Beranda Kolom Kisah Ibn Ummi Maktum dan Maklumat Islam Agar Tidak Mendiskriminasi Kaum Disabilitas

Kisah Ibn Ummi Maktum dan Maklumat Islam Agar Tidak Mendiskriminasi Kaum Disabilitas

Harakah.idKaum disabilitas, sampai hari ini, mungkin adalah kelompok yang seringkali menerima stigma buruk, perlakuan tak adil dan diskriminatif. Padahal Islam jelas-jelas melarang umatnya untuk bersikap demikian, termasuk kepada saudara-saudara kita yang disabilitas.

Beberapa bentuk stigma terhadap kaum disabilitas adalah bahwa mereka kelompok yang lemah, tidak berdaya, tidak memiliki kemampuan, tidak dapat berbuat sesuatu yang berarti, sakit, tidak normal, dan sejenisnya. Penyandang disabilitas dianggap sebagai orang yang “tidak mampu” melakukan pekerjaan, hidupnya bergantung kepada orang lain, dan tidak ada harapan untuk hidup mandiri sehingga mereka patut “dikasihani”. 

Secara sederhana stigma ini seolah-olah ingin mengatakan bahwa penyandang disabilitas tidak dapat berfungsi sepenuhnya seperti individu-individu lainnya. Dari stigma inilah banyak bermunculan perlakuan diskriminatif terhadap kaum disabilitas.

Allah mengingatkan agar satu komunitas tidak mengejek atau menghina komunitas lain. Tegas dinyatakan dalam al-Quran :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ  [الحجرات: 11]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesuah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim” (QS. Al-Hujurat: 11).

Syaikh Wahbah al-Zuhayli dalam kitab Tafsir Munir(Juz 26 Hal 251) menjelaskan bahwa lewat ayat ini Allah melarang kita mengolok-olok, mencela, menghina bahkan merendahkan orang lain. Karena belum tentu orang yang mencela lebih baik dan lebih tinggi derajatnya disisi Allah daripada orang yang dicela.

Dahulu, sekelas Rasulullah Saw pun mendapat teguran dari Allah hanya karena mengabaikan panggilan seorang tunanetra yang tak lain adalah Sahabat Abdullah Ibnu Umi Maktum.

Menurut riwayat yang mu’tabarah dalam kitab Tafsir Munir(Juz 30 Hal 57-58), Nabi saat itu sibuk berdiskusi dengan pembesar kaum Quraisy dengan harapan agar mereka masuk Islam. Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum masuk ke ruangan dan bergabung dengan mereka. Sahabat tersebut terus mengitari Nabi, kadang di sebelah kanan dan kadang di sebelah kiri, serta mengulang-ulang pertanyaan kepada Nabi tentang ajaran Islam.

Melihat perilaku Ibnu Ummi Maktum yang berputar-putar dan berusaha memotong pembicaraan dengan pembesar Quraisy, Nabi agak risih. Lantas Nabi berpaling dan mengabaikan keberadaan Sahabat Ibnu Umi Maktum.

Dari kisah inilah turun ayat al-Quran sebagai teguran pada Nabi :

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2)

Dia bermuka masam dan berpaling. Lantaran datang kepadanya orang tunanetra.” (QS. ‘Abasa: 1-2)

Syaikh Ibnu Jarir al-Thabari dalam Kitab Tafsir Thabari (Juz 26 Hal 217) menjelaskan bahwa yang dimaksud tunanetra dalam ayat tersebut adalah sahabat Abdullah Ibnu Umi Maktum, beliau Menambahkan bahwa ayat tersebut merupakan teguran atas perbuatan nabi terhadap sahabat Abdullah Ibnu Umi Maktum.

Selain soal perlakuan tanpa diskriminasi, pelajaran penting dari interaksi Nabi dengan Ibnu Ummi Maktum itu adalah penyediaan aksesibilitas untuk kaum disabilitas. Yaitu, berbagai kemudahan yang disediakan untuk penyandang disabilitas guna mewujudkan kesamaan kesempatan dengan mereka yang non disabilitas.

Aksesibilitas bagi penyandang disabilitas itu berangkat dari firman Allah SWT dalam Surah ’Abasa yang sama sekali tidak menyinggung ulah Ibnu Ummi Maktum saat menemui Nabi. Termasuk berkali-kali menanyakan hal yang sama, berputar ke sana kemari untuk mendapat jawaban Nabi, dan lain-lain. Itu artinya penyandang disabilitas memang harus disediakan berbagai kemudahan guna mewujudkan kesamaan kesempatan.

Sikap Nabi dalam menyediakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas ini secara mudah tergambar dalam sapaannya kepada Ibnu Ummi Maktum setelah turunnya QS ’Abasa. Sebab, Ibnu Ummi Maktum menjadi salah seorang sahabat yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW. Di mana saja bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum, dari jauh Nabi sudah menyapanya, ’’Selamat datang wahai orang yang telah menjadi sebab peringatan Allah kepadaku.’’ Dan Nabi selalu bertanya “Ada sesuatu yang kamu butuhkan?”.

Cerita di atas menunjukan bahwa Rasulullah SAW, sangat menyayangi kaum penyandang disabilitas dan memberikan fasilitas-fasilitas untuk memudahkannya. Karena perlakuan Nabi inilah Abdullah Ibnu Umi Maktum menjadi sahabat penyandang disabilitas yang tumbuh menjadi Tangguh dan mandiri.

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...