Beranda Headline Khotbah Jum’at: Islam dan Perintah Menjaga Lisan

Khotbah Jum’at: Islam dan Perintah Menjaga Lisan

Harakah.idLisan juga bisa menjerumuskan kita ke dalam kubangan maksiat jika kita tak pandai menjaganya.

Oleh: M. Nurul Huda[1]

Khotbah Pertama

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Hadirin, Jama’ah Ju’mat Rahimakumullah…

Mari kita bangun kesadaran kita untuk senantiasa meningkatkan kadar ketakwaan kita masing-masing,. Yakni dengan  menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Takwa inilah yang akan menjadi bekal kita, baik untuk kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.

فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Bekal terbaik adalah takwa kepada Allah SWT”[2]

Hadirin, Jama’ah Ju’mat Rahimakumullah…

Dalam tubuh kita, ada satu bagian yang tidak bertulang, namun memiliki dampak yang sungguh luar biasa besarnya.  

Apa bagian tubuh itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah lisan atau lidah.

Lidah adalah bagian tubuh yang dapat mendatangkan manfaat di satu sisi, namun di sisi yang berbeda juga dapat menimbulkan mudarat yang begitu besar.

Kita akan mendapat banyak pahala hanya dengan perantara lisan. Misalnya, untuk berzikir, membaca Al-Qur’an, atau mengajar, atau hal lainnya.

Namun begitu juga sebaliknya. Lisan juga bisa menjerumuskan kita ke dalam kubangan maksiat jika kita tak pandai menjaganya. Betapa banyak pertengkaran atau perselisihan terjadi yang disebabkan karena ketidakmampuan seseorang menjaga lidahnya.

Hadirin, Jama’ah Ju’mat Rahimakumullah…

Kalau kita membaca Al-Qur’an, akan kita temui begitu banyak ayat yang membahas tentang pembicaraan, yang dalam bahasa Arab disebut dengan Qaulan. Ada ayat yang menyebut, misalnya, Qaulan Sadida, Qaulan Baligha, Qaulan Kariman, Qaulan ‘Adzima, dan masih banyak lagi.

Ini menunjukkan betapa besar perhatian Al-Qur’an terhadap masalah pembicaraan dan perkataan. Salah satunya adalah  firman Allah surat al-Ahzab ayat 70 dan 71:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Setelah Allah memerintahkan orang beriman untuk bertakwa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ

Pada ayat tadi Allah lanjutkan:

وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا = Ucapkan perkataan yang benar!.[3]

Hadirin, Jama’ah Ju’mat Rahimakumullah…

Ayat ini secara tegas menyebutkan takwa dan kemudian disusul dengan perintah berkata benar. Mungkin sebagian kita ada yang bertanya,

“Pak Ustaz, bukankah menjaga lisan itu sudah termasuk dalam ketakwaan?, Mengapa disebutkan secara tersendiri?”.

Ulama menjelaskan, menjaga lisan memang bagian dari ketakwaan. Namun, disebutkannya “perintah menjaga lisan” secara berdiri sendiri itu bukan tanpa maksud dan tanpa makna. Hal ini menunjukkan betapa “menjaga lisan” adalah hal yang utama dan memiliki porsi penting dalam beragama.[4]

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا ، أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang benar atau diam”[5]

Lewat hadis ini, secara tegas disebutkan hubungan antara keimanan dengan perkataan. Yang mana semakin seseorang beriman, maka semakin pula ia bisa menjaga lisannya dari perkataan yang buruk.

Makna lainnya adalah bahwa salah satu hal yang bisa digunakan untuk mengukur keimanan seseorang adalah seberapa besar seseorang memperhatikan lisannya. Iman dan menjaga lisan adalah hal yang berjalan beriringan.

Hadirin, Jama’ah Ju’mat Rahimakumullah…

Apa yang kita ucapkan, apakah itu perkataan baik atau buruk, maka itu akan selalu ada malaikat yang mencatatnya.

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkan pun melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat”[6]

Hadirin, Jama’ah Ju’mat Rahimakumullah…

Seiring berjalannya waktu dan canggihnya teknologi, kini, kita tidak saja hidup di dunia nyata, namun juga dunia maya. Sehingga menjaga lisan pun hendaknya kita lakukan juga di dunia maya.

Dalam interaksi di dunia maya, bisa jadi lisan kita tidak bicara, namun jari kita mengetik atau menulis. Dan itu hendaknya juga harus kita perhatikan. Jangan sampai kita mengetik berita provokasi, menulis kabar hoax, memproduksi dan menyebarkan fitnah, dan lain-lain.

Sehingga, jika dulu ada istilah “Mulutmu Harimaumu” sekarang bisa jadi berubah, “Mulutmu dan jarimu adalah Harimaumu”.

Hadirin, Jama’ah Ju’mat Rahimakumullah…

Berapa banyak kita saksikan atau bahkan kita alami sendiri. Terjadi pertengkaran di media sosial, atau grup-grup Whatsapp, yang itu semua disebabkan karena ketidakmampuan anggota grup dalam menjaga jarinya untuk tidak menulis atau menyebar tulisan-tulisan, berita-berita, yang bisa memicu perselisihan. Baik dalam bidang agama, politik, budaya, atau lainnya.

Hadirin, Jama’ah Ju’mat Rahimakumullah…

Lidah memang tidak bertulang, namun efeknya lebih tajam daripada pedang. Lisan yang tak dijaga itu ibarat paku yang menancap pada kayu. Meski telah dicabut, masih tetap akan menyisakan bekas.

Jika pedang menyayat tubuh, masih ada harapan sembuh.

Namun, jika lidah melukai hati, kemana obat hendak dicari.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ  

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ

وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Mahasiswa Pascasarjana IIQ Jakarta, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

[2] QS. al-Baqarah [2]: 197

[3] QS. al-Ahzab [33]: 70-71

[4] Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, Mahasin al-Takwil (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1418), vol. 8, hal. 123.

[5] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih (Kairo: Dar al-Sya’b, 1987), vol. 8, hal. 125.

[6] QS. Qaf [50]: 18

Download di sini.

REKOMENDASI

Macam-Macam Zakat yang Harus Kita Bayar Ketika Memenuhi Syarat

Harakah.id - Macam-macam zakat ini wajib kita bayar jika telah memenuhi syarat. Secara garis besar, ada dua macam zakat, yaitu zakat...

Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Harakah.id - Kiai Ridwan menggambar lambang NU berdasarkan mimpi dari salat istikharah yang dilakukannya. Lambang yang kemudian disetujui Kiai Hasyim Asy'ari...

“Kunikahi Engkau dengan Mahar Hafalan Surat Ar-Rahman”; Romantis Sih, Tapi Apa Boleh?

Harakah.id - Mahar hafalan surat-surat dalam al-Quran kian trend. Pasangan laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan semakin tampak romantis dan islami...

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.id - Muhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...