fbpx
Beranda Tokoh Kiai Ma'shum Ali Seblak, Pakar Astronomi dan Ilmu Bahasa yang Mengarang "al-Amtsilah...

Kiai Ma’shum Ali Seblak, Pakar Astronomi dan Ilmu Bahasa yang Mengarang “al-Amtsilah al-Tashrifiyyah”

Harakah.id – Kiai Ma’shum Ali Seblak adalah tokoh yang kontribusinya hingga kini masih bisa dirasakan. Kitabnya, al-Amtsilah al-Tashrifiyyah dibaca dan dijadikan pedoman hampir di seluruh pesantren dan sekolah di Indonesia. Selain dikenal sebagai pakar bahasa, Kiai Ma’shum juga dikenal pakar di bidang astronomi.

- Advertisement -

Kiai Ma’shum bernama lengkap Ma’shum bin Ali bin Abdul Muhyi Al Maskumambangi. Ma’shum Ali lahir pada tahun 1305 H/1887 M. Maskumambangi dinisbahkan di Desa Kelahirannya yaitu Desa Maskumambang. Maskumambang terletak di Kecamatan Kawedanan Sedayu Kabupaten Gresik. Ayahnya bernama Kiai Ali asal Sedayu Gresik, dan ibunya bernama Nyai Muhsinah asal Maskumambang.

Baca Juga: Kiai Imam Suhodo Apil Quran dan Problem Gesekan Islam Vs Mistik Jawa di Lingkungan Keraton Surakarta

Masa kecil Kiai Ma’shum Ali dihabiskan di Pesantren Maskumambang yang kental dengan nuansa religius. Ketika sudah cukup umur, beliau merantau mendalami agama di Pondok Pesantren Tebuireng yang diasuh oleh Hadratussyeikh Hasyim Asyari. Di Tebuireng dan di bawah pengawasan langsung Hadratussyeikh, Kiai Ma’shum mendalami ilmu falaq, hisab, sharaf, dan nahwu.

Selain Kiai Idris Kamali dan Kiai Baidhawi, Kiai Ma’shum Ali Seblak termasuk salah satu santri generasi awal yang menonjol berkat ketekunan dan kecerdasannya. Oleh karena itu, tak heran jika Hadratussyeikh Hasyim Asyari kemudian menikahkan salah seorang putrinya, Nyai Khairiyah dengan muridnya itu.

Pada tahun 1913, Kiai Ma’shum mulai membangun rumah sederhana di Dusun Seblak. Lalu pada tahun 1921 sedikit demi sedikit membangun Pesantren Seblak. Kehidupan sehari-hari beliau mencerminkan sosok pribadi yang harmonis, baik terhadap keluarga, masyarakat dan santri. Khusus kepada sang mertua, Kiai Ma’shum Ali sering menghadiahkan kitab.

Baca Juga: Kiai Saifuddin Amsir, Kiai Lokal Pengayom Betawi yang Karyanya Dibaca Dunia

Sepulangnya dari Makkah pada tahun 1332 H., Kiai Ma’shum Ali Seblak tidak lupa membawakan Kitab Al Jawahir Al Lawami’ sebagai hadiah untuk Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari. Bahkan kitab As-Syifa, yang sering menjadi referensi utama Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari ketika mengarang kitab, merupakan hadiah dari Kiai Ma’shum.

Tidak butuh waktu yang lama untuk Kiai Ma’shum menjadi Kiai Muda yang disegani. Beliau dikenal sebagai ulama yang ahli di bidang falaq atau astronomi. Beliau juga merupakan seorang pakar bahasa. Beberapa karya lahir dari tangan beliau, salah satunya adalah kitab sharaf monumental berjudul Al-Amtsilah at-Tashrifiyah, yang kini hampir dibaca dan menjadi kitab kunci di seluruh pesantren dan madrasah di Indonesia.

Selain itu, beliau juga menulis: 1) Fathul Qadir, kitab ini menjelaskan ukuran dan takaran arab dalam Bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920. 2) AdDurus Falakiyah, banyak orang yang beranggapan bahwa Ilmu Falak rumit, tetapi bagi orang yang mempelajari kitab ini berkesan mudah. Karena disusun secara sistematis dan konseptual. Kitab ini berisi ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriah, Posisi Matahari. Alat hitung yang digunakan dalam kitab ini adalah Rubu’ Mujayyab, Rubu’ Mujayyab adalah alat hitung astronomi untuk memecahkan permasalahan segitiga bola dalam astronomi.

Dan 3) Badi’atul Mitsal;  kitab ini menjelaskan Ilmu Falak yang berpatokan pada pergerakan bumi. Kitab ini menjadi rujukan utama para ahli Falak dan Kementrian Agama RI dalam menetapkan awal bulan Hijriah di Indonesia. 

Baca Juga: Debat Diponegoro Versus Kiai Mojo Soal Bentuk Khilafah Model “Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ing Tanah Jawi”

Kiai Ma’shum Ali Seblak wafat dalam usia yang cukup muda, yaitu 46 tahun. Pada tanggal 24 Ramadhan 1351 Hijriyah atau 8 Januari 1933 menjadi momentum duka yang tidak akan pernah dilupakan masyarakat Jombang, dan Indonesia secara umum. Kiai Muda nan Alim yang menjadi rujukan para santri dan ulama setelah Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari telah tiada.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...