Beranda Tokoh Kiai Ma'shum Ali Seblak, Pakar Astronomi dan Ilmu Bahasa yang Mengarang "al-Amtsilah...

Kiai Ma’shum Ali Seblak, Pakar Astronomi dan Ilmu Bahasa yang Mengarang “al-Amtsilah al-Tashrifiyyah”

Harakah.id – Kiai Ma’shum Ali Seblak adalah tokoh yang kontribusinya hingga kini masih bisa dirasakan. Kitabnya, al-Amtsilah al-Tashrifiyyah dibaca dan dijadikan pedoman hampir di seluruh pesantren dan sekolah di Indonesia. Selain dikenal sebagai pakar bahasa, Kiai Ma’shum juga dikenal pakar di bidang astronomi.

Kiai Ma’shum bernama lengkap Ma’shum bin Ali bin Abdul Muhyi Al Maskumambangi. Ma’shum Ali lahir pada tahun 1305 H/1887 M. Maskumambangi dinisbahkan di Desa Kelahirannya yaitu Desa Maskumambang. Maskumambang terletak di Kecamatan Kawedanan Sedayu Kabupaten Gresik. Ayahnya bernama Kiai Ali asal Sedayu Gresik, dan ibunya bernama Nyai Muhsinah asal Maskumambang.

Baca Juga: Kiai Imam Suhodo Apil Quran dan Problem Gesekan Islam Vs Mistik Jawa di Lingkungan Keraton Surakarta

Masa kecil Kiai Ma’shum Ali dihabiskan di Pesantren Maskumambang yang kental dengan nuansa religius. Ketika sudah cukup umur, beliau merantau mendalami agama di Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh Hadratussyeikh Hasyim Asyari. Di Tebuireng dan di bawah pengawasan langsung Hadratussyeikh, Kiai Ma’shum mendalami ilmu falaq, hisab, sharaf, dan nahwu.

Selain Kiai Idris Kamali dan Kiai Baidhawi, Kiai Ma’shum Ali Seblak termasuk salah satu santri generasi awal yang menonjol berkat ketekunan dan kecerdasannya. Oleh karena itu, tak heran jika Hadratussyeikh Hasyim Asyari kemudian menikahkan salah seorang putrinya, Nyai Khairiyah dengan muridnya itu.

Pada tahun 1913, Kiai Ma’shum mulai membangun rumah sederhana di Dusun Seblak. Lalu pada tahun 1921 sedikit demi sedikit membangun Pesantren Seblak. Kehidupan sehari-hari beliau mencerminkan sosok pribadi yang harmonis, baik terhadap keluarga, masyarakat dan santri. Khusus kepada sang mertua, Kiai Ma’shum Ali sering menghadiahkan kitab.

Baca Juga: Kiai Saifuddin Amsir, Kiai Lokal Pengayom Betawi yang Karyanya Dibaca Dunia

Sepulangnya dari Makkah pada tahun 1332 H., Kiai Ma’shum Ali Seblak tidak lupa membawakan Kitab Al Jawahir Al Lawami’ sebagai hadiah untuk Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari. Bahkan kitab As-Syifa, yang sering menjadi referensi utama Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari ketika mengarang kitab, merupakan hadiah dari Kiai Ma’shum.

Tidak butuh waktu yang lama untuk Kiai Ma’shum menjadi Kiai Muda yang disegani. Beliau dikenal sebagai ulama yang ahli di bidang falaq atau astronomi. Beliau juga merupakan seorang pakar bahasa. Beberapa karya lahir dari tangan beliau, salah satunya adalah kitab sharaf monumental berjudul Al-Amtsilah at-Tashrifiyah, yang kini hampir dibaca dan menjadi kitab kunci di seluruh pesantren dan madrasah di Indonesia.

Selain itu, beliau juga menulis: 1) Fathul Qadir, kitab ini menjelaskan ukuran dan takaran arab dalam Bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920. 2) AdDurus Falakiyah, banyak orang yang beranggapan bahwa Ilmu Falak rumit, tetapi bagi orang yang mempelajari kitab ini berkesan mudah. Karena disusun secara sistematis dan konseptual. Kitab ini berisi ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriah, Posisi Matahari. Alat hitung yang digunakan dalam kitab ini adalah Rubu’ Mujayyab, Rubu’ Mujayyab adalah alat hitung astronomi untuk memecahkan permasalahan segitiga bola dalam astronomi.

Dan 3) Badi’atul Mitsal;  kitab ini menjelaskan Ilmu Falak yang berpatokan pada pergerakan bumi. Kitab ini menjadi rujukan utama para ahli Falak dan Kementrian Agama RI dalam menetapkan awal bulan Hijriah di Indonesia. 

Baca Juga: Debat Diponegoro Versus Kiai Mojo Soal Bentuk Khilafah Model “Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ing Tanah Jawi”

Kiai Ma’shum Ali Seblak wafat dalam usia yang cukup muda, yaitu 46 tahun. Pada tanggal 24 Ramadhan 1351 Hijriyah atau 8 Januari 1933 menjadi momentum duka yang tidak akan pernah dilupakan masyarakat Jombang, dan Indonesia secara umum. Kiai Muda nan Alim yang menjadi rujukan para santri dan ulama setelah Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari telah tiada.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...