Kisah Ibrahim Al-Khawwash Pencetus “Tombo Ati” dengan Seorang Pemuda di Mekah

0

Harakah.idIbrahim Al-Khawwash adalah ulama sufi yang menggagas konsep tombo ati. Suatu ketika, ia pergi ke Mekah dan bertemu dengan seorang pemuda misterius. Inilah kisahnya.

Ibrahim Al-Khawwash adalah ulama sufi yang hidup pada masa abad ketiga Hijriyah. Beliau adalah seorang tokoh pencetus nyanyian “Tombo Ati” yang hingga kini sering kita dengar.

Hal ini sebagaimana yang tertulis di dalam kitab Al-Adzkar Al-Nawawi, Imam Nawawi menyebutkan bahwa al-Khawwash lah orang yang mengucapkan dawaul qalb atau obat hati, yang sekarang biasa kenal dengan istilah Tombo Ati.

Selain menjadi penggagas dari lagu tombo ati, guru dari Jakfar Al-Khuldi dan Abu Bakar Al-Razy ini juga adalah sosok teman dekat dari al-Baghdadi, jadi tak heran apabila beliau ahli dalam bidang sufistik, karena memang temannya saja adalah seorang sufi besar.

Al-Khawwash juga diriwayatkan sering kali bolak balik ke Makkah, selain untuk menunaikan ibadah haji, tak jarang beliau juga membuat majlis-majlis ilmu di sana.

Di dalam kitab al-Nur fi Fadhoil al-Ayyam wa al-Syuhur karya Ibn Al-Jauzi, diceritakan pada suatu ketika, saat al-Khawwash sedang menunaikan ibadah haji di Makkah seperti biasanya, dan mengunjungi makam Nabi di Madinah.

Di tengah-tengah perjalan, dia bertemu dengan salah seorang pemuda, yang berjalan sendirian. Kemudian pemuda yang ramah itu menyapa al-Khawwash dengan salam, dan al-Khawwash pun menjawab salam pemuda itu dengan suka cita.

Setelah saling sapa antara al-Khawwash dan pemuda, selanjutnya terjadilah obrolan antara keduanya. “Wahai pemuda yang baik, kamu berasal dari mana?”, tanya al Khawwash kepada sang pemuda.

Dia pun menjawab, “saya berasal dari-Nya”, “Lalu hendak kemana?”, tambah al-Khawwash. “saya sedang menuju-Nya dan menuju anugerah-Nya”, jawab sang pemuda.

Tak cukup sampai di sini obrolan antara keduanya, al-Khawwash melontarkan pertanyaan lagi kepada sang pemuda, “lalu bekal apa yang kau bawa wahai pemuda?”.

Pemuda tadi pun menjawab dengan singkat, “كهيعص”. Mendengar jawaban seperti itu, al-Khawwash pun bingung.

Karena bingung dengan maksud dari jawaban كهيعص yang dikatakan oleh sang pemuda, al-Khawwash pun minta penjelasan darinya, apa maksudnya. Sang pemuda menjawab pertanyaan al-Khawwash dan menjelaskannya satu-persatu maksud dari كهيعص.

Yang pertama adalah ك maksudnya الكافي (Yang Maha Mencukupi). Yang kedua adalah هـ maksudnya الهادي (Yang Maha Memberi Petunjuk). Yang ketiga adalah ي maksudnya المؤوي (Yang Maha Melindungi). Kemudian yang keempat adalah ع maksudnya العالم (Yang Maha Mengetahui). Kemudian yang terakhir adalah ص maksudnya الصادق (Yang Maha Benar).

Seketika al-Khawwash pun terkagum mendengar jawaban dan penjelasan dari sang pemuda. Sang pemuda tadi menjelaskan, bahwasanya dirinya tidak membawa bekal sedikit pun dan tidak membutuhkan apapun dalam perjalanannya.

Karena dia sudah sangat merasa cukup dengan Tuhannya. Menurutnya, jika teman perjalanannya itu adalah Dzat Yang Maha Mencukupi, Maha Memberi Petunjuk, Maha Melindungi, Maha Mengetahui, dan Maha Benar, sudah sangat lebih dari sekedar cukup. Oleh karena itu dia tidak perlu membawa bekal apapun dan tidak lagi membutuhkan hal lain.

Jawaban ini juga bisa menjadi pelajaran untuk kita semuanya. Bahwasanya, terkadang di saat-saat tertentu kita lalai dan lupa bahwa kita mempunyai Allah, yang pada hakikatnya bukan hanya sekedar Maha Mencukupi, Maha Memberi Petunjuk, Maha Melindungi, Maha Mengetahui, dan Maha Benar saja, namun masih banyak lagi sifat Maha yang lain dari Allah.

Contoh kecil saja di saat pandemi seperti sekarang ini, mungkin beberapa diantara kita ada yang ketakutan tak bisa makan karena tidak mempunyai makanan dan uang. Yang pada akhirnya berputus asa dan melakukan hal-hal yang buruk, seperti mencuri contohnya.

Padahal, kita masih mempunyai Allah, Tuhan Yang Maha Mencukupi. Asal kita selalu yakin dan selalu iklas berserah diri kepada-Nya, rezeki itu pasti akan sampai kepada kita entah itu melalui para donatur atau bantuan-bantuan dari instansi tertentu dan pemerintah.

Namun, tetap saja, maqom kita dengan pemuda dalam cerita tadi itu tidaklah sama. Mungkin pemuda yang bertemu dengan al-Khawwash tadi juga adalah seorang sufi, yang mana dalam kehidupannya memang sudah sama sekali tidak bergantung dengan perkara duniawi sedikit pun.

Namun kita, tidak dapat dipungkiri adalah manusia awam yang tidak mungkin melakukan perjalanan jauh tanpa bekal sedikitpun seperti pemuda dalam cerita tadi.

Tetap saja, yang namanya orang awam seperti kita harus berusaha terlebih dahulu, harus ada kasab yang kita lakukan. Karena sebagaimana yang ada di dalam kitab al-Hikam, maqom tajrid dan maqom asbab memang sangat berbeda dan tidak bisa disamakan atau dipukul rata.