Beranda Gerakan Kiri Islam, Pengertian, Penyebab Kemunculan dan Tema Sentralnya

Kiri Islam, Pengertian, Penyebab Kemunculan dan Tema Sentralnya

Harakah.id Secara ilmiah Kiri Islam digunakan untuk ilmu politik yang berarti perlawanan dan pemikiran kritis, yang menjelaskan adanya jurang pemisah antara realitas dan idealitas.

Hassan Hanafi bukanlah nama yang asing di telinga para akademisi. Apalagi bagi kita yang gemar membaca karya-karya tentang pembaharuan dalam Islam. Hassan Hanafi merupakan seorang intelektual muslim sekaligus tokoh filsuf terkemuka di Mesir.

Beliau dilahirkan pada tanggal 13 Februari 1935 M di kairo, Mesir. Keluarga Hassan Hanafi berasal dari Bani Suwayf, sebuah provinsi yang terletak di Mesir bagian dalam dan berurban di Kairo. Meskipun dalam lingkungannya bisa dikatakan kurang mendukung, namun kota tersebut memiliki arti yang penting bagi perkembangan awal tradisi keilmuan Hassan Hanafi.

Namun sebelum itu, ada sesuatu yang menarik ketika kita sering berdiskusi tentang pembaharuan dalam pemahaman Islam. Mungkin akan timbul sebuah pertanyaan di dalam benak kita.

Apakah iya Islam selalu membutuhkan pembaharuan? Jikalau iya, pemahaman Islam mana yang mengalami degenerasi sehingga harus memerlukan pembaharuan atau penyegaran? Perlu kita mengingat bahwa sebenarnya Islam tidak membutuhkan yang namanya pembaharuan, karena Islam telah sempurna dengan semestinya.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka justru yang seharusnya diperbaharui ialah sikap kita terhadap agama. Yaitu, kekurangan pemahaman terhadap agama, bukan kekurangan yang diduga berada pada ajaran Islam itu sendiri.

Problem-problem yang dihadapi Islam saat berada di zaman dulu, mungkin berkisar pada masalah pembersihan akidah dari berbagai macam bentuk kesyirikan atau pembersihan ibadah dari segala bentuk tahayul dan khufarat.

Sementara, problem-problem keagamaan yang lahir pada zaman kontemporer ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan politik dan ekonomi. Tidak berlebihan jika dikatakan masa depan Islam nanti akan sangat bergantung pada kemampuan umat Islam untuk menjawab berbagai tantangan masalah sosial politik maupun sosial ekonomi yang cukup mendasar pada zaman ini.

Dalam situasi ketertinggalannya negara-negara Islam dari Barat, tampil seorang intelektual muslim dari mesir pada abad kedua puluh, yang dikenal sebagai Hassan Hanafi. Beliau meluncurkan berbagai ide pembaharuan dalam sebuah jurnal terkenal dengan judul al-Yasar al-Islami (Kiri Islam).

Kiri Islam

Mungkin bagi mereka yang jarang membaca tentang pemikiran-pemikiran Hassan Hanafi, akan terasa asing mendengarkan kata “Kiri Islam”. Apa? Kiri? KOMUNIS dong! Eits, tunggu dulu, biar penulis yang menjelaskan dengan lebih komprehensif.

Istilah Kiri Islam berasal dari kata “Al-Yasar al-Islami” yang merupakan judul dari jurnal ilmiah yang diprakarsai oleh Hassan Hanafi pada tahun 1981. Secara ilmiah Kiri Islam digunakan untuk ilmu politik yang berarti perlawanan dan pemikiran kritis, yang menjelaskan adanya jurang pemisah antara realitas dan idealitas.

Nama Kiri Islam ini sebenarnya muncul begitu saja secara spontan oleh Hassan Hanafi setelah ia melihat realitas umat Islam yang tertindas dan tertinggal. Menurut Hassan Hanafi, jurnal yang berjudul Al-Yasar al-Islami ini bertujuan untuk mengangkat posisi kaum yang tertindas, kaum miskin, dan mereka yang menderita.

Penyebab Munculnya Gagasan Kiri Islam

Jurnal Kiri Islam sebenarnya diterbitkan oleh Hassan Hanafi sebagai respon terhadap kemenangan Revolusi Islam di Iran pada Tahun 1979. Namun, kemenangan revolusi di Iran bukanlah sebagai satu-satunya lahirnya Kiri Islam. Melainkan masih ada faktor lain yaitu adanya gerakan modern Islam lainnya.

Pertama, Hanafi mengungkapkan bahwa setelah melihat realitas kehidupan umat Islam di dunia, khususnya di Mesir pada saat itu, ada kecenderungan-kecenderungan keislaman yang berkaitan dengan kekuasaan dan bergesernya praktik keislaman menjadi hanya sebatas ritual semata dan melupakan aspek sosial dari agama itu sendiri (Hanafi, al-Yasar: 9).

Padahal, Islam sebagai agama paripurna bukan hanya berisi ajaran-ajaran mengenai hubungan manusia dengan Allah, namun juga mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lain. Tentu diharuskan untuk membantu mengatasi masalah kemanusiaan yang terjadi.

Kedua, liberalisme menjadi sasaran kritik Hanafi. Walaupun dalam pemikirannya Hanafi dengan jelas dan terang-terangan menolak pemikiran Barat, tetapi liberalisme itu sendiri merupakan hasil dari kolonialisme Barat. Namun karena liberalisme didukung oleh kelas atas, akibatnya rakyat muslim menjadi korban eksploitasi ekonomi (Hanafi: 10).

Ketiga, adanya kecenderungan-kecenderungan Marxis-Barat yang bertujuan untuk mendirikan partai yang berjuang menentang imprealisme. Sementara, kaum muslim sendiri pada saat itu tidak bisa mengembangkan khazanahnya sendiri. (Hanafi: 10).

Keempat, adanya sebuah gerakkan revolusi nasional yang menimbulkan perubahan yang mendasar dalam struktur sosial-budaya. Namun, itu semua tidak melibatkan kesadaran kaum muslimin, al-Tanwir al-Syamil (Hanafi, 1981:10).

Tiga Tema Sentral Kiri Islam

Tema sentral dari pemikiran Hassan Hanafi yang terdapat dalam gagasan Kiri Islam dapat dibagi menjadi tiga isu besar, yakni (1) revitalisasi khazanah Islam klasik; (2) Urgensi penentangan atas peradaban Barat; dan (3) realitas faktual dunia Islam.

Pilar pertama, Hassan Hanafi lebih memfokuskan bahwasannya diperlukan rekontruksi, pembangunan, dan pemurnian khazanah (Islam) klasik sangat penting dilakukan untuk merevitalisasi khazanah Islam.

Pilar kedua, perlunya untuk menentang peradaban Barat. Menurut beliau, Kiri Islam memiliki keterkaitan dengan agenda al-Afghani yaitu melawan kolonialisme dan keterbelakangan yang menyerukan kebebasan dan keadilan sosial serta mempersatukan umat Islam yang telah terpecah-belah. Tugas Kiri Islam adalah mengembalikan kebudayaan Barat ke batas alamiah dan mengakhiri mitos peradaban Barat yang telah mendunia (Oksidentalisme, Hanafi: 34).

Pilar ketiga, realitas dunia Islam, gagasan Kiri Islam sebenarnya memberikan gambaran real situasi dunia Islam, bukan gambaran secara normatif. Menurut beliau, dunia Islam sedang menghadapi tiga ancaman, yaitu imperialisme, zionisme, dan kapitalisme dari luar serta ketertindasan dan keterbelakangan dari dalam.

Kesimpulan

Gagasan Kiri Islam yang dikembangkan oleh Hassan Hanafi agaknya cukup menarik jika kita diskusikan. Karena lewat karyanya, terlihat banyak menggunakan ungkapan-ungkapan tajam daripada ungkapan arif nan “menyenangkan”.

Dalam artian lain, ia lebih mendahulukan istilah “nahi munkar” daripada “amar ma’ruf”. Kendati demikian, ide-ide revolusioner yang ia curahkan didalamnya menjadi bahan diskusi yang menarik dan bahan pertimbangan untuk kebangkitan umat Islam dalam percaturan intelektual muslim di dunia. Namun ide yang beliau tuangkan juga tidak terlepas dari kritikan.

Namun kita tetap berharap baik itu kritik atau gagasan Kiri Islam yang beliau kembangkan sesungguhnya dapat memberikan sumbangsih yang sangat berharga (terutama dalam jagat diskursus Islami Studies) bagi kepentingan Islam dan kaum Muslimin.

Mungkin sebagai penutup, sejatinya tulisan ini hanyalah rangkuman dari pemikiran penulis ketika membaca karya-karya Hassan Hanafi yang jikalau kita bawakan ke dalam zaman dewasa ini, itu semua sangat relevan dengan keadaan dunia saat ini. Di mana Barat masih mengglobal, kita umat Islam masih dalam keadaan ketertinggalan.

Namun kita sama-sama tahu betul bahwa perubahan yang seperti itu tidak bisa dilakukan hanya dengan semalam dan sekejap mata, apalagi ditambah dengan kita yang notabene memiliki hobi rebahan. Mungkin Kiri Islam hanya akan sekedar tulisan Hassan Hanafi yang tinggal menanti sesosok pahlawan cukup sinting untuk mengimplementasikannya.

Artikel kiriman dari Ahmad Isa Pamuji, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Semester 6 (Enam), Juga merupakan Alumni PP. Manba’ul Hikam, yang mengemari baca kitab kuning salaf.

REKOMENDASI

Demi 1 Hadis, Sahabat Nabi Ini Tempuh Jarak 4000 Km untuk Pastikan Hafalannya

Harakah.id – Kisah seorang sahabat yang rela menempuh jarak Madinah-Mesir hanya untuk mencocokkan satu hadis yang dihafalnya. Tidak...

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Dahulukan yang Mana? Ganti Utang Puasa Wajib Atau Berpuasa Syawal?

Harakah.id - Ganti utang puasa wajib atau berpuasa syawal? Mana yang harus dikerjakan dulu? Mungkin kalian bertanya-tanya. Dan simak artikel berikut...

4 Tujuan Puasa Yang Wajib Diketahui, Agar Ibadah Puasa Semakin Bermakna

Harakah.id - Puasa dalam Islam memiliki tujuannya sendiri. Berdasarkan petunjuk al-Quran, hadis, dan telaah para ulama, kita temukan sedikitnya empat tujuan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...