fbpx
Beranda Keislaman Hikmah Kisah Kelinci Mengalahkan Singa, Tak Nyata Tetapi Penuh Makna

Kisah Kelinci Mengalahkan Singa, Tak Nyata Tetapi Penuh Makna

Harakah.idKisah ini merupakan simbolisasi untuk manusia-manusia yang sering ceroboh dan lalai dengan perintah agama. Dan tentang manusia-manusia lemah yang mendapatkan hikmah sebab tidak mudah berputus asa berikut kisah lengkapnya.

- Advertisement -

Jalaluddin Rumi dalam karyanya yang berjudul Matsnawi mengisahkan sebuah kisah hikmah yang dikutip dari kitab Hikayat Kalilah wa ad-Dimnah. Kisah tentang seekor singa yang berhasil ditipu oleh seekor kelinci. 

Kisah ini merupakan simbolisasi untuk manusia-manusia yang sering ceroboh dan lalai dengan perintah agama. Dan, tentang manusia-manusia lemah yang mendapatkan hikmah sebab tidak mudah berputus asa berikut kisah lengkapnya. 

Dikisahkan di dalam hutan terdapat seekor singa yang berhasil menundukkan semua hewan di hutan tersebut (sebab singa memang berjuluk sang raja hutan). Singa membunuh dengan leluasa hewan-hewan yang ada di hutan untuk memenuhi ‘asupan gizi’ di dalam perutnya. 

Baca Juga: Inilah Amalan yang Membuat Manusia Masuk Surga Bersama Para Nabi dan Ulama

Melihat pola pembunuhan dari singa yang ‘membabi buta’, hewan-hewan lainnya berembuk dan memutuskan untuk mengirimkan salah satu di antara mereka untuk memuaskan urusan perut singa, dengan perjanjian singa tidak membunuh dengan membabi buta. 

Singa menyetujuinya, karena setelah perjanjian tersebut singa tidak perlu bersusah payah untuk berlari dan menerkam agar perutnya kenyang. Singa hanya perlu ‘duduk’ dan ‘tidur’ dengan santuy, kemudian makanannya akan datang dengan sendirinya padanya. 

Suatu hari, tiba giliran seekor kelinci untuk menjadi kurban yang harus dikirimkan pada singa. Kelinci tidak mau pasrah begitu saja kepada ‘takdir’-nya sebagai santapan singa.

Kelinci ingin menjalankan sebuah strategi (wujud ikhtiyar) untuk menipu singa pemalas tersebut. Tetapi hal itu justru mendapat celaan dari teman-teman hewan yang lain. Kelinci tidak berkecil hati terhadap olok-olok tersebut. Ia tetap memilih melalukan ikhtiyar terlebih dahulu baru kemudian ‘pasrah’. 

Baca Juga: 6 Cara Islami Menahan Emosi Saat Marah

Akhirnya, kelinci berjalan dengan perlahan kepada singa yang memicu kemarahan singa sebab keterlambatan kelinci. Si kelinci beralasan bahwa sebenarnya ia datang bersama teman kelinci lainnya untuk menjadi santapan singa. Tetapi, teman kelinci itu ditangkap oleh seekor singa yang lain.

Mendengar penuturan kelinci, singa semakin marah karena ada singa lain yang berani mengambil jatah makanannya. Kemudian singa memerintahkan kelinci untuk mengantarnya kepada singa yang merampas jatahnya tersebut.

Kelinci meminta untuk naik ke punggung singa agar bisa segera sampai ke ‘TKP’, sebab larinya tidak akan mampu menandingi kecepatan lari singa. 

Kelinci memang dari awal telah membohongi singa dan berniat untuk menipu singa. Kelinci membawa singa menuju ke arah sebuah sumur. Setelah sampai di bibir sumur, kelinci berkata kepada singa bahwa singa yang mencuri jatahnya ada di dalam sumur tersebut.

Baca Juga: Kisah Umat Nabi Muhammad yang Tak Mempan Dibakar Api

Ketika melihat ke dalam sumur, singa memang melihat ada seekor singa di dalam sumur tersebut (padahal itu adalah pantulan dari dirinya sendiri). Dengan cepat  singa melompat ke dalam sumur. Sedangkan kelinci, yang tadi di punggung singa, sudah turun ketika singa melompat. Kelinci selamat dan singa berujung wafat. 

Tindakan yang dilakukan singa dalam kisah tersebut merupakan analogi dari manusia-manusia ceroboh yang memilih meninggalkan ikhtiyar karena telah merasa ‘hebat’. Padahal ‘merasa’ hebat di dalam diri adalah sumber kehancuran. Seperti Iblis yang menjadi guru malaikat selama ratusan tahun, harus rela ‘turun gunung’ karena ‘merasa hebat’.

Sikap yang ditunjukkan kelinci adalah analogi untuk manusia-manusia lemah yang tidak pernah berhenti berharap dengan pertolongan Allah meskipun dalam kondisi terdesak sekalipun. Seperti Nabi Ibrahim yang tetap yakin kepada Allah ketika dimasukkan ke dalam bara api. 

Baca Juga: Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Menceritakan Dosa kepada Orang Lain Menurut Gus Baha

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...