Beranda Sajian Utama Kiai Sadrach, Alumni Pesantren yang Jadi Tokoh Kristenisasi di Nusantara Masa Kolonial

Kiai Sadrach, Alumni Pesantren yang Jadi Tokoh Kristenisasi di Nusantara Masa Kolonial

Harakah.idKiai Sadrach mungkin adalah satu-satunya tokoh kristenisasi yang dipanggil Kiai. Ya, dia adalah Kiai Kristen. Meski begitu, Kiai Sadrach punya posisi penting dalam mengacaukan agenda kristenisasi kolonial Belanda.

Mengenal seorang tokoh tidak selalu dimaksudkan untuk mengetahui seberapa hebat tokoh tersebut secara individual ataupun mengetahui pengaruh yang dimunculkannya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Terlepas dari perdebatan antropologis, apakah manusia yang membentuk tradisi atau sebaliknya, tradisi yang terbentuk darinya, sejauh yang saya alami, mengenal tokoh terkadang – ini yang lebih saya yakini relevan untuk dikaji – ditujukan untuk melihat sebuah sistem kehidupan dan peradaban yang melahirkannya, membentuknya lalu memaksanya menjadi agen bagi tumbuhnya karakter peradaban tersebut. Pada titik ini kita diajak untuk tidak lagi menempatkan seorang tokoh sebagai satu independensi pemikiran individual, tapi sebagai fenomena pemikiran (ẓāhirah fikriyyah) yang secara tidak langsung juga merupakan gambaran lokus pemikiran komunitas berikut tradisinya.

Sekali lagi, ketika yang ditilik adalah sebuah proses genealogis “dari” ke “akan menjadi” (to be being), kita [seharusnya] tak lagi terikat pada jebakan-jebakan tema “kulit” bermuatan agama, ideologi perseorangan ataupun konteks kedirian. Yang ingin dilihat adalah keseluruhan sistem tradisi yang sedang berlangsung – melalui kemunculan seorang tokoh – adalah jejaring nalar tradisi yang mengatur seluruh gerak dan putaran kehidupan manusia di dalamnya.

Sistem nalar semacam ini terkadang bisa kita peras dari membaca tokoh-tokoh yang memang sejalan, sedarah dan – bisa kita sebut –“protagonistik”, dan terkadang juga bisa kita peras dari penyisiran terhadap tokoh yang berseberangan, tidak sejalan dan “antagonistik”. Strategi pembacaan ini dimungkinkan karena binaritas sistem nalar yang menjadi keniscayaan bagi kemampuan daya pikir manusia itu sendiri.

Strategi ini sama misalnya dengan apa yang dilakukan Edward Said ketika memetakan cara pandang Barat terhadap Timur sebagai sebuah ruang kultural yang eksotis, unik, dan kolosal. Posisi Timur, selain merupakan ruang apropriasi Barat yang penuh dengan stigma dan steorotip, juga merupakan entitas yang berfungsi sebagai gantungan untuk mengaitkan definisi berikut subyek Barat itu sendiri.

nucare-qurban

Said menulis, “…The Orient is based on the Orient’s special pleace in European Western experience. The Orient is not only adjacent to Europe; it is also the place of Europe’s greatest and richest and oldest colonies, the source of its civilizations and languages, its cultural contestant, and one of its deepest and most recurring images of the Other. In addition, the Orient has helped to define Europe (or the West) as its contrasting image, idea, personality, experience”. Barat tidak mungkin bisa mendefinisikan dirinya sendiri dengan karakter-karakter modern, rasional, maju, tanpa adanya bandingan beda yang memperkuat dan mengentalkan karakter tersebut. Oleh karena itu mereka menciptakan Timur – dan kerja Orientalisme secara umum – guna mengukuhkan subyetifitas ke-Barat-annya.

Namun tidak mudah memilih atau menemukan tokoh “antagonis” semacam itu. Dengan mengangkat agenda untuk memperkuat apa yang kita percaya dari sistem tradisi Nusantara yang sangat kental dengan kebhinekaan dan keluhuran nilai-nilai toleransi dan perdamaian, memilih seorang tokoh semacam itupun, secara tidak langsung, harus diiringi oleh tilikan tajam terhadap unsur stabil yang menjadi dinamonya (al-tsabit atau al-mu’alajah al-bunyawiyyah). Keberadaan unsur stabil inilah yang kemudian mempertemukan secara epistemologis antara yang sejalan dengan yang bertentangan, antara yang protagonis dan yang antagoni, sekaligus, menghilangkan sisi-sisi keperbedaan dangkal yang merusak dan menganggu kejernihan cara pandang terhadap hakikat sesuatu.

Logika pembacaan inilah yang saya gunakan dan anggap relevan untuk memahami sesosok Kiai Sadrach; seorang tokoh Kristenisasi di Jawa yang banyak sekali mendapatkan perhatian, khususnya di kalangan orientalis dan pengkaji Barat, karena posisinya yang ambivalen dan sangat membingungkan bagi kosmologi ke-Kristenan dan misi kolonialisme yang tengah diproyeksikan pada waktu itu. Hal yang sama juga akan terjadi dalam diri saya ataupun pembaca yang notabene adalah Muslim, yang selama ini memandang Kristenisasi (gospel) sebagai salah satu misi kolonialisme selain gold dan glory.

Artinya, kehadiran Kiai Sadrach merupakan gambaran yang lahir dari keretakan subyektifitas, baik dalam mental Barat sebagai pihak kolonial maupun dalam mental Timur [kita] sebagai obyek terjajah. Selain berfungsi untuk menggambarkan kebhinekaan dan konsep toleransi tiada batas yang berlangsung di Nusantara, Kiai Sadrach juga menjadi semacam panggung sejarah yang memparodikan strategi pesantren sebagai garda terdepan penjagaan NKRI dan ruang doktrinasi ideologi anti-kolonial.

Kiai Sadrach sebagai Kata Kerja

Dalam pengantar buku “Plesetan Lokalitas”, Ahmad Baso memberikan satu brainstorming mengenai sesuatu yang “tidak biasa” dari kehidupan beragama di Indonesia. Romo Kuntoro, seorang romo Kristen telah mengaku bahwa dirinya sudah gomo, bukan agomo lagi. Dia mengaku entitas agamanya “wes rusak!” Rusak dalam artian beliau sudah keluar dari sekat-sekat yang membatasi geraknya sebagai seorang Kristen “resmi” sekaligus dengan otomats terhubung secara internal ke dalam ruang teologis kepercayaan-kepercayaan lainnya di luar Kristen.

Oleh masyarakat Yogja, Romo Kuntoro lebih dikenal sebagai seorang dukun dibandingkan seorang “Romo”. Bukan hanya orang Kristen, orang Islam dan Budha pun sowan dan minta berkah dari Romo Kuntoro. Fenomena Romo Kuntoro ini menggambarkan bahwa agama, dalam titik tertentu, sudah keluar dari titel “resmi”-nya dan beralih pada makna “kultural”nya sebagai sesuatu yang diresapi dalam bentuk laku kehidupan. Resapan akan agama semacam itu tidak memendarkan distingsi sosial yang terjadi di antara pemeluk agama, bahkan, ia justru melahirkan satu sikap toleransi tiada batas yang menjadi substansi dari apa yang kita sebut Bhineka Tunggal Ika.

Kiai Sadrach juga dikenal sebagai tokoh Kristenisasi di Jawa akhir abad ke 19. Pengaruhnya sangat besar bagi tumbuh-kembangnya Kristen di Jawa, khususnya Jawa Tengah, pada saat itu. Di bawah mendung kolonialisme, perjuangan Kiai Sadrach dalam melakukan Kristenisasi merupakan cerita unik tersendiri yang menjadikannya seorang legenda yang hibrid dan ambivalen. Kiai Sadrach adalah tokoh, yang jika kita cermati, akan memberikan gambaran ganda; 1) tentang gerakan-gerakan anti-kolonial yang menusuk dari dalam dan 2) tentang  substansi Bhineka Tunggal Ika sebagai poros nilai-nilai toleransi dan perdamaian.

Gambaran pertama ini akan kita mulai dengan fakta bahwa Kiai Sadrach adalah kader pesantren di beberapa pesantren tua di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Layaknya santri pada umumnya, di pesantren-pesantren tersebut Kiai Sadrach ngelmu pada Kiai, baik terkait materi-materi ilmu keislaman maupun religiuitas kebatinan. Selain mempelajari kitab-kitab kuning berbahasa Arab, di pesantren Kiai Sadrach juga belajar membaca dan memahami aksara Jawa. Setelah keluar pesantren, Kiai Sadrach lantas bertemu dengan Tunggul Wulung gurunya dan mendapatkan wangsit kekristenan.

Dalam data sejarah, Tunggul Wulung sebenarnya juga seorang kader pesantren. Pasca ngelmu pada kiai, dirinya bertekad untuk mencari ilmu sejati dengan bertapa di gua, menyendiri, berlaku sufi dengan berpuasa. Di suatu hari, dirinya mendapatkan wangsit atau ilham dari Yang Maha Kuasa; bukan ilham kewalian atau religiuitas keislaman, tapi justru ilham kekristenan. Ilham kekristenan yang diperoleh Tunggul Wulung lalu diturunkan kepada Kiai Sadrach. Secara genealogis kita bisa menempatkan kalau doktrin kekristenan Kiai Sadrch berbeda dengan kekristenan Barat [Belanda] yang kolonialistik. Orang Jawa menyebut model kekristenan Kiai Sadrach itu dengan nama “Kristen Jowo” dan Kristen kolonial dengan “Kristen Londo”.

Kita tahu kalau kristenisasi merupakan salah satu misi terselubung dari seluruh rangkaian agenda kolonialisasi. Perang salib, kolonialisme Mesir oleh Napoleon; seluruhnya mengindikasikan hal itu. Sebagai salah satu negara Eropa, Belanda tentu harus menunaikan kewajiban kulturalnya terhadap gereja yang menjadi otoritas mutlak kehidupan masyarakat Eropa. Selain mengeruk kekayaan bangsa Indonesia, kolonialisasi juga hendak mengkristenkan seluruh bumi pertiwi dan berlutut di bawah kekuatan gereja.

Melihat keberadaan Kristen di tanah jajahannya, Belanda awalnya merasa beruntung. Mereka tidak perlu susah-susah mengirimkan misionaris untuk melakukan kristenisasi. Keberadaan Kiai Sadrach dan ajaran kekristenannya bagi pihak kolonial merupakan “durian runtuh” yang mereka yakini akan efektif karena doktrin kekristenan disebarkan oleh kaum pribumi sendiri. Hal ini tentu akan memangkas “jarak” antara pihak kolonial dan kaum pribumi. Kesulitan-kesulitan berupa bahasa sebagai media komunikasi, pemahaman akan tradisi pribumi dan bentuk fisik, akan dengan segera teratasi berkat kehadiran Kiai Sadrach. Tapi di kemudian hari, misionaris kolonial merasa ada janggalan-janggalan yang mereka dapati dari kerja kristenisasi yang dilakukankan Kiai Sadrach.

Apa yang dilakukan Kiai Sadrach menjadi semacam keretakan psikis bagi kolonialisme Belanda. Mengikuti Lacan dan Fanon, Kiai Sadrach bisa kita posisikan sebagai bahan untuk melihat ambivalensi kolonialisme dalam wajahnya yang tak tunggal. Ambivalensi ini nanti akan terlihat dari sikap yang ditunjukkan sebagai respon terhadap Kristenisasi yang dilakukan Kiai Sadrach.

Kalaupun boleh membuat semacam analogi radikal, Kristenisasi yang dilakukan Kiai Sadrach sama hanya dengan Islamisasi yang dilakukan oleh Walisongo. Sebuah proses yang secara “bungkus” sesuai dengan instruksi “pusat”, namun secara isi ia “memberontak”, “menyeleweng” dan “oposisi”.

Kristenisasi selalu setia dengan sifatnya yang invansif. Di mana-mana Kristen selalu ditampakan sebagai dogma yang harus dipaksakan diimani dan diyakini. Sifat invansif semacam ini hilang di tangan Kiai Sadrach, sebagaimana juga sifat invansif dalam Islamisasi hilang di tangan Waiisongo. Mengapa? Karena Kiai Sadrach mendialogkan ajaran Kristen dengan kultur dan tradisi masyarakat Jawa yang ada.

Dari medan perjuangan ini, Kiai Sadrach membabat sebuah lahan perlawanan yang sama sekali baru dan sulit disikapi bahkan oleh pihak kolonilisme sendiri. Ketika para Kiai antikolonal dalam Islam didata dan diawasi, maka Kiai Sadrach dengan tenangnya bergerak zig zag ke sana ke sini. Ketika pergerakan kaum Islam dan pesantren dibendung dan dibantai habis-habisan, pergerakan Kiai Sadrach dan pengikutnya mengambil bentuk lain yang mustahil dibendung oleh pihak kolonial.

Saya menggunakan kata mustahil dari ketidakberdayaan kolonialisme merespon gerakan-gerakan sejenis Kiai Sadrach timbul dari ambiguitas kejiwaaan kolonialisme atau orientalisme itu sendiri. Analoginya: cerminan diri kolonialisme yang dipantulkan dalam cermin di samping tidak memantulkan gambaran aslinya, juga memantulkan gambaran tak tunggal karena Kiai Sadrach meretakkannya. Akibatnya, kolonialisme kelimpungan untuk kembali memilih kesadaran dan merepih keteruraian psikis mereka. Perdebatan pun muncul dalam internal pihak kolonial.

Apa yang kita lihat dalam kasus Kiai Sadrach bukan hanya kontestasi antara pribumi dan penjajah, antara Timur dan Barat, antara yang mistik dan rasional, antara yang konservatif dan modern, namun juga ambivalensi serta keterpecahan ketidaksadaran kolonialisme dalam mendefinisikan dan memantapkan identitas diri mereka. Inilah alasan mengapa meskipun Kristen, Sadrach masih dikenal sebagai kiai.

Mengapa pergerakan Kiai Sadrach bisa sedahsyat itu? karena sebelum memahami ajaran-ajaran Kristen dan melakukan Kristenisasi, beliau belajar di pesantren dan berlatih sebagaimana orang-orang pesantren melakukan islamisasi. Di pesantren Kiai Sadrach ngelmu pada kiai, belajar kitab kuning dan aksara Jawa. Secara identitas Kiai Sadrach kuat karena lahir dan besar di Jawa, pertemuan pertama dengan guru Kristennya Tunggul Wulung pun turut memperkuat keKristenan jowo dalam dirinya. secara manhaji Kiai Sadrach kuat karena ngelmu di pesantren. Dua kekuatan yang menghancur leburkan sistem kesadaran kaum kolonial.[]

REKOMENDASI

Download Naskah Pidato Pengukuhan Dr [HC] KH. Afifuddin Muhajir; Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam...

Harakah.id - Pidato pengukuhan Doctor Honoris Causa KH. Afifuddin Muhajir ini penting untuk mengukuhkan posisi NKRI dalam timbangan syariat Islam.

Lewati 8 Kota di 7 Negara, Ini Rute Perjalanan Imam al-Bukhari Mencari Hadis

Harakah.id – Rute perjalanan Imam al-Bukhari mencari hadis bukan kaleng-kaleng. Delapan kota di tujuh negara dilewati oleh Imam al-Bukhari untuk mencari...

Mengenal Gagasan Ibn Haitsam: Ilmuwan dan Filosof Muslim yang Terlupakan

Harakah.id - Ibn Haitsam mungkin adalah salah seorang ilmuan dan filosof Muslim yang jarang sekali dibicarakan. Popularitasnya kalah dengan ilmuan dan...

Kisah Perempuan dalam Jaringan Pendukung ISIS di Indonesia

Harakah.id - Perempuan memiliki peran jauh lebih penting dalam proses pembentukan klaster kelompok radikal. Kisah para perempuan berikut akan menunjukkan hal...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...