranya:

Pertama, perempuan yang Suci sejak kecil. Fatimah diberikan gelar Az-Zahra ia tidak pernah haid sama sekali dalam hidupnya, dan ketika ia melahirkan nifasnya hanya sebentar sehingga langsung suci. Dalam kitab Fataawa adz-Dzahiriyyah di lingkungan Hanafiyah dijelaskan bahwa,

Sesungguhnya Fatimah tidak pernah mengalami haid sama sekali, saat beliau melahirkan pun langsung suci dari nifasnya setelah sesaat agar tiada terlewatkan shalat baginya, karenanya beliau diberi julukan Az-Zahra”.

Selain keistimewaan itu, Fatimah merupakan figur perempuan yang istiqomah menjaga kesuciannya sejak kecil. Ia sangat menjaga sikapnya terhadap laki-laki dengan cara tidak bersentuhan kulit, menjaga pandangannya, tidak memikirkan seseorang yang bukan mahramnya. Fatimah Az-Zahra konsisten menjaga kesuciannya hingga akhir saat menikah dengan Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Kedua, Ikut berjuang mensyiarkan agama Islam. Fatimah ditinggal oleh Ibunda tercinta Khadijah Al-Kubro ketika berusia 5 tahun. Sehingga ia menggantikan tempat ibundanya untuk mendukung, membantu, melayani, dan turut serta berjuang bersama ayahandanya.

Ketika kecil, Fatimah menghadapi berbagai ujian, salah satunya adalah menyaksikan tindakan keji kaum kafir Quraysh terhadap ayahnya. Karena sering melihat ayahnya mendapat perlakuan kasar, Fatimah sering menangis melihat kesulitan dan siksaan yang dialami oleh Rasulullah Saw.

Saat beranjak dewasa, Fatimah ikut berjuang di jalan Allah. Ia melibatkan diri terjun langsung ke medan peperangan sebagai mujahidah. Banyak peperangan yang  diikuti, termasuk perang Uhud. ia berkontribusi membantu menyediakan air minum bagi kaum muslimin, menyiapkan segala keperluan logistik dan memberikan obat untuk pasukan kaum muslimin yang mengalami luka dalam peperangan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, diceritakan bahwa ketika menemukan Rasulullah Saw terluka dalam medan peperangan, Fatimah langsung memeluknya, membersihkan dan mengobati luka-lukanya. Saat Fatimah menyaksikan luka ayahnya semakin banyak mengeluarkan darah, Fatimah membakar tikar dan menaburkannya diatas luka Rasulullah Saw sampai melekat dan darah itu berhenti keluar.

Ketiga, merupakan seorang Negarawan Ulung.  Ketika Rasulullah Saw wafat, kaum muslimin memilih pemimpin untuk menggantikan Rasulullah sebagai khalifah pertama pengganti ayahandanya. 

Ia mencalonkan suaminya, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah pertama. Dan Fatimah maju kedepan menjadi orator untuk memenangkan Ali bin Abi Thalib. Meskipun pada akhirnya yang terpilih (dipercaya) oleh kaum muslimin sebagai khalifah adalah Sahabat Nabi yang lain, yaitu Abu Bakar As-Shiddiq ra. Fatimah mengakui hasilnya, menerima, dan mendukung kepemimpinan Abu Bakar As-Shiddiq dengan totalitas.

Keempat merupakan Pribadi Perempuan yang Murah Hati dan Pelayan Tamu terbaik.  Sesudah menikah, pada suatu hari datang seorang dari suku bani Salim yang dikenal sebagai ahli sihir, yang memaki-maki Rasulullah Saw.

Tetapi, Rasulullah Saw menanggapinya dengan lemah lembut.  Ahli sihir tersebut takjub terhadap kemuliaan akhlak Rasulullah Saw sampai akhirnya ia masuk Islam.

Rasulullah Saw mengutus Salman untuk untuk mengantarkan ahli tersebut ke tempat  saudara sesama Muslim untuk bisa memberikannya makan, karena ahli sihir tersebut dalam keadaan lapar.

Kemudian Salman mengajaknya untuk mengunjungi beberapa rumah warga muslim untuk mendapat makan. Tetapi tidak ada satu orangpun yang memberikannya makan, karena ketika itu bukan waktu orang makan. Akhirnya Salman mengajak ahli sihir tersebut untuk mengunjungi rumah Fatimah. Setelah Salman menyampaikan maksud kunjungannya, Fatimah mengatakan dengan air mata berlinang apabila di rumahnya tidak ada makanan sejak tiga hari  lalu.

Tetapi putri Rasulullah SAW tersebut enggan untuk menolak seorang tamu yang mengunjungi rumahnya, dengan berkata “Saya tidak dapat menolajk seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang”. Setelah itu Fatimah melepas kain kerudung dan memberikannya kepada Salman untuk dapat ditukar dengan jagung kepada Shamoon orang Yahudi. Salman dan ahli sihir itu sangat terharu melihat kemuliaan dan kemurahan hati Fatimah Az-Zahra.

Salman memberikan saran kepada Fatimah guna menyisihkan sebagian roti untuk putra-putranya yang kelaparan. Kemudian Fatimah menjawab bahwa dirinya tidak berhak berbuat demikian, karena ia telah memberikan kain kerudungnya untuk kepentingan Allah. Dari situ dapat kita ambil betapa mulianya akhlak Fatimah yang dapat kita teladani.

Kelima, Perempuan terbaik yang menjadi pemimpin di surga. Fatimah Az-Zahra merupakan salah satu dari empat perempuan terbaik sepanjang sejarah. Dalam hadis Shahihain dijelaskan “sebaik-baik perempuan di alam semesta ada empat, yaitu Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad” (HR Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas meriwayatkan dalam sebuah hadis Nabis Saw, yang artinya “Empat wanita yang menjadi penghulu (pemimpin) di masa mereka Maryam binti Imran, Asiyah Binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad. Yang paling mulia diantara mereka adalah Fatimah”. (HR Ibnu Abbas).

Pada riwayat lain yang dinukil Ibnu Abbas dari Nabi Saw, berkata; “wanita paling mulia di alam semesta dari awal hingga akhir adalah Fatimah”. Fatimah merupakan perempuan yang berakhlak mulia, dedikasi, kerja keras, dan kontribusinya dalam memperjuangkan agama, serta kemuliaan hatinya dapat dijadikan sebagai teladan dan inspirasi bagi para perempuan masa kini dan ke depan. Fatimah Az-Zahra sudah lebih dari cukup dijadikan teladan dalam usaha meraih ridha Allah.

Artikel kiriman dari Nur Kholis, Mahasiswa FISISP UIN Sunan Ampel Surabaya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...