fbpx
Beranda Muslimah Berani Mendebat Nabi, Khaulah binti Tsa’labah, Perempuan yang Aduannya Didengar Allah

Berani Mendebat Nabi, Khaulah binti Tsa’labah, Perempuan yang Aduannya Didengar Allah

Harakah.id – Khaulah binti Tsa’labah adalah contoh perempuan yang berani menyampaikan pendapatnya dan berdebat dengan Nabi Muhammad, dan Nabi sangat menghargainya.

Kebebasan menyampaikan pendapat adalah hak dasar manusia. Tidak ada yang bisa menghalanginya, termasuk agama sekalipun. Kelompok yang dilemahkan (mustadh’afin) kerap mendapatkan intimidasi untuk tidak membantah sistem yang berlaku, meskipun sistem tersebut dirasa tidak bisa dibenarkan. Perempuan, sebagai salah satu kelompok yang kerap dipandang sebelah mata, dalam budaya patriarki tidak sedikit yang dipaksa untuk tunduk dan menerima apa adanya. Khaulah binti Tsa’labah adalah contoh perempuan yang berani menyampaikan pendapatnya dan Nabi Muhammad sangat menghargainya.

‘Ali ‘Abdul Fatah dalam A’lam al-Mubdi’in min ‘Ulama’ al-’Arab wa al-Muslimin menyatakan, Khaulah binti Tsa’labah adalah perempuan yang pernah berdebat dengan Rasulullah dalam masalah agama. Dari apa yang dilakukan tersebut, Khaulah menjadi yakin dan dalam pemahamannya. Ia juga sadar, dalam Islam pendapat harus didiskusikan. Di antara hak perempuan Muslimah adalah bebas menyampaikan pendapatnya dengan tanpa dibatasi.

Baca Juga: Zainab Bintu Jahsy, Profil Ketakwaan dan Kedermawanan

Khaulah adalah istri Aus bin Shamit. Beliau adalah perempuan pemberani, memiliki pemikiran yang tajam, dan pemahaman agama yang dalam serta orisinil. Keberanian Khaulah bisa dianggap sebagai sifat yang jarang dimiliki oleh perempuan pada umumnya, terutama perempuan-perempuan pada masa pra-Islam dan awal-awal Islam berkembang. Luasnya pengetahuan Khaulah membuat Umar bin Khaththab kagum. Bahkan, Umar pernah meminta Khaulah untuk memberi nasihat dan masukan untuknya.

“Wahai Umar, ingatlah pada janjimu. Engkau adalah sosok yang telah membangun Pasar ‘Ukkâdh. Engkau mengurus (mendidik) anak-anak dengan tongkatmu. Hari tidak berlalu sampai engkau disebut sebagai Umar. Kemudian hari-hari terus berlalu sampai engkau disebut sebagai amîr al-mu’minîn (pemimpin orang-orang yang beriman). Takutlah kepada Allah ketika mangurus rakyat-rakyatmu. Ketahuilah, barang siapa yang takut pada ancaman-ancaman Allah, maka sesuatu yang jauh akan terasa dekat. Barang siapa yang takut mati, maka ia akan takut terputusnya (nikmat Allah). Dan barang siapa yang yakin akan hisab (penghitungan amal, baik maupun buruk), maka ia akan takut pada adzab (Allah)”.

nucare-qurban

Begitulah kurang lebih nasihat Khaulah yang disampaikan kepada Umar bin Khaththab. Meskipun ada beberapa orang dekat sahabat Umar yang menegur Khaulah karena berani menasehati ayahanda Abdullah bin Umar, Umar bin Khaththab justru mengingatkan kepada orang-orang tersebut. Ia mengatakan, tahukah kalian siapa gerangan yang telah menasihatiku? Ia adalah Khaulah, seseorang yang suaranya telah Allah dengar. Untuk itu, Umar semestinya lebih harus mendengarnya.

Perempuan yang Suaranya Didengar Allah

Para Ulama mengaitkan antara pengaduan Khaulah atas sikap suaminya, sebagaimana akan kita lihat dalam penjelasan selanjutnya, sebagai sebab diturunkannya QS. Al-Mujadalah ayat 1. Untuk itu, perlu kiranya kita lihat bunyi ayat tersebut.

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (permasalahannya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib menjelaskan asal muasal mengapa ayat ini turun. Menurutnya, ketika Khaulah sedang shalat, Aus bin Shamit memperhatikannya. Hingga akhirnya nafsu Aus tumbuh dan meningkat. Selesai Khaulah shalat, Aus mengajaknya untuk berhubungan badan. Khaulah menolak. Aus kemudian marah dan menyebut bahwa Khaulah mirip dengan ibunya. Dalam literatur fikih, ungkapan itu disebut dzihar. Yakni, menyamakan istrinya dengan ibunya atau mahramnya.

Dzihar dalam tradisi masyarakat Arab sangat menyakiti hati seorang perempuan. Untuk itu, konsekuenai dari dzihar adalah bagi pihak suami tidak boleh menyentuh istrinya. Sebelum turunnya surat ini, dzihar sama dengan talak (cerai). Yang menarik, Khaulah ketika mengadu kepada Nabi Muhammad atas perbuatan suaminya adalah karena dasar mempertimbangkan nasib anak-anaknya, sebagaimana bisa kita temukan dalam penjelasan Ar-Razi.

Ketika mengadu kepada Nabi, Khaulah mengatakan bahwa dia memiliki anak-anak yang masih kecil. Apabila anak-anak tersebut diserahkan kepada Aus supaya merawatnya, maka mereka akan disia-siakan dan tidak terawat. Sementara, apabila anak-anak tersebut ia urus sendiri, mereka akan hidup dalam kelaparan. Karena Khaulah bukan termasuk orang yang banyak harta, entah pekerjaan ia punya atau tidak.

Baca Juga: Kisah Sahabat Nabi Menawar Racun Kalajengking dengan Surah Al-Fatihah

Pada mulanya, Nabi memberikan satu jawaban, yakni mereka berdua sudah tidak bisa seperti semula. Sementara Khaulah berpendapat semestinya harus ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak bisa dibenarkan hukum awal tentang dzihar diberlakukan terhadap masalah yang sedang ia hadapi. Sebagaimana telah kita jelaskan bagaimana nasib anak-anak Khaulah selanjutnya. Dalam keadaan yang membingungkan ini, akhirnya Khaulah mengadahkan tangan ke atas dan berseru lantang dan menangis;

اَللهُمَّ إِنِّي أَشكُو إِلَيكَ مَا نَزَلَ بِي

“Ya Allah, sesungguhnya saya mengadu kepada-Mu terkait masalah yang telah menimpaku ini”.

Permintaan ini tidak henti-hentinya selalu ia panjatkan. Akhirnya, turunlah QS. Al-Mujadalah ayat 1 di atas. Sementara solusinya tertera dalam QS. Al-Mujadalah ayat 3, yakni;

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Jawaban yang diberikan Allah sebenarnya tidak lantas masalah yang dihadapi oleh Khaulah bisa teratasi dengan baik. Sebab, semua yang ditawarkan sebagai solusi berkaitan dengan materi. Sementara Aus bin Shamit bukanlah orang yang memiliki kekayaan lebih. Sementara puasa sebagai solusi yang tidak berbau materi juga tidak bisa dilakukan oleh Aus bin Shamit. Sebagaimana dijelaskan dalam sejarah, Aus adalah laki-aki yang telah lanjut usia. Untuk itu, sebagai tawaran yang terakhir, Aus bin Shamit diharuskan untuk memberi makan enam puluh orang miskin, itu pun atas shadaqah Nabi yang diberikan kepada Aus untuk membantu menyelesaikan masalah yang tengah membelitnya.

Baca Juga: Sejarah Lengkap Aliran Salafi-Jihadi: Pertemuan Berbagai Kepentingan [2]

Kisah Khaulah binti Tsa’labah adalah pelajaran berharga bahwa menyampaikan pendapat adalah hak dasar manusia. Nabi Muhammad menghargai hal tersebut. Kisah Khaulah juga menjadi pelajaran berharga bahwa beliau, sebagai perempuan, berpikir selangkah lebih maju dibandingkan suaminya, laki-laki.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

Cara Rasulullah Mendoakan Orang Sakit dan Kesunnahannya yang Tidak Gugur Meski Pandemi

Harakah.id – Menjenguk dan mendoakan orang yang sakit adalah sunnah. Namun di masa pandemi, ketika berkontak fisik dilarang, apakah kesunnahannya berangsur...

Tradisi Bertawassul Sudah Ada Sejak Zaman Ulama Salaf, Ini Buktinya…

Harakah.id - Pada zaman ini sebagian umat Islam dibingungkan tentang boleh tidaknya tawassul. Padahal tawassul sudah menjadi amalan rutin kebanyakan kaum muslimin. Entah dari...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...