Khadijah binti Khuwailid: Perempuan Mulia Berpikiran Maju

0
113

Harakah.id Meskipun harus menyerahkan segala kekayaannya, Khadijah tetap setia, baik terhadap keimanannya maupun kesetiaan cintanya kepada Nabi. Khadijah dalam hal ini terlihat sebagai sosok perempuan modern pada zamannya.

Hari meninggalnya Khadijah binti Khuwailid memiliki nilai penting dalam sejarah. Tahun itu dikenal dengan Tahun Kesedihan (‘am al-huzn). Keistimewaan istri pertama Nabi semasa hidupnya tidak disebabkan kekayaannya. Hemat penulis, keistimewaan Khadijah adalah karena ia merupakan sosok perempuan yang berpikiran maju, bahkan paling maju di zamannya. Itulah mengapa beliau masuk dalam deretan nama-nama orang yang pertama kali menerima Islam (al-sabiquna al-awwalun).

Ada berbagai versi yang menyebutkan kapan meninggalnya Ibunda Sayyidah Fatimah al-Zahra ini. Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad bin al-Jauzi (w. 597 H.) dalam al-Muntadzam fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam menuliskan bahwa Sayyidah Khadijah meninggal tepatnya tiga tahun sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Sedangkan paman Nabi meninggal 35 hari setelahnya. Pendapat lain menyebutkan, Sayyidah Khadijah meninggal tiga hari setelah meninggalnya paman Nabi, Abu Thalib.

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Urwah, bahwa Khadijah meninggal sebelum Nabi hijrah. al-Baladzri juga menyebutkan meninggalnya Khadijah dua tahun sebelum hijrah atau kurang dari itu. Dari perbedaan yang ada, kesimpulan pastinya adalah Sayyidah Khadijah meninggal dunia sebelum Nabi dan beberapa sahabatnya hijrah ke Madinah.

Berbeda dari fokus yang dibicarakan sebelumnya, Muhammad bin Umar al-Aslami tidak berbicara berapa tahun sebelum hijrah Khadijah meninggal dunia. Al-Aslami lebih fokus pada tanggal Khadijah meninggal. Menurutnya, Khadijah meninggal dunia pada tanggal 10 Ramadhan dalam usia 65 tahun. Beliau dimakamkan Hujun. Pada waktu itu belum disyariatkan shalat jenazah.

Kecerdasan Khadijah binti Khuwailid
Pada awal mula Nabi berdakwah dan menyampaikan pesan-pesan Ilahi, masyarakat Arab merasa kaget. Apa yang dimaksud dan dikehendaki oleh Muhammad. Akhirnya muncul reaksi masyarakat atas dakwah Nabi. Mulai dari yang santun hingga yang paling kasar. Baik yang ditujukan kepada Nabi langsung atau lewat sahabat-sahabatnya. Puncaknya adalah rencana membunuh Nabi.

Ada yang menarik untuk kita perhatikan lebih lanjut dari bentuk-bentuk penolakan masyarakat Arab kepada dakwah Nabi. Yakni, Nabi tidak jarang dituduh sebagai pembual, tukang sihir, orang gila, dan ungkapan lain yang sejenisnya.

Tuduhan-tuduhan tersebut menunjukan bahwa apa yang dibicarakan Nabi Muhammad begitu memikat. Namun, karena Nabi tidak memiliki status sosial yang mendukungnya, akhirnya hinaan dan cercaan itulah yang muncul. Bukan kelapangan untuk mendengar, apalagi menerimanya.

Dalam menghadapi suasana seperti itu, peran akal semakin terasa dibutuhkan. Akal yang mampu menembus batas-batas nafsu dan ego. Kecerdasan yang bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Tantangan terberat bagi orang-orang yang paling pertama menerima Islam adalah memfungsikan akalnya dengan baik. Dengan melihat sudut pandang inilah, kita akan membayangkan Khadijah sebagai sosok yang cerdas, baik intelektual maupun emosional.

Mengapa akal yang diketengahkan? Kiranya pernyataan Qadri Hafidz Thuqan dalam Maqam al-‘Aql ‘Inda al-‘Arab bisa membantu membuka titik terang dari pertanyaan tersebut. Thuqan menilai bahwa Nabi merasa kagum ketika melihat kemampuan akal. Ia bahkan melihat bahwa akal adalah pokok serta dasar bagi agama. Ketika Sayyidina ‘Ali bertanya kepada Nabi, Nabi sempat mengatakan akal adalah dasar bagi agama (al-‘aqlu ashlun diniyyun).

Ketika Menjadi Istri Nabi Muhammad SAW
Suatu keutamaan besar menjadi istri seorang utusan Tuhan (rasul). Untuk itu, sebagai bentuk penghormatan tersebut, setiap istri Nabi Muhammad menyandang sebutan sebagai ummul mu’minin (ibunda bagi setiap orang-orang yang beriman). Apabila diperhatikan lebih lanjut, status Khadijah sebagai istri Nabi memiliki perbedaan-perbedaan yang jauh.

Khadijah menikah dengan Muhammad yang belum diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Baru berita berkembang yang menyatakan kelak akan muncul seorang Rasul terakhir. Sementara yang lainnya, setelah Khadijah meninggal dunia, menjadi istri Nabi setelah jelas-jelas Muhammad menjadi Rasul dan memiliki beberapa pengikut.

Lama setelah membina rumah tangga dengan Khadijah, Nabi baru diangkat menjadi rasul. Ditandai dengan turunnya wahyu. Khadijah tidak lantas berpikiran bahwa Muhammad-lah yang telah ditetapkan sebagai rasul terakhir itu. Oleh sebab itu, dibawalah Muhammad kehadapan pamannya setelah mengalami peristiwa yang tidak biasa.

Setelah Nabi membuka tabir diri sebagai utusan Ilahi, Khadijah dengan tanpa ragu untuk mengimani. Atas dasar cintakah iman ini, atau berdasarkan pengetahuan yang berhasil diserap oleh Khadijah dengan baik?

Dalam hal ini kita akan menggunakan Abu Lahab sebagai perbandingannya. Di samping sebagai kerabat dekat Nabi, Abu Lahab adalah salah satu orang yang sangat bahagia ketika Siti Aminah mengantarkan Muhammad menghirup udara hidup di dunia. Bahkan, Abu Lahab memerdekakan salah satu budaknya, sebagai wujud kebahagiaan tersebut. Namun, ketika Nabi menyerukan ajaran Ilahi, Abu Lahab adalah sosok terdepan yang menolak bahkan mencela Nabi, keponakannya sendiri dan orang yang sangat ia cintai sebelumnya.

Kembali kepada Khadijah. Memang tidak bisa dikesampingkan sepenuhnya pengaruh rasa cintanya terhadap keputusannya untuk mengimani dan menjadi pembela setiap perjuangan Nabi setelah resmi menjadi Rasul. Pengetahuan dan tetap menjaga akal sehat sehingga dengan kecerdasannya mampu membaca dan melihat masalah dengan jernih menjadi perangkat yang tidak bisa diragukan dalam diri Khadijah. Untuk itulah, baik dalam keadaan senang maupun susah, meskipun harus menyerahkan segala kekayaannya, Khadijah tetap setia, baik terhadap keimanannya maupun kesetiaan cintanya kepada Nabi. Khadijah dalam hal ini terlihat sebagai sosok perempuan modern pada zamannya.

Tidak salah lagi mengapa Khadijah menjadi istri tercinta Nabi. Sampai-sampai Sayyidah ‘Aisyah sempat cemburu, karena ketidak-tahuannya.