Beranda Headline KH. Sahal Mahfudz, Ulama Pesantren Pencetus Fikih Sosial

KH. Sahal Mahfudz, Ulama Pesantren Pencetus Fikih Sosial

Harakah.id Dalam pandangan Kiai Sahal, fungsi ajaran syariat yang tertuang dalam fiqh adalah membimbing, sekaligus memberi solusi atas persoalan kehidupan praktis, baik bersifat individual maupun sosial.

KH. Sahal Mahfudz merupakan salah satu ulama pakar fiqih di Indonesia.  KH. Sahal Mahfudz lahir pada 17 Desember 1937 di desa Kajen Margoyoso Pati Jawa Tengah. Beliau sudah mulai belajar agama sejak umur 6 tahun di Madrasah Ibtidaiyah Kajen, selanjutnya beliau belajar di Madrasah Mathali’ul Falah.

Saat itu beliau juga belajar ilmu umum seperti filsafat, bahasa Inggris, administrasi, psikologi, dan tata Negara kepada H. Amin Fauzan. Setamat Tsanawyah beliau melanjutkan pendidikannya di Pare Kediri dan di Sarang Rembang, dan selanjutnya beliau ‚nyantri‛ di Mekkah selama 3 tahun di bawah bimbingan KH. M. Yasin Al-Fadani.

Kyai Sahal mampu menggabungkan antara fiqh dengan pemikiran kritis kontemporer, sehingga gagasan pemikiran fiqhnya  tidak skeptis bahkan lebih menuju pada fiqh sosial. Artinya, fiqh tidak hanya menjadi ilmu akhirat yang menafikan kehidupan. Tetapi beliau dapat meracik dan mengapliksaikan dalam bentuk pemberdayaan manusia.

Fiqh, sebagai penuntun kehidupan paling praktis dalam Islam, membicarakan empat aspek pokok kehidupan manusia. Yang pertama yaitu, ubudiyyah, mu’amalah (hubungan perdata), munakahah (pernikahan), dan jinayah (pidana).Bagi KH. Sahal Mahfudz, fiqh sosial lebih menitik-beratkan pada aspek kemaslahatan publik (masalihu al-ummah). Di mana ada maslahah, disanalah fiqh sosial dikumandangkan.

Fiqh tidak seharusnya dipahami dalam dimensi formal-legal semata, tetapi harus dibarengi dimensi etika, agar pengembangannya benar-benar sejalan dengan fungsinya. Fungsi ajaran syariat yang tertuang dalam fiqh adalah membimbing, sekaligus memberi solusi atas persoalan kehidupan praktis, baik bersifat individual maupun sosial.

Sistematika dan perangkat penalaran yang dimiliki fiqh sebenarnya rnemungkinkannya dikembangkan secara kontekstual, sehingga tidak akan ketinggalan perkembangan sosial yang ada. Nabi pernah menganjurkan agar kaum rnuslimin memperbanyak keturunannya. Dalam era over populasi seperti sekarang ini, anturan Nabi itu tidak bisa dipahami secara dangkal, yakni bahwa Nabi memerintahkan untuk memperbanyak anak secara kuantitatif. Akan tetapi sebaliknya, anjuran tersebut adalah bermakna pada usaha untuk meningkatkan kualitas hidup keturunan kaum muslimin agar dapat bertahan di tengah arus kemajuan zaman.

Fiqh memiliki peluang yang sangat luas untuk berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Terdapat tiga macam metode penggalian hukum yang biasa diterapkan:

Pertama, metode qauly (tekstual); yaitu dengan merujuk langsung pada teks pendapat imam mazhab empat atau pendapat ulama pengikutnya.

Kedua, metode ilhaqi; yaitu menyamakan hukum suatu kasus yang belum ada ketentuan hukumnya dengan kasus yang telah ada hukumnya dalam kitab-kitab fikih.

Ketiga, metode manhajiy (bermazhab secara manhajiy/metodologis); yaitu menyelesaikan masalah hukum dengan mengikuti jalan pikiran dan kaidah penetapan hukum yang telah disusun oleh imam mazhab. Prosedur operasional metode manhajiy adalah dengan mempraktekkan qawaid ushuliyyah (kaidah-kaidah ushul fiqh) dan qawaid fiqhiyyah (kaidah-kaidah fiqh).

Fiqh sosial dalam merespon berbagai permasalahan yang muncul di masyarakat lebih mengedepankan solusi fiqh yang lebih bersifat sosial dan berporos pada konsep maslahat dan kebaikan umat. Contoh untuk masalah ini adalah masalah kependudukan.

Meningkatnya jumlah penduduk adalah keniscayaan, namun bila tidak diimbangi dengan peningkatan sumber daya manusianya maka akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar. Mengatasi masalah kependudukan yang kompleks, yang merupakan masalah kehidupan yang penting dalam pandangan syari’at Islam, berarti memenuhi tanggung jawab kaum muslimin yang konsekwen atas kewajiban mewujudkan kemaslahatan umum (al-mashalih al-‘ammah) sebagaimana dijabarkan dalam fiqih sosial. Hal ini tercermin misalnya dalam bab-bab zakat, fai’, amwal dlai’ah dan lain-lain.

Dalam hal ini, kemaslahatan umum -kurang lebih- adalah kebutuhan nyata masyarakat dalam suatu kawasan tertentu untuk menunjang kesejahteraan lahiriahnya.

Dalam ikhtiar mengatasi masalah kependudukan yang erat hubungannya dan mempunyai implikasi dengan kesejahteraan masyarakat yang menjadi sasaran syari’at Islam, memang tidak boleh menimbulkan akibat pada hilangnya nilai tawakal dan nilai imani.

Bahkan dengan mengaplikasikan syari’at Islam secara aktual dalam konteks upaya mencapai kesejahteraan masyarakat dengan mengatasi masalah-masalah kependudukan, dapat kiranya lebih dikembangkan nilai tawakal dan nilai imani.

Gagasan KH. Sahal Mahfudz dalam melihat kondisi sosial yang jauh dari realisasi peradaban fiqh, menimbulkan tantangan besar dalam mengkontektualisikan isi dari teks fiqh itu sendiri. Dari sini kemudian muncul usaha-usaha beliau dalam memperdayakan masyarakat lewat peradaban fiqh tersebut.

Pertama, dalam zakat, misalnya, KH. Sahal Mahfudz bukan sekedar menganjurkan zakat sebagai tanggungjawab agama. Tetapi disana ada spirit pemberdayaan bagi fakir miskin yang sedang menangis merasakan kesusahan hidup dipinggir-pinggir jalan raya.

KH. Sahal Mahfudz kemudian mendirikan BPPM (Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat. Kemudian dari BPPM Kiai Sahal membentuk KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang dipertemukan dengan pemerintah dan lembaga swasta. Salah satunya adalah Kelompok Budidaya Kerupuk Pasir, di daerah Kajen kerupuk semacam ini dikenal juga dengan Kerupuk Tayamum.

Kedua, Fiqh sosial juga tercermin dalam komitmen KH. Sahal Mahfudz dalam pelestarian lingkungan. Beliau menggagas fiqh al-bi’ah (fiqh lingkungan) yang kemudian memberikan spirit pesantren untuk mengkampanyekan penyelamatan bumi dan lingkungan. Selama ini, teks fiqh belum dibenturkan dengan berbagai problem sosial lingkungan, seperti tsunami, banjir, luapan lumpur, gempa bumi, dan yang sedang hangat pemasanan global (global warming). Isu-isu sensitive ini, bagi Kiai Sahal, harus segera mendapatkan sebuah strategis dalam fiqh sosial.

Demikian pemikiran KH. Sahal Mahfuz dalam bidang fiqh. Semoga bermanfaat.

Artikel kiriman dari Raayyanita Nur Rahmah Sari, Mahasantri Putri IIHS Darus Sunnah Jakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...