Beranda Sejarah Kisah di Balik Kesuksesan Sultan Muhammad Al-Fatih Menaklukan Kota Konstantinopel

Kisah di Balik Kesuksesan Sultan Muhammad Al-Fatih Menaklukan Kota Konstantinopel

Harakah.idSultan Muhammad Al-Fatih naik tahta pada usia 13 tahun. Semenjak menjadi sultan Ottoman, Ia berambisi besar menaklukan Konstantinopel dengan melakukan beragam strategi. Salah satunya mendekatkan diri pada sang Khalik.

Kota Konstantinopel dahulu dikenal sebagai ibukota Kekaisaran Bangsa Romawi Timur. Kota  yang kini dijuluki Istanbul ibukota republik Turki masih banyak menyimpan cerita sejarah melegenda sampai sekarang. 

Kota Konstinopel dibangun era Maharaja Bizantium bernama Constantine 1. Pada masa itu kota ini terkenal budaya peradaban hingga ekonominya yang maju menghantarkannya mencapai puncak kejayaan. Ketika itu, Konstantinopel  dikenal sebagai pusat ekonomi dan kebudayaan tidak salah kalau kemudian kota ini  menjadi rebutan negara-negara di dunia seperti Rusia, Arab termasuk Kerajaan Ottoman. 

Konstantinopel Telah Dikenal Sejak Zaman Nabi Muhammad SAW

Keberadaan Konstantinopel telah  dikenal sejak dahulu  di masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan kejatuhan Kontantinopel sudah diprediksi atau diramal. Nabi SAW mengatakan bahwa Konstantinopel akan ditaklukan oleh tentara Islam. 

Hal ini terlihat saat Syahdan, salah seorang sahabat bertanya kepada Rosullah SAW. “Ya Rasul, mana yang lebih baik dahulu jatuh ke tangan kaum Muslimin, Konstantinopel atau Romawi?” Nabi menjawab, “Kota Heraklius (Konstantinopel). ( HR Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim). 

Pada 7 abad kemudian tepat tanggal 29 Mei 1453 ramalan Nabi terbukti. Dengan kekuatan 100 ribu pasukan di bawah komando Mehmed II, dikenal Muhammad Al-Fatih, berhasil menaklukkan Konstantinopel

Bukan Kali Pertama Konstantinopel Ditaklukan

Sebelum ditaklukan Sultan Mehmed II setidaknya sejumlah  pemimpin Islam berusaha ingin menaklukkan Konstantinopel. Mulai era Bani Muawiyah, Bani Abbasiyyah dan sang khalifah Harun Ar-Rasyid pun juga pernah menaklukan kota konstantinopel. Namun, tidak ada satu pun di antara Mereka  dalam catatan perjalanan sejarah yang berhasil menaklukan kota ini. 

Baru kemudian ditangan Islam era Muhammad Al-Fatih atau terkenal dengan nama Sultan Mehmed 2, salah satu sultan Kekhalifahan Ottoman yang revolusioner, kota Konstantinopel sukses ditaklukkannya. 

Sultan Yang Tidak Pernah Meninggalkan Shalat Tahajud 

Muhammad Al-Fatih sejak kecil dididik oleh ayahnya berbagai ilmu pengetahuan agama sehingga berpengaruh besar bagi dirinya ketika Ia menginjak dewasa. Ia juga melihat usaha keras dan perjuangan ayahnya menaklukan Konstantinopel, tetapi akhirnya mengalami kegagalan. Sultan Muhammad Al-Fatih naik tahta pada usia 13 tahun.  Semenjak menjadi sultan Ottoman, Ia berambisi besar menaklukan Konstantinopel dengan melakukan beragam strategi. Salah satunya mendekatkan diri pada sang Khalik. 

Ia sangat kuat shalat malamnya yaitu tahajud, ahli Qiyamul lail. Setiap malam Ia selalu berkeliling di malam hari, memeriksa kondisi teman dan rakyatnya. Ia sengaja berkeliling untuk memastikan agar rakyat dan kawan-kawannya menegakkan shalat malam dan Qiyamul lail. Qiyamul lail adalah pedang malam yang selalu menemaninya setiap malam dengan tulus ikhlas dan khusuk. 

Dari pedang malam inilah timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al-Fatih. 

Selain rajin shalat tahajud Ia bersama pasukannya juga rajin berpuasa sunnah sebelum menaklukan Konstantinopel. Kebiasaan para prajurit Muhammad Al-Fatih sebelum masuk medan perang adalah berpuasa di siang hari dan shalat tahajud di malam hari. Ritual ini dilakukan untuk meminta kemenangan kepada Allah

Pasukan Elite  Janissari 

Ia mengumpulkan pasukan sebanyak 250.000 orang. Konon hampir semua pasukan tersebut tidak pernah lepas dari Tahajud dan pasukan ini kemudian dikenal dengan nama pasukan Janissari. 

Janissari atau pasukan baru yang diberikan seorang ulama Mukmin pada masa kesultanan Orkhan bernama Haji Baktasy. Pasukan Janissari merupakan pasukan reguler terdiri para Mujahid dan pemimpin, komandan Romawi serta pengawal sultan Utsmaniyah  yang muncul abad ke-14. 

Pasukan Sultan Mehmed II tersebut merupakan pasukan terlatih dan elit terbaik dunia. Pasukan ini memiliki peran penting dalam penaklukan Konstantinopel. Tentara Janissari berjumlah 250 ribu  diberi latihan tentang beragam strategi perang, nasehat tentang kelebihan jihad, harapan kemenangan dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, zikir. pujian dan doa kepada Allah SWT

Dibekali persenjataan modern Meriam Orban 

Tidak hanya pasukan elite yang terlatih, mereka dibekali senjata meriam canggih berukuran raksasa yang disebut Meriam Dardanella atau dikenal Meriam Orban. Meriam Orban adalah meriam dari Kekaisaran Ottoman  yang digunakan selama penaklukan kota Konstantinopel tahun 1453 M. Meriam Orban dibuat oleh Orban berasal dari Hongaria. 

Panjang meriam Orban 8 meter dengan berat mencapai 16, 8 ton dan diameter 750 mm. Daya tempur meriam ini mampu melemparkan peluru bola dari batu dengan diameter 63 cm sampai sejauh 2 kilometer. Sisi lain dari meriam Orban saat dipakai pengepungan kota  Konstantinopel ditarik 60 lembu dan 200 tentara Ottoman. 

Butuh waktu lama untuk mengisi ulang amunisi bisa tujuh kali tembakan sehari, akibatnya dalam waktu lama akhirnya dinding benteng kota Bizantium bisa berlubang. Kota Konstantinopel jatuh 29 Mei 1453 melalui gerbang yang tidak dilindungi. 

Membangun Benteng Rumli Haisar di Selat Bospurus

Pasca membentuk pasukan Janissari, Muhammad Al-Fatih selanjutnya membangun benteng Rumli Haisar di kawasan selat Horus selama 4 bulan. Benteng ini dijadikan sebagai pusat persedian perang untuk menyerang kota Konstantinopel. Setelah berbagai persiapan telah selesai,  pasukan Utsmani di bawah Al-Fatih melakukan pengepungan selama 9 bulan. 

Pada  tanggal 2 April 1453, Mehmed II menyatakan perang dan menyerang kota itu. Tidak datang  sendiri, Ia bersama gurunya Syekh Aaq Syamsudin, Halil Pasha dan Zaghanos menyerbu berbagai penjuru kota Konstantinopel, di saat kota ini juga mengalami kekacauan konflik agama.  

Mehmed II tidak kenal pantang menyerah kemudian mengirim surat pada Paleogus apakah  masuk Islam, membayar upeti atau perang? Paleogus tetap pada pendiriannya memilih  mempertahankan Konstantinopel bersama beberapa pangeran. Mereka tersebut di antaranya: Kardinal Isidor,  Pangeran Orkan, Giovani Giustani dari Genoa dan Kaisar Kontantius, karena khawatir akan serangan angkatan laut Ottoman di kawasan pantai Tanduk emas. 

Berlokasi tepatnya di pintu gerbang pelabuhan ini Paleogus meletakan  rantai yang cukup besar, sehingga kapal Turki tidak dapat masuk ke pelabuhan. Tidak hanya itu, Mereka juga  memperbaiki dinding bendung, membuat parit selebar 50-60 meter. Kaisar Konstanius tetap nekad mempertahan Konstantinopel, maka Sultanl Al-Fatih dengan berbekal senjata modern dan ribuan pasukan terlatih menyerbu Konstantinopel. 

Membobol Benteng 2 Lapis

Kisah penaklukan Konstantinopel berlangsung dramatis yang saat itu, Sultan Al-Fatih dan pasukannya menyerbu Konstantinopel melalui rintangan yang penuh terjal. Kawasan konstantinopel ini dikelilingi benteng setebal 10 meter dan parit 7 meter membuat benteng sulit ditembus. Lebih tragisnya lagi pasukan artileri harus membobol benteng 2 lapis dari sebelah Barat dan di arah selatan berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani. 

Dari arah timur armada laut Ottoman harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi rantai-rantai berukuran besar. Keadaan tersebut tentu menyulitkan kapal perang ukuran kecil lewat. 

Takluk Karena Lalai Menutup Pintu Gerbang

Kuatnya rantai di selat Tanduk Emas, maka Mehmed II memerintahkan angkatan lautnya untuk mengangkut kapal-kapal mereka melalui darat. Mereka menempatkan kembali di laut yang berada di balik rantai. 

Ide Sultan Muhammad melakukannya dengan lebih cerdik lagi. Ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Ada 70 kapal laut yang diseberangkan lewat  jalur darat masih ditumbuhi pohon-pohon besar. Menebangi pohon-pohon besar, menyebrangi kapal-kapal dilakukan sangat singkat, tidak sampai satu malam. 

Diserang dari dua sisi, pertahanan Konstantinopel goyah, kelalaian salah seorang prajurit Italia dalam mengunci gerbang di salah satu pos pertahanan, gerbang Kerkoporta, membawa bencana. 

Tepat 29 Mei 1453 Masehi

Sembari meninggikan suara takbir,  kalimat Tauhid,  dan pasukan Al-Fatih berhasil mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di pusat kota. Perang menaklukan Konstantinopel yang memakan waktu selama 54 hari mampu dilewati dengan gemilang. Semenjak itu, Konstantinopel berada diwilayah Utsmaniyah menjadi ibukota, pusat pemerintah kerajaan Utsmani dengan nama baru yakni Istambul, lalu mengalami perubahan menjadi Istanbul. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...