Beranda Khazanah Kiai Imam Suhodo Apil Quran dan Problem Gesekan Islam Vs Mistik Jawa...

Kiai Imam Suhodo Apil Quran dan Problem Gesekan Islam Vs Mistik Jawa di Lingkungan Keraton Surakarta

Harakah.id Kiai Imam Suhodo Apil Quran adalah salah satu tokoh yang mungkin tidak banyak diingat. Dalam konteks problem keberislaman di Jawa, khususnya di Surakarta, Kiai Imam Suhodo adalah tokoh sentral. Dia dianggap mampu mempertemukan dan menyelesaikan gesekan antara problem mistifikasi jawa dalam Islam Keraton Surakarta.

Kiai Imam Suhodo adalah pengarang salah satu karya islam yang berpadu dengan teks Jawa, yaitu Serat Wulangreh. Ulama yang kurang begitu dikenal dalam perbincangan sejarah penyebaran islam di Jawa, namun sebenarnya punya andil besar atas upaya netralisasi ajaran-ajaran islam dalam lingkungan Keraton Surakarta dari unsur mistik Jawa, khususnya pada masa Paku Buwono IV.

Baca Juga: Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan, Guru Tarekat Nusantara yang Mengalahkan Petapa Hitam di Gua Sapar

Dalam catatan para peneliti, Kiai Imam Suhodo disebut sebagai ulama pertama yang berhasil menetralisir ajaran islam dalam pustaka islam keraton dari unsur mistik Jawa. Ini ditandai dengan keberhasilannya membimbing Sultan Paku Buwono IV ketika menyusun Serat Wulangreh.

Imam Suhodo atau juga dikenal Kiai Imam Suhodo Apil Quran lahir pada tahun 1745 di daerah Kedu, Bagelan. Predikat “Apil Quran” merupakan sebuah julukan yang diberikan masyarakat berkat kemampuannya menghapal al-Quran 30 juz penuh. Ayahnya bernama K. Trunosura bin K. Ageng Baidhowi.

Imam Suhodo menerima pendidikan pertama kali dari sang ayah yang kebetulan adalah seorang ulama pada masa itu. Setelah itu beliau dikirim ayahnya untuk nyantri di pondok pesantren kakeknya, Kiai Ageng Baidhowi d Purworejo. Paska belajar di pondok kakeknya, Imam Suhodo melanjutkan pendidikannya di pondok Pesantren Jatisobo daerah Surakarta. Di Pesantren Jatisobo ini, Imam Suhodo termasuk salah satu santri yang paling menonjol. Beliau, di samping belajar kitab kuning, juga melakukan pendalaman tafsir dan menghafal al-Quran. Dalam jangka waktu dua tahun, dikisahkan beliau telah menuntaskan hafalannya. Berkat kepandainnya, Kiai Suhodo diambil menantu oleh gurunya, Kiai Khotib Iman.

Baca Juga: Mbah Muqoyyim Buntet, Mufti Kanoman yang 12 Tahun Tirakat Puasa dan Dianggap Ancaman oleh Belanda

Kiai Imam Suhodo Apil Quran memang tidak pernah mencipta satu karangan pun, namun demikian ajarannya dapat dilihat dalam Serat Wulangreh karya Paku Buwono IV. Lebih lanjut mengenai Serat Wulangreh, karya ini diciptakan oleh Paku Buwono IV pada tahun 1808 M.

Serat ini disusun dan diperuntukkan kepada kerabat raja, berisi tentang pitutur hidup baik menyangkut masalah etika, moral, maupun syariat yang berujung pada penemuan atas intisari al-Quran berupa rasa jati. Ajaran yang terkandung dalam serat ini tidak hanya bersifat teoritis tapi lebih berorientasi ke aspek persiapan manusia dalam mencapai kesempurnaan lahir batin melalui penghayatan ajaran islam yang terkandung dalam al-Quran.

Baca Juga: Kiai Saifuddin Amsir, Kiai Lokal Pengayom Betawi yang Karyanya Dibaca Dunia

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...