Kisah Nabi Muhammad Bertawasul dengan Para Nabi Yang Telah Wafat

0
2598
nabi muhammad bertawasul

Ada sebuah kisah tentang Nabi Muhammad yang bertawasul dengan para nabi yang telah wafat.

Setelah beberapa lama mukim di Madinah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendapat kabar wafatnya seorang perempuan shalihah. Perempuan itu bernama Fatimah binti Asad.

Fatimah binti Asad adalah istri Abu Thalib yang berarti bibi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Fatimah merupakan perempuan yang shalihah. Setia menemani Abu Thalib dalam suka dan duka.

Fatimah mengasuh dan mendidik Muhammad kecil, bersama dengan anak-anaknya yang lain seperti Thalib, Aqil, Jakfar, Ali dan lainnya. Tidak pilih kasih membuat hubungan Nabi Muhammad dengan bibinya itu sangat dekat.

Ketika Nabi Muhammad mendapat wahyu dan mendakwahkannya ke masyarakat Mekah, Fatimah adalah salah satu orang yang tertarik. Ia masuk Islam pada saat masih di Mekah. Ketika perintah berhijrah turun, ia segera mengikuti perintah tersebut bersama dengan anak-anaknya.

Rasulullah sangat memperhatikan bibi yang sudah seperti ibundanya sendiri tersebut selama di Madinah. Rasulullah sering menjenguk dan mengunjunginya. Rasulullah bahkan senang tidur siang di rumah Fatimah. Hal ini menunjukkan kedekatan Rasulullah dengan bibinya tersebut.

Suatu ketika terdengar kabar Fatimah binti Asad wafat. Hal ini membuat Rasulullah sangat bersedih. Rasulullah segera mendatangi kediaman bibinya itu. Beliau duduk di samping kepala bibinya dan segera menyebut-nyebut kebaikan bibinya. Rasulullah memintakan ampunan dan mendoakan agar sang bibi mendapatkan kelapangan dalam kuburnya.

Saat berdoa, Nabi Muhammad menyebut-nyebut kemuliaan dan kemuliaan para nabi terdahulu yang telah wafat. Beliau mengatakan, “Allahul ladzi yuhyi wa yumit wa huwa hayyun la yamut, ampuni ibuku, fatimah binti asad, ajarkan hujjah kepadanya, lapangkan kuburnya, dengan haqq nabimu dan nabi-nabi sebelum aku..”

Di sinilah, Nabi Muhammad bertawasul dengan menyebut kemuliaan para nabi terdahulu.

Asal Usul Kisah

Kisah ini disebutkan oleh Imam Al-Thabarani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Ausath dan Al-Mu’jam Al-Kabir.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: لَمَّا مَاتَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَسَدِ بْنِ هَاشِمٍ أُمُّ عَلِيٍّ، دَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَلَسَ عِنْدَ رَأْسِهَا، فَقَالَ: «رَحِمَكِ اللَّهُ يَا أُمِّي، كُنْتِ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي، تَجُوعِينَ وتُشْبِعِينِي، وتَعْرَيْنَ وتَكْسُونَنِي، وتَمْنَعِينَ نَفْسَكِ طَيِّبَ الطَّعَامِ وتُطْعِمِينِي، تُرِيدِينَ بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ» . ثُمَّ أَمَرَ أَنْ تُغْسَلَ ثَلَاثًا وَثَلَاثًا، فَلَمَّا بَلَغَ الْمَاءَ الَّذِي فِيهِ الْكَافُورُ، سَكَبَهُ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ، ثُمَّ خَلَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَمِيصَهُ فَأَلْبَسَهَا إِيَّاهُ، وكُفِّنَتْ فَوْقَهُ، ثُمَّ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ، وَأَبَا أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيَّ، وَعُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، وَغُلَامًا أَسْوَدَ يَحْفِرُوا، فَحَفَرُوا قَبْرَهَا، فَلَمَّا بَلَغُوا اللَّحْدَ حَفَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ، وَأَخْرَجَ تُرَابَهُ بِيَدِهِ. فَلَمَّا فَرَغَ، دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فاضْطَجَعَ فِيهِ، وَقَالَ: «اللَّهُ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، اغْفِرْ لِأُمِّي فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ، ولَقِّنْهَا حُجَّتَهَا، وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مُدْخَلَهَا، بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِي، فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ» . ثُمَّ كَبَّرَ عَلَيْهَا أَرْبَعًا، ثُمَّ أدْخَلُوهَا الْقَبْرَ، هُوَ وَالْعَبَّاسُ، وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Dari Anas bin Malik yang berkata, “Ketika Fatimah binti Asad bin Hasyim, ibunda Ali, wafat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam segera mendatangi kediamannya. Beliau duduk di samping kepada bibinya itu, lalu berkata,

‘Semoga Allah senantiasa merahmatimu, wahai ibuku. Engkau adalah ibuku setelah ibuku (Aminah). Engkau kelaparan, tetapi senantiasa menjagaku agar selalu kenyang. Engkau tak memperhatikan pakaianmu, agar engkau bisa memberiku pakaian. Engkau menahan diri dari makanan enak, agar engkau bisa memberi ku makan. Engkau meniatkan itu semua untuk mendapatkan ridha Allah dan surga di akhirat.’

Rasulullah memerintahkan agar dia dimandikan tiga-tiga kali. Ketika sampai sesi basuhan air kafur, Rasulullah menuangkan sendiri dengan tangannya ke jenazah bibinya. Rasulullah melepaskan gamisnya, lalu memakaikannya pada jenazah. Fatimah dikafani dalam balutan jubah Nabi.

Rasulullah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub Al-Anshari, Umar bin Khatthab, dan seorang budak berkulit hitam. Memerintahkan mereka menggali liang lahad. Mereka kemudian menggali liang untuk kuburan Fatimah. Ketika telah sampai pada bagian lahatnya, Rasulullah menggalinya sendiri dengan tangannya. Mengeluarkan tanahnya dengan tangannya sendiri.

Ketika penggalian lahat selesai, Rasulullah masuk ke liang lahat lalu tidur miring. Beliau berdoa, Allahul ladzi yuhyi wa yumit wa huwa hayyun la yamut, ighfir li ummi, fatimah binti asad, ajarkan hujjah kepadanya, lapangkan kuburnya, dengan haqq nabimu dan nabi-nabi sebelum aku, sungguh, engkau dzat yang pemurah di antara yang pemurah.’ Rasulullah membaca takbir empat kali, lalu memasukkan jenazah bibinya ke dalam liang lahat bersama Al-‘Abbas dan Abu Bakar’”. (HR. Al-Thabarani)

Syekh Nuruddin Al-Husyaimi dalam kitab Majma’ Al-Zawaid mengatakan, para perawi dalam sanad hadis ini adalah para periwayat hadis shahih. Kecuali Rauh bin Shalah. Ibnu Hibban dan Al-Hakim menilainya tsiqah, tetapi terdapat komentar bahwa dia berstatus daif.

Ibnu Adi memasukkan Rauh bin Shalah dalam daftar perawi daif di kitabnya, Al-Dhu’afa. Demikian pula Al-Daruquthni, yang menyebutnya daif. Ibnu Hibban menyebut Rauh bin Shalah dalam daftar perawi tsiqah dalam kitabnya, Al-Tsiqat. Al-Hakim mengomentari, Rauh bin Shalah adalah tsiqah ma’mun.

Menurut Al-Ghummari dalam kitab Ittihaf Al-Adzkiya, sekalipun terdapat ulama jarh yang menilai daif, tetapi kedaifannya tergolong ringan. Karenanya, dapat disimpulkan bahwa setidaknya kualitas hadis ini adalah hasan. Bahkan shahih berdasar kriteria Imam Ibnu Hibban.
Dengan demikian, hadis ini setidaknya tsabit menurut sebagian ulama. Tetapi saqith menurut sebagian ulama yang lain.

Dalil Kebolehan Tawasul dengan Orang Shaleh Yang Telah Wafat

Berdasarkan kisah di atas, dan pendapat ulama yang menyatakan ke-tsabit-an hadis tersebut, sebagian ulama menjelaskan bahwa bertawassul dengan menyebut kemuliaan orang shaleh saat berdoa adalah diperbolehkan. Hukumnya mubah.

Jika mengikuti pendapat yang mendaifkan, sebenarnya bertawasul saat berdoa dengan menyebut kemuliaan orang shaleh, bukan termasuk perkara halal dan haram ataupun soal akidah. Sehingga sebenarnya menjadikannya sebagai dasar beramal masih diperbolehkan. Bertawasul saat berdoa bukan sebuah kewajiban. Ia hanya masuk dalam kategori adab-adab berdoa.

Dalam hadis di atas, Rasulullah meminta kepada Allah dengan menyebut “..Dengan hak ku dan hak para nabi sebelumku..”. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa hadis ini tergolong hadis qauli (ucapan Nabi). Tetapi yang perlu dicatat, tidak terdapat perintah maupun larangan di dalamnya. Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam adab-adab berdoa bukan sesuatu yang terlarang dalam agama. Bertawasul saat berdoa adalah salah satu adab yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Wallahu a’lam. (Khoirul Huda).