Beranda Sejarah Kiai Sadrach, Pendeta Kristen, Bahasa Islam-Jawa, dan Pengaruh Misionaris Barat

Kiai Sadrach, Pendeta Kristen, Bahasa Islam-Jawa, dan Pengaruh Misionaris Barat

Harakah.idFakta historis juga membuktikan bahwa pewacanaan peranan Kiai Sadrach dalam gerakan misi Kristen di kalangan komunitas etnis Jawa memang sangat populer.

Sejarah misi zending di Jawa didominasi oleh para misionaris dari Barat. Misi kristenisasi di Jawa juga dipelopori oleh para penginjil dari kalangan etnis Jawa. Namun, misi keagamaan itu ternyata diwarnai beragam ketegangan akibat perbedaan pemahaman teologis di antara kedua komunitas gerakan misi tersebut. Fakta sejarah membuktikan bahwa para penginjil Jawa tidak dapat melepaskan diri dari “bayang-bayang” para misionaris Barat. Mereka mengenal kekristenan justru belajar dari pekabaran Injil para pengemban misi zending Belanda.

Fakta historis juga membuktikan bahwa pewacanaan peranan Kiai Sadrach dalam gerakan misi Kristen di kalangan komunitas etnis Jawa memang sangat populer. Peranan Kiai Sadrach tersebut terdokumentasi dalam lembaran sejarah misi Kristenisasi di Jawa. Namun, keulamaan Kiai Sadrach yang diklaim berasal dari jebolan pesantren ternama di Jawa Timur, ternyata juga sangat kontroversial. Apalagi dalam catatan dokumen Barat, Kiai Sadrach disebutkan sebagai pendiri masjid Kristen yang menghimpun para santri Kristen dengan menggunakan pola pengajaran khas pesantren. Tentu saja hal ini sangat menarik untuk diperbincangkan dalam konteks historis dan kajian teks secara filologis.

Keulamaan Kiai Sadrach yang kontroversial itu memang sangat beralasan. Menurut C. Guillot dalam karya disertasinya yang berjudul L’Affaire Sadrach Un Esai de Christianisation a Java au XIXe Siecle (Paris: Association Archipel, 1981) menyebutkan bahwa Kiai Sadrah (w. 1924 M) belajar di pesantren di wilayah Jombang dan Ponorogo, Jawa Timur, dan Sadrach belajar tentang ajaran Kristen melalui kontak keagamaan dengan para misonaris Belanda di Jawa Timur. C. Guillot juga menyebutkan bahwa Kiai Sadrach sangat mahir membaca teks berbahasa Arab dan menulis teks beraksara Arab-Pegon. Hal ini diperkuat dengan adanya bukti manuskrip warisan dari keluarga Kiai Sadrach, teksnya berbahasa Arab dan teks Jawa beraksara Arab-Pegon.

Laporan dokumen versi Barat tersebut tentu saja fenomenal sekaligus kontroversial. Pertama, tidak ada seorang kiai pada abad XIX – XX Masehi yang mengenal keulamaan Kiai Sadrach. Silakan Anda membaca buku terkait daftar ulama Nusantara yang berjudul “Pustaka Naskah Ulama Nusantara: Fatwa, Polemik, Sanad Ijazah dan Korespondensi” (2019). Pesantren-pesantren yang konon menjadi tempat belajar Kiai Sadrach juga tidak jelas identitasnya. Bila kita menggunakan pendekatan genealogi intelektual terkait sanad keguruan dalam keilmuan agama Islam, dan sekaligus menggunakan pendekatan ilmu kritik hadits, ternyata tidak ada seorang ulama yang sezaman dengan Kiai Sadrach yang melakukan jarh wa ta’dil terhadap ketokohan atau figur keulamaan Kiai Sadrach. Dengan konteks ini, Kiai Sadrach hanya dikategorikan sebagai “perawi yang majhūl” (orang yang tidak dikenal identitasnya).

Kedua, bahasa Jawa-Kitabi merupakan bahasa Jawa ragam tulis khas pesantren yang digunakan sebagai bahasa akademik dalam menerjemahkan teks-teks berbahasa Arab. Penggunaan bahasa Jawa-Kitabi ini ditransmisikan kepada para santri melalui metode pengajaran klasikal yang disebut “sorogan” dan “bandongan.” Guru mendektekan terjemahan teks berbahasa Arab dengan pola kata demi kata (word by word) ke dalam bahasa Jawa-Kitabi. Inilah tradisi penyalinan yang diajarkan melalui transmisi keilmuan. Upaya penggunaan bahasa Jawa-Kitabi di pesantren tersebut mengacu pada 2 hal penting:

(1) mengajarkan tata gramatika bahasa Arab kepada para santri dengan menggunakan penanda istilah-istilah yang termaktub dalam ragam tulis bahasa Jawa-Kitabi.

(2) mengajarkan istilah-istilah/ kosakata (mufradat) Arab-Islam sebagai upaya untuk memperkaya khasanah kosakata ragam tulis bahasa Jawa-Kitabi sesuai bentuk baku ragam tulis kosakata Arab, misalnya: نوح – موسى – إبليس dll. Dengan demikian, bentuk kata yang diadopsi dari bahasa Arab tersebut tidak berubah ortografinya.

Bila Sadrach berasal dari komunitas pesantren, Kiai Sadrach pasti mengenal betul ragam tulis bahasa Jawa-Kitabi ini. Dengan demikian, Kiai Sadrach tidak mungkin akan melakukan kesalahan fatal dalam pemahaman tentang penulisan kosakata bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon yang asal-usul leksikonnya memang diadopsi dari kosakata Arab.

Ketiga, Kiai Sadrach (w. 1924 M) diklaim sebagai peletak dasar versi Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon karena asal-usul Kiai Sadrach yang konon berasal dari komunitas pesantren. Bila tahun wafatnya Kiai Sadrach dijadikan sebagai “terminus ad quem” (batas akhir) kelahiran aksara Arab-Pegon versi Kristen, maka Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon dapat dikatakan telah eksis paling akhir pada tahun 1924 M. Menurut catatan Eric M. North, Ph.D., dalam bukunya yang berjudul “The Book of A Thousand Tongues: Being Some Account of the Translation and Publication of All or Part of the Holy Scriptures (New York – London: Harper & Brothers Publishers, 1938), hlm. 185, penerbitan Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon yang paling tua justru bertarikh pada tahun 1893 M., dan diterbitkan oleh lembaga misi “the British and Foreign Bible Society (BFBS) yang berpusat di Singapore. Jadi ada selisih sekitar 30 tahun antara penerbitan Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon dengan tahun wafatnya Kiai Sadrach. Itu berarti, selama 30 tahun Kiai Sadrach telah berkarya melakukan misi penginjilan dengan membangun masjid Kristen dan membina para santri Kristen dengan pola pendidikan pesantren khas Kiai Sadrach. Ada catatan penting dalam konteks ini, yakni terkait istilah “masjid Kristen” yang dipakai oleh Kiai Sadrach. Pertama, mengapa Kiai Sadrach menyebut bangunan tempat ibadah yang didirikannya tersebut dengan sebutan masjid Kristen, dan bukan dengan sebutan كنيسة (kanīsah), lit. “gereja” sebagaimana yang termaktub dalam Alkitab berbahasa Arab dan familiar dalam tradisi Kristen Arab? Apakah Kiai Sadrach tidak mengenal Alkitab edisi bahasa Arab? Kedua, mengapa Kiai Sadrach tidak menggunakan istilah بيع (baya’un), yakni istilah versi Arab yang dipakai dalam teks Quran terkait nama tempat ibadah kaum Kristen? Apakah Kiai Sadrach tidak memahami dan tidak mendalami teks Quran dalam bahasa aslinya? Lihat Qs. Al-Hajj 22:40. Ketiga, mengapa Kiai Sadrach tidak menggunakan istilah كريجانى ووغ نصارى (gerejane wang Nashara) sebagaimana teks terjemahan interlinear terkait istilah khas pesantren untuk menyebut tempat ibadah umat Kristen? Keempat, mengapa Kiai Sadrach menyebutnya “masjid Kristen” dan bukan menyebutnya dengan sebutan “gereja Nashārā” sebagai istilah yang lebih akrab digunakan dalam tradisi pesantren? Bukankah teks-teks Tafsir terjemah bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon lebih populer menggunakan istilah نصارى (Nashārā) atau pun istilah كريجا نصارى (gereja Nashārā) dibanding istilah “Kristen” atau pun istilah “masjid Kristen? Istilah نصارى (Nashārā) dan istilah كريجا (gereja) keduanya sangat familiar dalam tradisi kitab-kitab pesantren di Jawa karena kedua istilah tersebut di antaranya termaktub dalam kitab Tafsir Jalālayn (kitab tafsir bahasa Jawa-Kitabi) karya Imam Jalāluddin al-Suyūthi. Kelima, apakah memang Kiai Sadrach tidak akrab dengan kitab tafsir khas pesantren tersebut, dan beliau justru sangat familiar membaca Alkitab bahasa Jawa karya terjemahan misionaris Belanda yang bernama P. Jansz, sehingga ia terinspirasi gerakan zending khas Barat yang mengembangkan misi kontekstualisasi dengan tetap menggunakan istilah “mesjid” untuk menyebut tempat ibadah umat Kristen? P. Jansz dalam kamusnya yang berjudul “Practisch Javaansch – Nederlandsch Woordenboek” (Soerabaja – Gravenhage: N.V. Boekhandel en Drukkerij, 1906), hlm. 319, juga menyebutkan istilah “gréja” sebagai istilah yang familiar di kalangan masyarakat Jawa. Di kalangan masyarakat etnis Jawa, istilah “gréja” bukan hanya istilah yang dituturkan oleh kaum awam untuk menyebut tempat ibadah penganut agama Kristen. Namun, istilah “gréja” juga familiar dituturkan di kalangan komunitas pesantren. Istilah “gréja” telah menjadi ingatan kolektif bagi manusia Jawa dalam menyebut tempat ibadah kaum Kristen. Istilah gréja ini tentu saja telah eksis sejak pengaruh kolonial Portugis di Nusantara. Istilah “gréja” dalam bahasa Jawa diadopsi dari bahasa Portugis, “igreja” (tempat ibadah kaum Kristen). Istilah “gréja” dalam bahasa Jawa ini telah familiar dalam ingatan manusia Jawa selama 395 tahun, dihitung sejak pengaruh kolonialisasi Portugis di Malaka tahun 1511 M., hingga terkodifikasinya kamus garapan P. Jansz yang diterbitkan pada tahun 1906 M. Bila kamus garapan P. Jansz diterbitkan pada tahun 1906 M., sedangkan Kiai Sadrach wafat pada tahun 1924 M., maka hal ini cukup menjadi bukti bahwa Kiai Sadrach sangat familiar mengenal tempat ibadah umat Kristen dengan istilah “gréja Kristen” selama 18 tahun. Bahkan, istilah gréja yang maknanya mengacu pada rumah ibadah umat Kristen telah termaktub dalam kamus perdana berbahasa Jawa, karya J.F.C. Gericke dan T. Roorda, “Javaansch – Nederlandsch Handwoordenboek (Leiden: E.J. Brill, 1901). J.F.C. Gericke berteman dengan Kiai Hasan Besari, guru dari sang pujangga keraton Surakarta, yakni R.Ng. Ranggawarsita. J.F.C. Gericke juga belajar bahasa Jawa kepada Kiai Hasan Besari, saat beliau menetap sementara di lingkungan pesantren Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur. J.L. Swellengrebel dalam bukunya “In Leijdeckers Voetspoor” – Mengikuti Jejak Leijdecker (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006), hlm. 57, beliau mengisahkan:

“Agar lebih sungguh-sungguh mendalami dunia Jawa, sejak awal tahun 1829 M., ia tinggal cukup lama di Ponorogo (ia selalu menyebutnya Pronorogo), 100 km dari Surakarta ke arah timur tenggara. Ia selalu ditemani Hasan Besari, pemimpin pesantren setempat, yang pernah ditahan oleh penguasa Belanda, tetapi atas permintaan Gericke dibebaskan, dengan syarat Gericke sendiri akan membawa Hasan Besari ke Ponorogo dan selama beberapa waktu mengawasinya. Selama tinggal di Ponorogo, Gericke belajar banyak dan diperlakukan dengan sangat ramah.”

Status santri yang disematkan kepada Kiai Sadrach sangat tidak jelas, karena asal-usul pesantren yang dinisbatkan kepadanya tidak dapat dikonfirmasi melalui dokumen apapun. Sementara itu, J.F.C. Gericke dapat disebut sebagai “Kristen santri”, karena beliau hidup dalam lingkungan pesantren Kiai Hasan Besari di pondok pesantren Tegalsari, Ponorogo. J.F.C. Gericke pasti banyak belajar bahasa Jawa khas pesantren, yang kemudian dibukukannya dalam format kamus. Fakta karya leksikon yang disusunnya tersebut semakin membuktikan adanya “Kamus Santri” yang pertama kali dibukukan, yang dikodifikasi oleh orang Barat. “Kamus Santri” tersebut ditulis dengan menggunakan format dwibahasa, yakni bahasa Jawa – Belanda dengan tetap mempertahankan tulisan aksara Jawa, serta disertai aksara Arab atau pun Arab-Pegon yang bertujuan sebagai penjelasan asal-usul kata serapan tersebut. Misalnya, J.F.C. Gericke, Javaansch – Nederlandsch Handwoordenboek (Leiden: E.J. Brill, 1901), hlm. 70, tertulis kata “iktidal” dengan menggunakan aksara Jawa sbb:
ꦆꦏ꧀ꦠꦶꦢꦭ꧀ (Ar. إعتدال), het opstaan in ‘t midden van de eerste rak’at ve.e. gebed v.d.B.

“Kamus Santri” yang disusun oleh J.F.C. Gericke ini sejajar dengan “Serat Centhini” yang keduanya banyak mengadopsi kata serapan bahasa Arab. Karya disertasi tentang hal ini dapat dibaca melalui karya Dr. Junanah, “Kata Serapan Bahasa Arab dalam Serat Centhini” (Jakarta: Kementerian Agama RI, 2009). Adanya temuan kata serapan bahasa Arab dalam Serat Centhini ini sangat menarik, sebab penyusun Serat Centhini adalah dua orang pujangga keraton Surakarta, yakni R.Ng. Yasadipura dan R.Ng. Ranggawarsita, yang keduanya ternyata juga santrinya Kiai Hasan Besari, dan keduanya jebolan dari pesantren Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur. Dengan demikian, J.F.C. Gericke, R.Ng. Yasadipura dan R.Ng. Ranggawarsita mengalami tradisi akademik di lingkungan pesantren yang sama, sehingga hasilnya dapat mengabadikan kata serapan bahasa Arab yang terkodifikasi dalam karya “magnum opus” mereka.

Hal yang perlu dikaji dalam kamusnya J.F.C. Gericke tersebut di antaranya juga adanya temuan pemertahanan istilah gréja yang sebenarnya bukan kata serapan dari bahasa Arab. Istilah gréja yang bukan kata serapan dari bahasa Arab itu tentu saja sangat menarik untuk diperbicangkan. J.F.C. Gericke hanya sekedar mendaftar kosakata yang sering dipakai dalam tuturan akademik di pesantren, dan istilah gréja merupakan ingatan kolektif para santri Jawa yang awalnya istilah tersebut telah terabadikan dalam korpus kitab-kitab pesantren melalui sistem transmisi teks. Bila istilah gréja dalam bahasa Jawa telah termaktub dalam kamusnya J.F.C. Gericke dan T. Roorda, yang diterbitkan pada tahun 1901 M., dan istilah gréja juga telah dibukukan dalam kamusnya P. Jansz yang kemudian diterbitkan pada tahun 1906 M., maka istilah gréja tersebut paling tidak telah dikenal di kalangan publik terpelajar selama 5 tahun. Bila Kiai Sadrach jebolan pesantren (w. 1924 M) tentu juga mengenal istilah gréja tersebut sebagai khasanah dari istilah keagamaan yang khas di pesantren. Bila tahun penerbitan kamusnya J.F.C. Gericke dianggap sebagai “terminus ad quo” (batas awal) penggunaan istilah gréja dalam tuturan khas pesantren, maka minimal Kiai Sadrach mengenal istilah gréja yang maknanya merujuk sebagai tempat ibadah umat Nasrani diperkirakan selama 23 tahun. Faktanya, istilah gréja justru telah menjadi wacana kolektif di kalangan komunitas pesantren serta kaum awam di Jawa ternyata lebih dari 23 tahun.

Dalam kamusnya P. Jansz yang berjudul “Practisch Javaansch – Nederlandsch Woordenboek” (1906), beliau menjelaskan bahwa istilah gréja = prt., kerk, bep. der Christenen (gréja = gereja, tempat ibadah kaum Kristen). Kiai Sadrach dipastikan sangat mengenal betul makna dari istilah “gréja” dalam bahasa Jawa. Namun, Kiai Sadrach tidak menggunakan istilah tersebut karena bertujuan untuk penginjilan yang bersifat kontekstualisasi. Itulah sebabnya Kiai Sadrach menggunakan istilah “mesjid” – sebagaimana yang termaktub dalam Alkitab bahasa Jawa versi P. Jansz – untuk menyebut gereja yang didirikannya. Menariknya, istilah مسجد (masjid) dan istilah كرستين (Kristen) keduanya muncul dalam Alkitab bahasa Jawa beraksara Jawa dan beraksara Arab-Pegon (Mat. 4:23; Kis 11:26). Kristenisasi di Jawa yang menggunakan pola kontekstualisasi khas Barat inilah yang menginspirasi Kiai Sadrach. Intensitas bacaan Kiai Sadrach terhadap karya-karya P. Jansz tersebut semakin memperkuat posisi Kiai Sadrach sebagai pelopor evangelisasi di Jawa melalui pengaruh orang Barat. Fakta sejarah juga membuktikan bahwa Kiai Sadrach ternyata lebih intensif bergaul dengan para misionaris Belanda. Inilah yang menjadi sebab utama terkait perpindahan keyakinan Kiai Sadrach menjadi seorang Kristen.

Keempat, Kiai Sadrach juga diklaim sebagai nara sumber munculnya Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon yang karyanya tersebut akhirnya diterbitkan berdasarkan suntingan dari P. Jansz (w. 1904 M). Injil Lukas bahasa Jawa beraksara Jawa versi garapan Jansz terbit pertama kali pada tahun 1886 M. Sementara itu, Injil Lukas bahasa Jawa versi Arab-Pegon pertama kali terbit tahun 1893 M. Berdasarkan pembuktian teks yang mendasarinya, Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon ternyata hanya merupakan transliterasi (alih aksara) dari versi Alkitab bahasa Jawa beraksara Jawa atau “Carakan” yang berasal dari hasil karya terjemahan P. Jansz. Menurut catatan resmi dokumen Belanda, J.L. Swellengrebel dalam bukunya “In Leijdeckers Voetspoor” (KITV – Leiden) menjelaskan bahwa Alkitab bahasa Jawa yang lazim dipakai ternyata bukan berasal dari hasil karya J.F.C. Gericke, melainkan dari terjemahan P. Jansz. Misionaris Belanda yang bernama P. Jansz (w. 1904 M) ini memang hidup sezaman dengan Kiai Sadrach (w. 1924 M). Namun, ada sesuatu yang janggal dalam hal ini. Bila kita mengkaji secara filologis terhadap Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon, kita akan menemukan fakta-fakta keganjilan linguistik. Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon tersebut secara tektual tidak dapat menguatkan dugaan tentang keulamaan Kiai Sadrach sebagai jebolan pesantren. Apalagi jika Kiai Sadrach diklaim sebagai peletak dasar atau pun nara sumber proses penjadian Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon tersebut. Fakta tekstual membuktikan adanya temuan ortografi kosakata yang menyebal dari kaidah tradisi penulisan khas pesantren. Bahkan, di dalamnya ditemukan ketiadaan jejak linguistik bahasa Arab khas pesantren maupun pengaruh bahasa Arab khas Kristen Arab. Kosakata yang digunakan sebagai penanda “jejak pesantren” dalam Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon ini ternyata banyak ditemui berbagai kesalahan. Sering kali huruf ي (ya’) ditambahkan sebagai penanda vokal dan difungsikan tidak sesuai kaidah morfologisnya. Padahal penggunaan penanda vokal yang asing tersebut menyalahi aturan/ kaidah yang tepat, sebagaimana yang digunakan dalam kaidah bahasa Arab khas pesantren. Hal yang sangat tidak lazim tersebut misalnya إيبلس (ībelis), سيتن (setan), تورية (Toret), روهي ألله (Rūhe Allāh), اللهرا (Allāhira), lit. “Allāh-mu”, dan masih banyak contoh-contoh kosakata lain yang menyimpang dari kaidah penulisan yang benar. Ortografi seperti ini membuktikan mutu penguasaan bahasa Arab yang bercirikan khas pesantren dari sang penulis Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon tersebut terkesan sangat janggal dan tidak terpelajar.

Dengan kata lain, peletak dasar penulisan Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon tersebut terkesan literasi ke-Arab-annya payah, karena tidak mengenal corak penulisan kosakata (mufradat) kitab-kitab pesantren atau pun mengenal corak penulisan kosakata (mufradat) Alkitab berbahasa Arab. Baginya, pemahaman ciri-ciri ortografi linguistik bahasa Jawa-Kitabi dan ortografi linguistik bahasa Arab sangatlah asing. Sebaliknya, fakta tekstual justru membuktikan bahwa pola penulisan Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab Pegon tersebut ternyata didasarkan pada leksikon bahasa Yunani dan bahasa Belanda yang kemudian di-Jawa-kan dengan menggunakan aksara Arab-Pegon, misalnya kata كبفتس (ka-baptis) yang ditransliterasi dari istilah Yunani, βαπτιζω (baptisó), dan istilah واسيس (wasis) yang ditransliterasi dari bahasa Belanda, “wijze” (Matius 11:25). Lihat misalnya “Concordantie inggih Poenika Serat Tjoendoekan Toemrap ing Kitab Soetji ingkang Mawi Basa Djawi (1952). Sementara itu, kata ييسس (Yesus) ternyata secara literal diadopsi dan ditransliterasi dari bahasa Belanda, yakni “Jezus.” Begitu juga istilah انتكرستس (anti-Kristus) juga ditransliterasi dari istilah Yunani ό άντιχριστος (ho anti-Christos), melalui serapan kosakata bahasa Belanda “de antichrist.” Bila sang penulis Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon tersebut berasal dari jebolan komunitas pesantren, pasti ia mengenal mufradat kitab-kitab pesantren yang membicarakan tentang peristiwa akhir zaman sebagaimana yang termaktub dalam kitab-kitab tafsir yang amat masyhur pemakaiannya di semua pesantren di Nusantara, di antaranya adalah kitab “Tafsir Jalalayn” karya Imam Jalāluddin al-Suyūthi, kitab tafsir al-Baydhāwi dan kitab tafsir “Tarjuman al-Mustafid” karya Abd Al-Ra’ūf al-Sinkeli yang merupakan rangkuman dari kedua kitab tafsir klasik tersebut. Bahkan, kitab tafsir “Tarjuman al-Mustafid” telah eksis sejak abad ke-17 M. Apalagi kedua kitab tafsir klasik tersebut ternyata juga tercatat dalam Serat Centhini yang merupakan karya “magnum opus” dari dua pujangga besar Surakarta, yakni R.Ng. Yasadipura dan R.Ng. Ranggawarsita. Artinya, kedua kitab tafsir klasik yang membicarakan wacana akhir zaman tersebut telah menjadi semacam “great tradition” di pesantren-pesantren di Jawa. Bila Kiai Sadrach (w. 1924 M) akrab dengan kitab-kitab tafsir klasik khas pesantren, maka ia pasti menggunakan istilah دجال (Dajjāl), yang bermakna “si anti-Kristus” sebagai padanannya. Faktanya, istilah دجال (Dajjāl) ini tidak ditemukan dalam karyanya.

Martin van Bruinessen dalam karya risetnya yang berjudul “Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 158, ternyata juga menguatkan adanya fakta tentang popularitas kedua kitab tafsir klasik tersebut di pesantren-pesantren di Jawa. Beliau telah mendaftar kitab-kitab tafsir yang dikaji di seluruh pesantren di Nusantara, termasuk pesantren di Jawa Timur dan di Jawa Tengah. Konon, Kiai Sadrach juga telah belajar di pesantren-pesantren terkenal di Jawa Timur. Keberadaan tafsir-tafsir tersebut tentu saja meniscayakan adanya transmisi pengetahuan terkait akhir zaman dengan tokoh utama Ratu Adil Imam Mahdi dan Al-Masīh ad-Dajjāl. Menurut catatan C. Guilllot, Kiai Sadrach masuk Kristen karena beliau percaya bahwa Yesus adalah Ratu Adil Imam Mahdi. Anehnya, istilah-istilah kunci ini tidak muncul dalam Alkitab berbahasa Jawa beraksara Arab-Pegon yang diklaim sebagai karya Kiai Sadrach. Hal ini semakin membuktikan bahwa peletak dasar dan penulis Alkitab bahasa Jawa berbahasa Arab-Pegon tersebut memang tidak mengenal kultur kebahasaan khas pesantren. Bahkan, kosakata yang mendominasi dalam Alkitab bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon tersebut bukan berasal dari bahasa Arab khas pesantren, tetapi ditransliterasi dan diterjemahkan secara literal dari leksikon bahasa Barat khas Belanda. Hal ini dapat dikonfirmasi dari karya Abraham Trommius dalam karyanya, “Nederlansche Concordantie des Bijbels.” Benarkah kajian filologis tersebut membuktikan bahwa Kiai Sadrach sebenarnya bukan berasal dari jebolan pesantren? Benarkah Kiai Sadrach tidak mengenal kitab-kitab pesantren? Benarkah Kiai Sadrach tidak mengenal Alkitab berbahasa Arab? Benarkah Kiai Sadrach awalnya adalah seorang Muslim santri, dan bukan seorang Muslim abangan? Benarkah P. Jansz juga tidak mengenal kitab-kitab pesantren dan mengenal Alkitab berbahasa Arab? Simaklah kajian Shiur Shabbat pekan mendatang. (Manachem Ali, Yeshiva Institute Surabaya).

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...