Beranda Tokoh KH. Umar Said Surabaya, Sosok Ulama Sekeras Umar bin Khattab yang Disayangi...

KH. Umar Said Surabaya, Sosok Ulama Sekeras Umar bin Khattab yang Disayangi Santri

Harakah.idDalam beberapa waktu dekat ini, Jawa Timur telah kehilangan beberapa sosok ulama seperti Gus Sholah dan lainnya. Namun, ada salah satu ulama dari Surabaya yang pemberitaannya luput oleh media. Beliau adalah KH. Umar Said Surabaya.

Dalam beberapa waktu dekat ini, Jawa Timur telah kehilangan beberapa sosok ulama seperti Gus Sholah dan lainnya. Namun, ada salah satu ulama dari Surabaya yang pemberitaannya luput oleh media. Beliau adalah KH. Umar Said.

Kyai yang terkenal dengan perawakan gagah ini merupakan salah satu murid kesayangan dari Syaikh Muhammad bin Yusuf (Dzuriyyah Sunan Ampel). Beliau menjadi pengisi pengajian rutin di serambi Masjid Agung Sunan Ampel setiap ba’da subuh dan ba’da maghrib di hari senin, selasa, kamis, dan sabtu (selama masih hidup). Selain itu, beliau juga memiliki majlis ta’lim dan pondok pesantren “Bustanus Surur” yang terletak di Jalan Simo Kwagean Kuburan nomor 46 Surabaya (kini dilanjutkan oleh putranya).

KH. Umar Said Surabaya telah kembali ke tempat yang lebih abadi sejak tiga tahun yang lalu, tetapi kisah tentang beliau cukup menarik untuk dikisahkan kembali. Di antara karamah beliau adalah sosok yang keras seperti Umar bin Khattab, tetapi disayangi oleh santri.

KH. Umar Said Surabaya memang telah masyhur dengan karakter ‘keras’ terhadap para santrinya, maksud ‘keras’ di sini adalah ekstra disiplin dalam mengajak para santri semakin dekat kepada Zat yang Maha Membolak-balikkan hati. Karakter ‘keras’ tersebut yang membuat terbentuk opini santri bahwa Kyai Umar mirip dengan Khalifah Umar.

Namun, justru karakter ‘keras’ inilah yang membuat beliau istimewa. Mengapa? Karena santri tak pernah merasa sakit hati setelah dimarahi. Hal ini saya simpulkan dari cerita salah satu santrinya yang bernama Nurullah ketika berbincang akrab dengan saya.

Ia menuturkan bahwa Kyai Umar sering memarahinya karena beberapa kesalahan yang pernah dilakukan (misalnya berkata tidak bisa, padahal belum berusaha, dll), namun ia tak pernah merasa sakit hati, benci, dan emosi setelah dimarahi. Ia sendiri tidak mengetahui penyebabnya, tetapi yang jelas marah Kyai Umar senantiasa dirindukan olehnya. Bagi saya pribadi, hal yang membuat santri tidak merasa sakit hati adalah karena marah tersebut dilandasi nasihat, bukan dilandasi syahwat. 

Selain marah yang selalu dirindukan, KH. Umar Said Surabaya juga terkenal memiliki wibawa yang sering membuat santri tak berdaya. Satu di antaranya santri beliau lainnya (bernama Andriani, pemuda asli Pacitan) pernah bercerita kepada saya bahwa suara sandal Kyai Umar sudah dapat membuat hati para santri berdegup lebih kencang seperti genderang mau perang.

Kisah lucu tentang kewibawaan Kiai Umar adalah ketika beliau bertanya lanjutan halaman pengajian rutin beliau kitab Minhaj al-Abidin karya Imam Ghazali pada salah satu santrinya. Pertanyaan yang terkesan lumrah tersebut ternyata mampu membuat si santri kebingungan dan gelagapan mennyebut nomor halaman (halaman yang benar adalah 51, tetapi yang terucap 31). Setelah pengajian selesai, si santri tadi bercerita kepada rekan santri lainnya bahwa suara Kyai Umar membuat tubuhnya gemetar, sehingga ia bingung sendiri menjawa pertanyaan tersebut. 

Hal ini mengingatkan saya pada sosok Khalifah Umar bin Khattab yang mampu membuat setan memilih jalan lain (walaupun harus memutar arah), daripada terus berjalan di jalan yang dilalui Khalifah Umar bin Khattab. 

Beberapa bulan sebelum KH. Umar Said Surabaya kembali ke tempat yang paling abadi, beliau divonis gagal ginjal oleh ahli kesehatan. Para dokter berpesan kepada beliau agar lebih banyak beristirahat atau dalam arti lainnya mengurangi jadwal pengajiannya. Semakin hari sakit beliau semakin parah, sehingga beliau kemana-mana harus didorong dengan kursi roda.

Selain itu, beliau juga harus rutin melakukan ritus cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu. Lagi-lagi, sakit dan lelah itu tidak mampu membendung beliau menyampaikan ilmu kepada para santrinya, meskipun harus ‘menentang’ pesan dari ahli kesehatan. Dalam salah satu pengajian beliau di serambi Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya, beliau mengatakan bahwa beliau memang sakit parah dan obat serta penawarnya adalah mengaji. Subhanallah.

Mutiara hikmah menyebutkan bahwa contoh adalah nasihat terbaik. Hikmah inilah yang diamalkan oleh KH. Umar Said Surabaya. Beliau mengajarkan cinta ngaji pada putranya tidak dengan ucapan, tetapi dengan perbuatan. Kegigihan beliau dalam mengajarkan ilmu sudah cukup untuk membuat putranya memahami bahwa mencari ilmu itu perlu.

Beliau mengajarkan hormat kepada guru tidak dengan kalimat, tetapi dengan berbuat. Kepatuhan beliau kepada keluarga Syaikh Muhammad bin Yusuf sudah cukup untuk membuat para santri beliau menyadari bahwa sopan santun berada satu tingkat di atas ilmu (al-Adab fauqol ‘ilmi). Bahasa padatnya adalah tindakan adalah nasihat yang paling mudah didengar dan dilakukan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...