Beranda Kolom Kiai Sahal Mahfudz Dan Pro-Kontra Mengenai Program Keluarga Berencana

Kiai Sahal Mahfudz Dan Pro-Kontra Mengenai Program Keluarga Berencana [KB]

Harakah.id Program Keluarga Berencana, atau KB, adalah program yang disosialisasikan pemerintah untuk menekan melonjaknya jumlah penduduk. Namun, program ini menimbulkan pro-kontra di kalangan para Kiai. Dan ini menurut Kiai Sahal Mahfudz…

Sosialisasi program keluarga berencana [KB] dari pemerintah terhadap masyarakat pada mulanya dikritik oleh banyak ulama. Dapat dimengerti bila saat itu ulama mengkritik program tersebut karena di dalam fiqh membatasi keturunan termasuk perbutan yang dimakruhkan, bahkan diharamkan. 

Dalam Ahkamul Fuqaha, kitab kumpulan bahtsul masail NU, dijelaskan bahwa ‘azl (mengeluarkan mani di luar rahim) atau dengan menggunakan alat yang dapat mencegah mani sampai ke rahim, seperti kondom, hukumnya makrah.  Dihukumi makruh juga bila pembatasan keturunan dengan meminum obat untuk menjarangkan kehamilan. Akan tetapi, hukumnya bisa naik pada tingkat keharaman jika memutuskan kehamilan secara total kecuali bila ada bahaya. Misalnya, orang yang terlalu banyak melahirkan anak menurut pendapat ahli tentang hal ini dapat membahayakan, maka pada sitausi ini dibolehkan bagi seseorang untuk menghindari kehamilan.

Menurut KH Sahal Mahfudz, terdapat perbedaan persepsi antara pemerintah dan ulama dalam menyikapi program keluarga berencana [KB]. Perbedaan antara kedua belah pihak bertambah parah karena tidak adanya dialog intensif di antara mereka. Selain itu, KH Sahal juga mengkritik pandangan ulama yang hanya melihat KB dari satu aspek saja, tanpa memperhatikan maksud utama (maqashid) dari program tersebut.

Dalam pandangan KH. Sahal, menghukumi KB mesti memperhatikan tujuannya (maqasid), sebab KB pada hakikatnya hanya sebatas sarana atau alat  (wasail) untuk mencapai tujuan tersebut. ‘Izzuddin Ibn ‘Abdussalam mengatakan lil wasail ahkamul maqashid, sarana dihukumi berdasarkan tujuannya. Sarana menuju kebaikan dan kemaslahatan dihukumi boleh dan sunnah, sementara sarana menuju keburukan dan kemudharatan dihukumin makruh dan haram. Semakin sarana tersebut mendekati pada kemaslahatan, maka menggunakan sarana itu sangat dianjurkan, bahkan diwajibkan.

Kaidah yang dirumuskan ‘Izzuddin dalam Qawaidul Ahkam ini diperkuat oleh muridnya Syihabuddin al-Qarafi.  Ia membagi hukum dalam dua kategori: wasilah (sarana) dan maqashid (tujuan). Kedua aspek ini saling berkaiatan dan tidak dapat dipisahkan. Untuk memperoleh tujuan yang dimaksud pasti ada jalan yang harus ditempuh. Haji misalnya, tidak mungkin melaksanakan haji tanpa melakukan perjalanan. Perjalanan dapat dikategorikan sebagai wasilah untuk mencapai tujuan, yaitu ibadah haji.

KH. Sahal dalam beberapa tulisannya terkait program keluarga berencana [KB] seringkali menegaskan pentingnya memperhatikan dan menimbang kemaslahatan dan kemudharatan dari setiap hukum atau perbuatan. Hal ini beliau tegaskan khususnya pada ulama dan kiai. Mengutip pendapat Imam al-Ghazali, KH. Sahal mengatakan, di antara ciri mendasar seorang ulama adalah faqih fi mashalihil khalq, memahami kemaslahatan makhluk secara mendalam. Ulama berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan kemaslahatan terhadap manusia dan membantu mereka agar terhindar dari kemudharatan semaksimal mungkin, baik kemudharatan di dunia maupun di akhirat. (KH. Sahal Mahfudz: Program KB dan Ulama [1989]).

Pada hakikatnya, manusia hidup untuk mencari kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adah al-darayni). Kebahagian tersebut terwujud apabila manusia mampu berkerja-sama dan berinteraksi sesama manusia untuk melakukan perbuatan dan amal yang produktif. Dalam pandangan KH. Sahal, interaksi dan kerja sama manusia itu lebih bermanfaat dan bermaslahat bila kualitas dan kuantitasnya seimbang. Tatanan sosial dan stabilitas keamanan dan kenyamanannya akan rusak bila penduduk bertambah banyak, sementara sarana dan fasilitas yang tersedia sangatlah sedikit. 

Akibat yang dihasilkan oleh ketidakseimbangan antara kualitas dan kuantitas ini, atau jumlah penduduk tidak sebanding dengan fasilitas, adalah memburuknya perekonomian, kesejahteraan masyarakat tidak merata, kesehatan memburuk, dan kebanyakan masyarakat berpendidikan rendah dan kesehatannya terganggu. Di beberapa daerah, dampak dari pertumbuhan penduduk, sumber daya alam dan ekonominya terkuras, akibatnya mereka kehilangan pekerjaan dan menyerah terhadap kehidupan. Hal ini tentu berdampak buruk terhadap pertumbuhan keturunan mereka. 

Oleh sebab itu, untuk menghindari dampak buruk ini, perlu adanya pembatasan keturunan atau angka kelahiran agar kebutuhan masyarakat dengan fasilitas yang disediakan seimbang, mulai dari pekerjaan, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Berdasarkan fakta ini, KH. Sahal memahami program keluarga berencana [KB] dilakukan bukan hanya sebatas menghindari keterpurukan ekonomi, tetapi lebih dari itu, KB bertujuan untuk menyelamatkan anak bangsa dari  kebodohan, penyakit, rendahnya moralitas dan iman, kriminalitas, serta penyakit sosial lainnya. 

Berdasarkan pertimbang ini, KH Sahal membolehkan KB selama tidak bertentangan dengan hukum agama, undang-undang negara, dan moral pancasila, dan tujuannya untuk mendapatkan kesejahteraan keluarga dan bangsa. Sebenarnya, menurut penggagas fiqh sosial ini, pengaturan angka kelahiran dan pembatasan keturunan sudah dikenal pada masa Rasulullah SAW. Bedanya, dulu dilakukan tanpa menggunakan alat, seperti ‘azl, sementara sekarang menggunakan alat KB. Pendapat ini didasarkan pada hadis riwayat Jabir bahwa para sahabat melakukan ‘azl di masa Rasulullah dan beliau tidak melarangnya dan tidak ada satupun ayat yang turun untuk melarang praktek tersebut (HR: Bukhari-Muslim). Itu artinya Rasulullah SAW membolehkan pembatasan kehamilan.

REKOMENDASI

Surah Yang Dianjurkan dan Disunnahkan Dibaca Dalam Pelaksanaan Salat Idul Fitri

Harakah.id - Dalam pelaksanaan salat idul fitri, ada surah-surah yang sunnah dan dianjurkan untuk dibaca. Surah apa saja? Simak artikel di...

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...