Beranda Tokoh KH. Lili Ghazali Cilacap, Kiai Kampung Rujukan Umat

KH. Lili Ghazali Cilacap, Kiai Kampung Rujukan Umat

Harakah.idKH. Lili Ghazali wafat pada 10 Juli 2020. Seorang kiai kampung yang mendedikasikan hidupnya untuk umat. Tidak heran jika KH. Lili Ghazali Cilacap menjadi kiai kampung rujukan umat.

Salah satu ungkapan Gus Dur yang terkenal adalah, kiai yang paling ikhlas itu adalah kiai kampung. Ketika itu Gus Dur menjelaskan tentang penting berpegang teguh kepada ulama.

Gus Dur mengambil kutipan dari kitab Hikam “La tashab man la yunhiduka ilallahi haaluhu, walaa yadlulluka ilallahi maqaaluhu” yang artinya: “Jangan kau temani atau engkau jadikan guru orang yang perilakunya tidak membangkitkan kepada tuhan, dan kata-katanya tidak menunjukkan kamu kepada tuhan.” 

Lalu Gus Dur menjelaskan siapa yang jadi contoh perilaku yang menunjukkan kepada tuhan, tiada lain dan tiada bukan adalah para ulama, lalu ia menegaskan menegaskan ulama-ulama yang betul-betul masih ikhlas adalah kiai kampung. Dari ungkapan ini, terdapat salah satu sosok kiai kampung yang baru saja wafat yaitu beliau almarhum almaghfurlah KH. Lili Ghazali.

Pada 10 Juli 2020 M /4 Dzulhijah 1434 H, Cilacap barat dan sebagian daerah priangan timur berduka telah kehilangan sosok kiayi panutan yang  menjadi orang tua dan kerap terdengar petuah-petuah nya di surau, majlis pengajian, dan perayaan walimahan.

Dakwahnya yang sangat khas dengan guyonan dan bahasa yang sederhana sehingga mudah diterima oleh semua kalangan masyarakat. Maka tidak heran jika kepulangan beliau menyisakan kenangan  yang selalu terngiang di hati para jamaah dan masyarakat sekitar. 

Belum banyak yang mengenal sosok beliau di jagat media atau di tataran skala nasional, karena memang belum ada yang pernah mempublikasikan sosok beliau di dalam media manapun, hanya mendengar dari mulut ke mulut saja, padahal dalam perjalanan hidup dan sepak terjang dalam berdakwah dan kapasitas keilmuannya sangat patut diteladani. Seorang kiai yang begitu sederhana, berbaur dengan masyarakat, dan selalu menjadi problem solving atau pemecah segala persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. 

KH Lili Ghozali tinggal di satu desa di kab. Cilacap Jawa Tengah tepatnya di desa Madura Kecamatan Wanareja. Beliau melakukan dakwahnya dari tahun 70-an setelah menyelesaikan pendidikan agamanya di pondok pesantren Bahrul Ulum Awipari Tasikmalaya.

Setelahnya mondok dari Tasikmalaya Ia menikah dengan Hj. Amanah dan dikaruniai 5 orang anak, dan yang satu meninggal sehingga tersisa 4 orang anak dan 8 orang cucu. Hingga akhir hayatnya Ia dijadikan sosok panutan bagi keluarga besarnya.

Tidak mudah dalam mengawali perjalanan dakwahnya, karena pada tahun 75-an di daerah desa Madura belum banyak orang yang mengenal Islam, atau sudah ada yang mengenal tapi masih kental dengan tradisi leluhurnya sehingga susah untuk diajak beragama Islam dengan baik.

Selain itu juga masih belum banyak penghuni yang tinggal di daerah itu, sehingga beliau betul-betul babad alas dengan dibangunkan rumah di daerah kampung cukang awi oleh mertuanya H. Harodin dari kampung Cimadura dengan membawa bahan-bahan bangunan seperti kayu papan, bambu, dan lainnya. 

Belum banyak penghuni yang tinggal di daerah itu yang jumlahnya masih bisa dihitung jari. Rerumputan dan ilalang yang sangat lebat sedikit demi sedikit dibersihkannya hingga yang tadinya lebat dan gelap menjadi terang dan bersih. 

Setiap hari Ia pergi ke sawah dan kebun bersama-sama warga sekitar untuk bercocok tanam sebagai mata pencaharian sehari-hari. Di Malam hari mengajarkan agama kepada anak-anak warga sekitar, berceramah di majlis majlis pengajian, dan sekali-kali ada yang mengundang ceramah ke luar daerah.

Dari mesjid ke-mesjid ia lakukan dengan berjalan kaki, karena pada waktu belum memiliki motor. Seiring berjalannya waktu sekitar tahun 90-an ramai santri berdatangan yang mondok di kampung cukang awi, dibangunlah aula madrasah di samping rumah sebagai tempat tinggal serta tempat mengaji santri. 

Tidak ada bangunan pondok pesantren, terdapat kamar atau bangunan pesantren yang lainya, hanya saja aula madrasah sebagai tempat tidur santri putra, dan santri putri tinggal di rumah kiai. Dalam proses pengajaran dibantu oleh menantunya yang pertama yang merupakan lulusan Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, dan KH. Lili Ghozali lebih banyak bercerita keluar daerah.

Akan tetapi tidak lama karena santri-santri itu sudah mulai tua dan waktunya berumah tangga akhirnya mereka sedikit demi sedikit pulang ke kampungnya, hingga akhirnya santri-santri dari luar daerah habis dan yang tersisa hanya santri-santri dari kampung cukang awi yang biasa mengaji di sore hari, setelah Maghrib, dan setelah subuh. 

KH. Lili Ghozali semakin hari semakin banyak yang mengundang ceramah di luar daerah, baik di acara maulidan, isra’ mi’raj ataupun acara walimahan. Ia pergi kemana-mana dengan menggunakan motor superkapnya hingga sampai pelosok gunung sekalipun ia datangi.

Akan tetapi meskipun banyak mengisi ceramah di luar daerah, ia masih tetap membimbing masyarakat sekitar yang ada di desa Madura, bahkan di setiap masjid mengadakan rutinan pengajian, hampir setiap hari setiap ada pengajian di mesjid-mesjid desa Madura. Berbagai tradisi keIslaman dan kebudayaan Ia bangun di daerahnya hingga sampai saat ini masih eksis mewarnai hari-hari di desa Madura. 

Selain aktif di bidang dakwah, KH. Lili Ghozali semasa muda juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi yaitu ia aktif di Gerakan Pemuda ANSOR yaitu salah satu Banom dari organisasi kemasyarakatan Islam Nahdlatul Ulama. Bahkan hingga sebelum wafat beliau masih aktif di NU sebagai Mustasyar MWC NU Kec. Wanareja. 

Kecintaannya kepada NU sudah tumbuh sejak kecil karena Ia lahir dari orang tua yang juga menganut tradisi NU dan tumbuh di pesantren yang penuh dengan tradisi NU. Sebagai kader NU, Ia selalu menyuarakan pentingnya kebangsaan, selalu mewanti-wanti jangan sampai anti terhadap negara dan memberontak terhadap pemerintah yang sah. 

Lalu pada tahun 2005, KH. Lili Ghazali berangkat haji menuju baitullah bersama istri di antar oleh jama’ah dengan arak-arakan menuju tempat pemberangkatan di Cilacap.

Selama menunaikan ibadah haji  banyak jemaah haji lain yang terkesan dengan beliau, karena banyak guyonan-guyonan baik itu dalam berbincang-bincang ataupun memberikan nasihat. Sehingga tidak heran ketika banyak teman-teman satu rombongan yang terkesan dengannya.

Sepulang dari Makkah beliau disambut juga dengan baik oleh para jemaah di kampung. Dari situlah dimulai julukan beliau oleh warga-warga sekitar dengan panggilan pak haji. Meskipun beliau sendiri tidak pernah menyematkan dirinya sebagai pak haji ataupun pak kiai.

Tidak henti beliau berdakwah hingga usia lanjut, yang tetap konsisten dengan menggunakan motornya ataupun terkadang naik ojek tetangga bila perjalanan lumayan jauh, atau menaiki angkutan umum jika undangan ceramahnya sampai lintas provinsi.

Begitulah sosok sederhana beliau meski sudah tersohor sebagai mubaligh kondang tetapi masih Istiqomah dengan tampilan yang sederhana, bahkan hingga akhir hayatnya beliau masih giat bertani pergi ke sawah mencangkul dan bercocok tanam, dan salah satu hobinya adalah mencari ikan di sungai dengan jala ataupun jaring.

Hampir setiap sore di musim kemarau pergi ke sungai untuk memasang jaring lalu besoknya mengambil ikan-ikannya. Inilah sebagian kisah kesederhanaannya sebagai kyai yang diundang ceramah kemana-mana dan lebih banyak lagi kisah-kisah kesederhanaan beliau yang menarik kita teladani.

Di antara sikap atau tauladan lain yang patut diteladani, beliau adalah sosok yang sangat menghormati guru dan kiai-kiai sepuh. Selama di pondok beliau adalah santri yang sangat giat bekerja mengurus sawah-sawah kiai, tidak pernah melawan apa yang diperintahkan kiai. Bahkan setelah Ia menjadi kiai sikap itu masih terjaga.

Tidak pernah terlewatkan membacakan do’a, tawasul kepada guru-gurunya di setiap majlis, juga selalu menyempatkan ziarah kepada makbaroh guru-gurunya yang telah tiada. Karena Ia yakin keridloan guru yang menjadikan hidu penjadi berkah. 

Namun kini ia telah tiada, telah berpulang dengan tenang karena jasa yang telah Ia berikan sungguh besar untuk kebesaran umat. Beliau termasuk ulama yang memiliki kriteria “Alladziina Yanzhurunal Ummah Bi ‘Ainirrahmah”, yang melihat ummat dengan kacamata kasih sayang. Sehingga kasih sayang itu sangat berbekas di hati para jamaah dan santri-santrinya. Selamat jalan kiai, semoga engkau bersanding dengan orang-orang shaleh dan semoga kami semua dapat melanjutkan perjuangannya.

*Artikel kiriman dari Didi Manarul Hadi, Alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Aktivis Muda NU, Pecinta Islam NusantaraMedsos: FB: Didi Manarul Hadi, Ig: didi_manarul, Twitter: DidiMHadii

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...