Beranda Rekomendasi Kiai Ali yang Tak Segan-Segan Menggergaji Kepala Santrinya: Sebuah Obituari

Kiai Ali yang Tak Segan-Segan Menggergaji Kepala Santrinya: Sebuah Obituari [2]

Harakah.idEmpat tahun meringsut sejak kepergian beliau yang mulia; salah seorang ‘alim yang mengabdi pada sunnah Nabi dan tegas mengoreksi segala macam prilaku serta tindakan beragama yang mulai kehilangan isi.

Di tengah gesekan keras yang terjadi antara prilaku konsumtif masyarakat dengan pola keberagamaan yang semakin komoditif, doktrin-doktrin keagamaan tampaknya semakin tercerabut dari akar rumputnya dan misi untuk apa ia diturunkan. Kiai Ali Mustafa Yakub adalah manusia yang sadar dan mengabdikan hidupnya untuk menjaga keutuhan “hakikat” dalam beragama.

Dakwah adalah darah yang mengalir di nadinya. Berkhidmah pada masyarakat membenih daging yang tumbuh sejak belia, berbunga cita-cita di usia muda dan membuahpengabdian pada masyarakat Papua. Sepulang dari perantauan, keinginan terkuatnya adalah mengabdikan diri di pulau paling timur Indonesia. Ambisinya ini tak pernah surut sedikitpun, terus mendesir layaknya gemericik permukaan sungai yang tersapu angin.

Berdakwah bukan kerja merusak apalagi mengganti. Berdakwah adalah merawat dan menyempurnakan tradisi. Jenggot, surban dan jubah adalah beberapa hal yang seringkali beliau contohkan sebagai doktrin yang tidak perlu dibesar-besarkan. Di pesantren, beliau melarang santrinya untuk bergamis layaknya orang Arab. Berpakaianlah seperti tradisi dan adat istiadatnya! Bersarung adalah ciri, dan itu yang beliau pilih untuk dihidupi di tanah sendiri.

Dakwah adalah kemurnian. Ia tidak boleh dirusak dengan uang, citra atau kepentingan. Dalam hidupnya, beliau adalah seorang “Marxis-Kiri” jika kasusnya adalah “setan-setan berkalung sorban”. Sempat beliau dengan keras mengatakan, “jika santri-santri saya meminta bayaran ketika diundang, akan saya gergaji kepalanya sampai terbelah dua!” Maka jangan pernah kau ikuti mereka yang menjual agama demi beberapa lembar uang dan citra-jabatan, adalah pesan yang terus beliau ulang. Pernah suatu saat terjadi kasus seorang Ustadz yang tidak mau menghadiri sebuah undangan karena bayaran tidak sesuai standart dan perjanjian. Di halaqah pagi itu, suasana masjid mendung; duka beliau menghabiskan seluruh menit jalsah dengan nasehat dan petuah-petuah. 

Dakwah bukanlah bisnis, maka hidup sesederhana mungkin. Uang kadangkala menutupi mata hati manusia, sehingga agama dan Tuhan pun dia sebut hanya untuk sebuah gaya hidup yang mentereng dan fana’. Mobil beliau satu dan tangguh, seringkali beliau jadikan contoh untuk membeli barang seefisien dan sefektif mungkin. Ia kuat, mampu membelah banjir dan masih relatif nyaman dalam kemacetan ibukota. Punya banyak mobil adalah pemborosan, seluruhnya mustahil dipakai dalam waktu bersamaan. Hidup itu murah dan sederhana, gaya hiduplah yang membuatnya mahal dan rumit. Para Ustadz seleb seringkali tidak memperlihatkan apa yang disampaikan mulutnya sendiri.

Para setan berkalung sorban, secara genealogi, adalah rahim yang melahirkan haji-haji pengabdi setan. Laku kapitalis dan hedonis-agamis juga beliau tentang. Nabi hanya berhaji sekali, umatnya yang bernafsu haji berkali-kali. Pernah suatu hari saya disuruh menulis Bisyr bin Hafi, salah seorang sufi yang kisahnya beliau inginkan tertulis di majalah pesantren kami. Kisah tentang bagaimana kepekaan sosial jauh lebih baik dibanding memuaskan hasrat kapitalistik dalam beragama seorang individu. Beliau juga kerap memberikan permisalan: lebih baik kita bangun jembatan agar orang bisa menyebrang sungai dan bekerja dibanding haji kita ulang-ulang, tanpa faidah dan hanya menyisakan kebanggaan yang kita nikmati sendiri dalam kesombongan.

Dakwah adalah jalan hidupnya. Perhatiannya pada Papua adalah nadi perjuangannya. Bergerak untuk kemashlahatan orang banyak adalah dinamo yang menggerakkan seluruh bangunan fisik, mentalitas dan cara berpikirnya. Hadis-hadis yang beliau pelajari tak hanya menjadi hafalan semata, lebih jauh, sabda Nabi berwujud nyata dan menyentuh masyarakat dengan ucap-fikirnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...