Kisah Dzun Nun Al-Mishri dan Tobatnya Seorang Pemabuk

0
265

Harakah.idBetapa luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya. Bahkan kepada hambanya yang jelas-jelas telah durhaka kepada-Nya sekali pun, Allah tetap membuka pintu tobat-Nya dan memberikan ampunan-Nya.

Dzun Nun Al-Mishri lahir pada tahun 180 H/796 M di kota Akhmim, dekat Sungai Nil. Nama lengkap beliau ialah Abu Al-Faidh “Tsauban” ibn Ibrahim Al-Mishri. Tetapi nama yang lebih dikenal dan lebih sering dikutip ialah nama “Dzun Nun Al-Misri”.

“Dzun Nun” yang berarti “penguasa ikan Nun” merupakan julukan yang disematkan oleh orang-orang di beliau. Karena karomah beliau, yakni mampu menundukkan ikan Nun untuk mencari permata yang jatuh di sungai. Sedangkan menurut Ibnu Arabi, “Dzun Nun” diartikan sebagai “pemilik huruf Nun”, karena keteguhan hatinya untuk terus memohon kemurahan Tuhannya, seperti makna terdalam ada pada huruf Nun.

Dzun Nun Al-Mishri dikenal sebagai tokoh sufi yang memperkenalkan konsep makrifatullah. Kisah perjalanan hidup beliau sangat banyak dikutip untuk memberikan nasihat kepada orang yang sedang mencari rahmat-Nya. Salah satu cerita yang sangat masyhur ialah cerita tentang tobatnya seorang pemabuk yang tak jadi dipatuk ular berkat rahmat Allah Swt.

Cerita ini merupakan cerita pertama yang disebutkan oleh K.H. Ahmad Yasin Asymuni dalam kitab beliau yang berjudul Mau’idzah bil Hikayat. Beliau menukil kisah tersebut dari kitab At-Tawwabin, karya Ibnu Qudamah.

Suatu hari, Yusuf bin Al-Husain membersamai Dzun Nun Al-Mishri ke sungai untuk mencuci pakaian. Sebelum sampai di tempat yang dituju, mereka berdua menghentikan langkahnya karena melihat seekor kalajengking sangat besar yang sedang berjalan di tepian sungai. Mereka pun cukup khawatir apabila kalajengking itu akan menyengat mereka.

Yusuf dan Dzun Nun terus menunggu dan mengamatinya, hingga mereka berdua melihat bahwa kalajengking itu menghampiri seekor katak yang sedang menepi di pinggir sungai. Tak lama berselang, kalajengking berbisa itu menaiki punggung katak yang ditemuinya. Keduanya tampak berdamai dan terlihat akan membangun kongsi untuk mengarungi sungai.

Melihat kejadian yang tak lazim, Dzun Nun mengajak sahabatnya untuk terus mengikuti kedua hewan tersebut. Mereka terus mengikuti, hingga kedua hewan tersebut berhenti. Kalajengking itu pun turun dari punggung katak yang ditungganginya.

Seketika Dzun Nun dan Yusuf melihat ada seorang lelaki muda yang sedang tertidur di bawah pohon. Tetapi, di samping lelaki muda itu terdapat seekor ular berbisa yang sedang merayap. Ular itu bergerilya di sekitar orang yang tidur tadi. Ketika ular itu hendak menghampiri telinga lelaki muda itu, kalajengking tadi langsung mendekat ke arah ular.

Kalajengking dan ular tampak saling bersikukuh dalam suatu pertengkaran. Tak lama kemudian kalajengking itu menancapkan ekornya yang tajam kepada ular yang akan memangsa korban. Ular pun jatuh terguling-guling hingga mati.

Setelah berhasil mengalahkan ular dengan sengatan ekornya, kalajengking itu kembali menemui katak yang masih menunggunya di tepi sungai. Keduanya kemudian pergi menjauh dari tempat kejadian.

Setelah menyaksikan pertengkaran antara kalajengkin dengan ular, Dzun Nun kemudian menghampiri lelaki muda yang tidur di bawah pohon. Dzun Nur membangunkan lelaki muda itu dengan menggerak-gerakkan tubuhnya, hingga membuatnya terbangun.

Dzun Nun pun akhirnya mengetahui, bahwa lelaki yang berada dihadapannya bisa tertidur di bawah pohon karena pengaruh minuman keras yang membuatnya mabuk. Ketika lelaki tersebut membuka kedua matanya, ia tertegun melihat dua orang asing dan seekor ular yang tergeletak di sampingnya.

Baru saja tersadar dari tidurnya, lelaki itu lantas mendengarkan kronologi bagaimana tiba-tiba ada ular mati di sampingnya. Dzun Nun menceritakan kepada lelaki muda itu, bahwa Allah menyelamatkannya dari patukan ular dengan perantara seekor kalajengking yang lebih dahulu mengalahkan ular itu.
Setelah menceritakan apa yang baru saja terjadi, Dzun Nun menyambung dengan dua bait syairnya yang begitu indah;

يا غافلا والجليلُ يحرسُه # من كلّ سوءٍ يدبّ في الظلم
كيف تنامُ العيونُ عن ملكٍ # تأتيه منه فوائدُ النعم

“Wahai orang yang lupa (terlelap), (Allah Swt.) Dzat Yang Mahaagung selalu menjaganya dari segala perbuatan keji yang merayap dalam kegelapan.

Mengapa mata terus terpejamkan dari Dzat Yang Maharaja? Padahal mata dapat memperoleh manfaat dari berbagai kenikmatan.”

Mendengar syair penuh makna yang dilantunkan oleh Dzun Nun, laki-laki muda itu terperanjat dan bergegas bangkit. Pemuda itu berkata, “Tuhanku, jika ini cara memperlakukanmu-Mu terhadap orang yang telah durhaka kepada-Mu. Lantas betapa lembutnya Engkau terhadap orang yang taat kepada-Mu?”

Lelaki muda itu kemudian berpaling dari Dzun Nun, ia pergi menuju pedalaman dan tak ingin kembali lagi ke kota tempat tinggalnya semula.

Berdasarkan kisah di atas, dapat dimengerti betapa luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya. Bahkan kepada hambanya yang jelas-jelas telah durhaka kepada-Nya sekali pun, Allah tetap membuka pintu tobat-Nya dan memberikan ampunan-Nya.

Karena selain dengan Rahim-Nya (Mahapenyayang di akhirat) Allah meluaskan rahmat untuk hamba yang beriman, dengan Rahman-Nya (Mahapengasih di dunia dan akhirat) Allah juga meluaskan rahmat kepada seluruh makhluk yang diciptakan. Hewan, tumbuhan, orang munafik, bahkan yang orang kafir sekali pun tak sekali-kali terlepas dari rahmat-Nya.