Beranda Kolom “Kiai Catur” dan Pengajian Kitab; Kisah Munculnya Pengajian-Pengajian Kitab Karena Catur

“Kiai Catur” dan Pengajian Kitab; Kisah Munculnya Pengajian-Pengajian Kitab Karena Catur

Harakah.idMunculnya pengajian-pengajian kitab karena catur bukanlah kisah fiksi. Ada beberapa pengajian yang diampu oleh seorang Kiai, yang mulanya disebabkan oleh permainan benteng dan kuda tersebut. Bahkan beberapa kiai dikenal piawai memainkan bidak-bidak catur.

Catur merupakan permainan yang populer di semua kalangan. Ia dapat dimainkan oleh para abang ojek dan tukang becak di tepi jalanan. Tak hanya itu, catur juga dipertandingkan dalam kejuaraan elit yang mempertemukan para grand master bahkan di level dunia.

Di kalangan pesantren, catur memang kalah populer dibanding olahraga lainnya, seperti sepak bola. Dengan mengutamakan kolektivitas, santri yang kesehariannya memang hidup dalam kebersamaan tak heran jika lebih menyukai sepak bola sebagai hiburan sekaligus olahraga. Selain bisa dimainkan oleh banyak orang, sepak bola kerapkali juga menimbulkan kebahagiaan dan tawa – dan tentunya keringat. Dalam istilah Jawa, permainan sepak bola lebih “gayeng” dibanding catur. Maka tak pelak, santri dan sepak bola menjadi variabel yang sukar sekali dipisahkan.

Karena itu juga, banyak kiai yang menggemari sepak bola sejak mereka menjadi santri. Salah satunya ada Gus Dur. Selain dikenal sebagai pemain dan penggemar sepak bola, Gus Dur juga dikenal sebagai seorang analis sepak bola. Tulisannya tentang sepak bola berserakan di Majalah Tempo maupun Tabloid Bola. Selain Gus Dur, Gus Mus dan Habib Quraish Shihab juga dikenal suka sepakbola. Ketiganya, selama masih kuliah di Mesir, sering bermain bersama dalam satu klub sepakbola mahasiswa.

Namun ada juga di kalangan kyai yang menggemari permainan catur. Guru kami, KH. Afifuddin Dimyathi – atau yang akrab disapa Gus Awis, terkenal piawai memainkan bidak catur, mengatur strategi pergerakan pion, bahkan tercatat pernah menjadi juara nomor wahid di kejuaraan catur ketika masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah.

Selain Gus Awis, seorang Kiai sepuh nan alim yang menggemari catur adalah KH. Sya’roni Ahmadi. Kiai pakar tafsir dari Kudus ini – selain juga penggemar berat sepak bola (kalau tak salah klub kesukaan beliau adalah MU dan juga Persiku) –, juga pandai memainkan catur. Konon, beliau juga pernah ikut serta dalam kejuaraan atau perlombaan catur dari tingkat bawah hingga tingkat kabupaten di masa mudanya. Dan menariknya, Kiai Sya’roni ternyata cukup piawai dan seringkali memenangkan pertadingan.

Kegemaran Kiai Sya’roni akan permainan catur juga tak hilang saat beliau sudah sepuh. Nah kisah munculnya pengajian-pengajian kitab karena catur, salah satunya bermula dan bisa kita saksikan dari kisah Kiai Sya’roni dan catur berikut ini;

Cerita ini bermula ketika pengajian umum kitab Tafsir Jalalain yang beliau ampu secara rutin setiap malam Kamis. Namun di tahun 2016, pengajian sempat berhenti karena beliau gerah (sakit). Dan sekedar informasi, pengajian tafsir Kiai Sya’roni termasuk pengajian kitab yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya setiap minggunya. Para hadirin yang ikut ngaji pun seringkali meluber hingga menyesaki gang-gang sekitar Wisma Muslimin tempat diadakannya pengajian tersebut.

Setelah kondisi beliau berangsur-angsur pulih (meskipun beliau kemudian menggunakan kursi roda), menurut penuturan cerita, untuk mengisi waktu luang di rumah, seringkali Kiai Sya’roni mengajak seorang khadim yang menyertainya untuk bermain catur setiap malam. Karena kegemarannya terhadap catur, ‘saking’ asyiknya, tak jarang permainan tersebut berlangsung hingga larut malam.

Melihat hal tersebut, untuk menjaga kondisi kesehatan kiai dan kondisi khadimnya yang seringkali jadi “korban” hobi Kiai Sya’roni hingga larut malam, pihak keluarga akhirnya berinisiatif untuk mengadakan pengajian kitab terbatas untuk keluarga di kediaman beliau.

Sayang beribu sayang, kegiatan ngaji terbatas itu pun akhirnya terdengar sampai ke tetangga dan masyarakat sekitar rumah beliau. Tak menunggu waktu lama, kegiatan tersebut kemudian viral, tersebar secara luas lewat mulut ke mulut dan beredar di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, pengajian di kediaman beliau, yang awalnya terbatas, akhirnya diputuskan terbuka secara umum. Masyarakat Kudus yang telah lama menunggu pengajian Kyai Sya’roni pun akhirnya kembali dan hadir berbondong-bondong untuk mengikuti pengajian. Pengajian kitab tersebut diadakan dua kali setiap pekannya; malam Senin untuk kitab al-Faraid al-Saniyyah (yang membahas dalil-dalil amalan ahlussunnah wal jama’ah) karangan Kiai Sya’roni sendiri dan malam Kamis untuk kitab Tafsir Jalalain.

Munculnya pengajian-pengajian kitab karena catur, sebagaimana kisah Kiai Sya’roni, adalah kisah yang tentu saja tidak disangka-sangka. Sebuah permainan yang awalnya untuk hiburan toh pada akhirnya juga bisa menjadi sebab bagi terselenggaranya kegiatan baik dan amal soleh lainnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...