Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan Sorban

0
296
Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan Sorban

Harakah.idKiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain dikenal karena kesaktiannya, Kiai Abbas juga dianggap piawai menyusun siasat perang.

Ketika Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaannya. Keberadaan negeri ini tidak serta merta merdeka seutuhnya. Ancaman akan kolonialisme dan imperialisme baru yang sekian lama menghantui bumi pertiwi hadir di depan mata. Berawal dari tragedi pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya kemudian disusul dengan kedatangan sekutu Inggris hingga terbunuhnya Jenderal Mallaby menjadi deretan pemicu konfrontasi. Sehingga menimbulkan pertempuran dahsyat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Kini dikenal dengan peristiwa pertempuran Surabaya tahun 1945.

Atas dasar inilah, pada tanggal 21-22 Oktober, Nahdlatul Ulama melaksanakan rapat besar Ulama Konsul se-Jawa dan Madura hingga menghasilkan keputusan yang diprakasai KH. Hasyim Asy’ari yang menyatakan bahwa “Untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut Hukum Islam, termasuk sebagai kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam,” tulis Agus Sunyoto dalam Fatwa dan Resolusi Jihad (2017).

Petisi ini kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad. Lahirnya Resolusi Jihad memberi angin positif bagi seluruh umat Islam di Surabaya dan rakyat Indonesia. Semangat kebangsaan muncul dari kalangan muda maupun tua. Dari beragam etnis, suku, dan agama. Meski memiliki perbedaan satu sama lain. Namun, mereka memiliki satu semangat dan menjadi satu ikatan bersama. Sebab dalam diri mereka tersimpan perasaan atas nasib yang sama. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah nasionalisme.

Karenanya, nasionalisme di Indonesia muncul karena semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Bahwa Indonesia memiliki kesamaan sejarah dari masa kerajaan hingga era penjajahan. Ditambah komitmen persatuan dan kesetiaan serta rela berkorban demi kedaulatan bangsa dan negara.

Agus Sunyoto dalam Fatwa dan Resolusi Jihad (2017) mengatakan, pertempuran yang terjadi di Surabaya tidak hanya dilakukan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR), politisi secara diplomasi, melainkan dari berbagai kalangan seperti rakyat kecil hingga ulama-santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Para kiai dan ulama dari beragam tempat di Pulau Jawa berbondong-bondong datang ke Surabaya.

Tidak terkecuali dengan Kiai Abbas. Ia adalah generasi keempat keturunan Mbah Muqoyyim (pendiri Pondok Buntet Pesantren Cirebon). Kiai Abbas dikenal sebagai kiai kharismatik yang memiliki ilmu ke Islaman yang mumpuni, keteduhan spritualnya, dan kekuatan ilmu kanuragan serta mahir dalam strategi perang menjadikannya sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatannya dalam pertempuran Surabaya 1945 yang kelak dikenal sebagai Hari Santri Nasional dan Hari Pahlawan.

Keterlibatan Kiai Abbas di Pertempuran Surabaya 1945

Dalam Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad (2014) Bizawie menuturkan, pertempuran Surabaya terjadi dalam dua fase. Fase pertama pada tanggal 27-29 Oktober 1945. Fase kedua 10-25 November 1945.

“Pada fase pertama, Kiai Abbas tidak ikut serta dalam pertempuran tersebut. Dikarenakan saat itu jarak antara Cirebon-Surabaya sangat jauh dan memerlukan waktu berhari-hari. Namun, sebelum pertempuran pertama terjadi. Kiai Abbas ikut hadir dalam pertemuan Konsul Ulama se-Jawa dan Madura yang melahirkan fatwa Resolusi Jihad. Pada fase kedua, Kiai Abbas terlibat langsung dan mengatur langkah-langkah taktis guna menghadapi sekutu. Seperti mempersiapkan pasukan Hizbullah dan Sabilillah di Pondok Buntet Cirebon dan mengirim pasukannya ke Surabaya,” tulis Erik Syarifudin Baharsyah dalam Peran Kiai Abbas Buntet Cirebon dalam Pertempuran Surabaya 1945 (2018).

Menurut Zaini Hasan dalam Perlawanan dari Tanah Pengasingan (2014) mengungkapkan, selain mengutus pasukan ke Surabaya, Kiai Abbas juga membentuk jaringan telik sandi santri yang membentang dari Cirebon ke arah timur hingga ke Surabaya. Jaringan telik sandi ini yang kemudian dikenal dengan pasukan Asybal (pasukan pengintai yang terdiri dari remaja berusia 17 tahun, didirikan oleh para sesepuh Buntet, yang bertugas mengawasi guna mengetahui gerakan musuh sekaligus sebagai penghubung dari daerah pertahanan hingga ke daerah front terdepan. Strategi ini yang kemudian diteruskan hingga ke markas besar NU di Jawa Timur di bawah komando KH. Bisri Syansuri. Kordinasi antar lini inilah yang menjadi efek dahsyat seputar persiapan pertempuran Surabaya.

“Dikisahkan pada malam 10 November. Surabaya dalam keadaan menegangkan. Seluruh elemen rakyat tidak terkecuali ulama-santri telah mempersiapkan diri di posisinya masing-masing untuk melakukan penyerangan. Saat itu mereka menunggu instruksi komando tertinggi KH. Hasyim Asy’ari. Namun, Mbah Hasyim belum juga mengeluarkan keputusan dengan alasan menunggu kedatangan Kiai Abbas Buntet yang juga diikuti kiai lain seperti Kiai Syatori Arjawinangun, Kiai Syamsuri Wanantara, dan adik kiai Abbas (Kiai Anas, Kiai Akyas, Kiai Ilyas),” tulis Bizawie dalam Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad (2014).

Menurut Munib Rowandi dalam Kisah-kisah Buntet Pesantren (2012) berdasarkan kesaksian Abdul Wachid (pengawal Kiai Abbas) mengatakan, saat akan menuju Surabaya, Kiai Abbas beserta rombongan singgah terlebih dahulu di kediaman Kiai Bisri Rembang Jawa Tengah. Pada malam hari selepas Isya’. Para Kiai yang berjumlah 15 orang mengadakan musyawarah dan memutuskan bahwa komando pertempuran dipercayakan kepada Kiai Abbas.

Setibanya di Surabaya, Kiai Abbas disambut gemuruh takbir dan pekikan merdeka. Tak terkecuali para kiai, ulama-santri yang datang dari berbagai daerah. Mereka telah mempersiapkan penyerangan terhadap sekutu. Kiai Abbas kemudian menginstruksikan kepada seluruh pejuang bahwa penyerangan akan dilakukan menjelang fajar. Ia beralasan, saat perang hunain dimulai, kanjeng nabi melakukanya ketika waktu fajar tiba. Maka pada saat itu juga instruksi segera dilaksanakan.

Setelah menunggu sekitar dua jam. Ultimatum pertempuran dimulai dengan ditandai serangan meriam kapal di lepas pantai Surabaya dan disertai pemboman tempat penting di dalam kota oleh sekutu. Hingga perang maha dahsyat pun pecah seketika. Meski hanya menggunakan bambu runcing dan bedil ala kadarnya. Para pejuang pantang mundur terus menggempur sekutu hingga mati dalam pertempuran lebih baik daripada hidup terjajah. 

Ahmad Mansyur Suryanegara dalam Api Sejarah 2 (2010) mengutarakan bahwa perang tersebut banyak sekali hal yang sukar dimengerti dan di luar logika. Namun, hal itu dibuktikan oleh para ulama dengan potensi Spritualnya. Tidak terkecuali Kiai Abbas. Ia diyakini dapat meruntuhkan serangan udara Sekutu hanya dengan mengarahkan sorban dan tongkatnya. Seketika pesawat itupun hancur di udara.

Selama pertempuran, Surabaya di bombardir. Darah suci tanpa pamrih mengalir di sisi sudut kota. Sehingga memakan ribuan korban. Saat itu, tepatnya pada tanggal 23 November, Surabaya dalam kendali arek-arek Suroboyo. Namun, Sekutu segera mengambil alih. Rakyat murka dan tidak tinggal diam. Mereka terus melawan dengan cara gerilya, sebab perjuangan belum usai dan harus tetap diteruskan. Tulis Bizawie dalam Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad (2014).

Perjuangan Harus Tetap Diteruskan

Resolusi Jihad yang dimotori KH. Hasyim Asy’ari merupakan suatu bentuk keputusan strategis dan bernilai besar dalam memberikan dukungan moril kepada pemimpin bangsa dan mengobarkan semangat patriotisme santri, rakyat, dan ulama dalam revolusi fisik melawan penjajah melalui implementasi nilai-nilai religius di dalamnya. Para kiai keluar dari pesantren, memimpin perlawanan sampai titik darah penghabisan dan memberikan komando dalam pertempuran merupakan contoh keteladanan nyata bahwa Islam mengajarkan setiap umatnya untuk mencintai tanah air dengan segenap potensinya baik pikiran, waktu, harta dan nyawa. 

Bagi kiai Abbas setelah petempuran yang terjadi di Surabaya, pihak sekutu tidak akan menyerah begitu saja. Untuk itu setelah peristiwa tersebut berakhir, perjuangan kiai Abbas tetap diteruskan. Hal ini dibuktikan dengan langsung mempersiapkan pasukan di wilayah Cirebon dan dilatih disebuah markas Hizbullah yang berada di daerah mundu yang nantinya akan dikirim keberbagai wilayah di Jawa Barat untuk melakukan perang gerilya melawan sekutu. Tulis Erik Syarifudin Baharsyah dalam Peran Kiai Abbas Buntet Cirebon dalam Pertempuran Surabaya 1945 (2018).

Dalam hal ini pesantren Buntet bukan hanya tempat pengetahuan Islam semata melainkan juga diajarkan mengenai prinsip dan paham kebangsaan sebagai bekal untuk berkhidmat kepada bangsa, negara dan agama. Pada titik inilah dapat dikatakan nasionalisme Kiai Abbas beserta santri-santrinya tumbuh subur dan memegang peranan besar dalam mencapai perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pasca pertempuran Surabaya 1945 adalah bukti nyata peran serta pengaruh yang begitu besar dari Kiai Abbas dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sosok kiai nasionalis dan kharismatik yang mempunyai jiwa pemimpin serta keberaniannya menjadikan ia sebagai salah satu tokoh pejuang pada masa revolusi kemerdekaan. Kecintaanya terhadap tanah air membuktikan bahwa nasionalisme kiai Abbas patut untuk diperbincangkan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sosok pemimpin tangguh yang dijadikan komandan perang hingga menentukan waktu pertempuran dan berhasil mengobarkan semangat patriotisme bagi para pejuang merupakan suatu bentuk Nasionalisme Anti-Kolonial. Artinya, bagi kiai Abbas nasionalisme adalah suatu komitmen bersama dalam menantang segala bentuk penjajahan yang harus dilawan dan dibumi hanguskan.

Oleh sebab itu, mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara adalah sebagian dari iman dan syarat mutlak menjadi bangsa yang merdeka adalah harus lepas dari belenggu kolonialisme yang merupakan impian bagi seluruh rakyat Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nasionalisme Kiai Abbas diartikan sebagai kesadaran bersama (kolektif) untuk mempersatukan umat Islam dalam rangka berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Sikap dan perilaku Kiai Abbas dalam menentang sekutu memang mewarisi watak perjuangan dari pendahulunya yakni Mbah Muqoyyim (pendiri Pondok Buntet Pesantren Cirebon). Sejak dahulu Mbah Muqoyyim selalu non-koperatif terhadap penjajah. Perlawanan dan pelariannya semasa hidupnnya menjadikannya sosok yang sangat disegani dan dibenci oleh penjajah. Inilah yang kemudian menjadi acuan bagi Kiai Abbas untuk tetap meneruskan sikap dan kedigdayaanya. Tidak terkecuali bagi para generasi selanjutnya di Pondok Buntet Pesantren Cirebon seperti KH. Mustahdi Abbas, KH. Mustamid Abbas, KH. Abdullah Abbas dan KH. Nahduddin Abbas yang memiliki pengaruh besar di wilayah lokal maupan nasional.