Beranda Headline Kisah Pemuda Berusia 20 Tahun Berjumpa Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari

Kisah Pemuda Berusia 20 Tahun Berjumpa Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari

Harakah.id Inilah kisah Saifuddin Zuhri saat pertama kali bertemu Hadratus Syaikh Hasyim pada usia 20-an tahun. Saat itu, ia menjabat GP Ansor Jawa Tengah.

Pada 14 Februari 1871, lahirlah seorang ulama besar dengan gelar Hadratussyaikh (Maha Guru) ahli hadits di tanah Jawa. Tidak lain adalah KH. Hasyim Asy’ari. Seorang kiai kharismatik pendiri organisasi terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Pertanyaanya, tidak sedikit dari kita ingin mengenal lebih dalam dari sosok kiai multidimensi asal Jombang, Jawa Timur ini. Melalui karya monumental Saifuddin Zuhri “Guruku Orang-orang dari Pesantren”, (Yogyakarta: LkiS, 2007). Zuhri mengisahkan pertemuan pertamanya dengan sang Rais Akbar NU.

Bagi Zuhri, pertemuan itu sangatlah berkesan. Betapa tidak, di usia yang begitu muda 20 tahun, ia merasa bangga bertemu langsung dengan Kiai Hasyim. Perlu diketahui bahwa saat itu Zuhri adalah Ketua Gerakan Pemuda Ansor Wilayah Jawa Tengah tahun 1930-an.

Dikisahkan, Zuhri tertegun saat sepucuk surat datang dari seorang kiai muda energik, Wahid Hasyim. Surat itu berisi permintaan Wahid Hasyim untuk singgah terlebih dahulu sebelum beranjak ke Surabaya. Singkatnya, setiba di Tebu-Ireng, Zuhri diantar Wahid Hasyim menghadap KH. Hasyim Asy’ari. Kata Zuhri saat itu Kiai Hasyim sedang duduk di atas permadani sambil membaca surat yang diterimanya.

“Wajahnya bersinar, bercahaya. Memancar dari wajah orang yang sangat berwibawa. Ketika aku memberikan salam, beliau sedang duduk di atas permadani yang memenuhi ruangan tamu. Beliau mengenakan baju Jawa seperti piama tak berleher, berwarna putih terbuat dari kain katun, bersarung plekat, dan mengenakan sorban. Beliau sedang membaca surat. Aku heran sekali, di umur sekitar 70 tahun masih dapat membaca tanpa kaca mata,” jelasnya.

Zuhri mengatakan, saat pertama kali mengenalnya, Kiai Hasyim adalah pribadi yang ketika berbicara sangat hati-hati.Tidak asal bicara. Menurut Zuhri, orang bijaksana itu berfikir dulu, baru berkata, tapi orang sembrono, berkata dulu baru berfikir.

Hadratussyaikh jelas memperlihatkan orang yang bijaksana. Tidak tergesa-gesa dalam mengutarakan buah pikirannya,” terang Zuhri.

Saat Kiai Hasyim Dimarahi Gurunya

Perihal surat yang dibaca, kata Zuhri, Kiai Hasyim meberitahukan surat itu berasal dari ulama terkenal Jawa Tengah. Kiai Hasyim sangat menghormati karib seangkatannya itu. Meski seangkatan, Kiai Hasyim menganggap sebagai gurunya. Zuhri menilai bahwa sikap Kiai Hasyim sangatlah rendah hati (tawadhu’).

Zuhri mengatakan, saat itu Kiai Hasyim sedang bersedih. Pasalnya, surat itu berisi hukum mengharamkan terompet dan genderang yang dilakukan Ansor saat baris-bebaris maupun pawai. Sementara, Kiai Hasyim memperbolehkan. Kata Kiai Hasyim, selagi itu bertujuan syi’ar Islam dalam rangka mempersiapkan kekuatan NU, sehingga musuh tidak memandang sebelah mata akan kebesaran NU, maka diperbolehkan.

Hadratussyaikh memperlihatkan isi surat kepada kami. Beliau baca suratnya dalam bahasa Arab. Beliau baca berulang-ulang, sangat sedih, mengapa gurunya itu memarahinya. Maksudnya berbeda pendapat. Lalu beliau mengatakan akan berusaha sekeras-kerasnya menginsyafkan gurunya,” kata Zuhri tertegun.

Zuhri menuliskan bahwa silih pendapat di antara ulama tentang hukum genderang dan terompet lalu dibahas dalam Muktamar NU ke-15 di Surabaya 1940 dan hasilnya diputuskan oleh dewan syuriah bahwa hukumnya diperbolehkan.

Memuliakan Tamu

Sisi lain dari ulama ahli hadits itu menurut Zuhri sangat memuliakan tamu. Di kediaman Kiai Hasyim, hampir setiap hari tamu berduyun-duyun datang dari berbagai kalangan; kiai, wali santri, petani, pemuda, pamongpraja dan lain sebagainya. Sekalipun para tamu tidak ada janji sebelumnya, bahkan datang di waktu yang umunya orang-orang sedang istirahat tapi tetap diladeni.

“Sekalipun ada khadam menyuguhkan minuman dan makanan, tapi beliau sendiri yang menghidangkan. Kadang beliau mengambil dari ndalem. Bahkan ada tamu membawa oleh-oleh pepaya, Kiai Hasyim berkata Alhamdulillah, pucuk dicita ulam tiba, sambil berulang kali mengucapkan terima kasih. Padahal di kebun belakang rumahnya ada juga pohon pepaya,” Puji Zuhri.

Oleh karena itu, kata Zuhri tidak heran jika Kiai Hasyim sangat dikagumi oleh berbagai kalangan. Hampir para tamu itu merasa senang dan mendapat kenangan terindah yang membahagiakan.

“Tidak semua orang menerima tamu dengan senang, gembira. Tapi Kiai Hasyim di umur senja tetap meladeni dengan cara yang menyenangkan. Maka Kiai Hasyim layak dipandang sosok Bapak Pengayom,” Tegasnya.

Demikian, sekilas sisi lain kepribadian Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Seorang kiai kharismatik nan wibawa yang telah memberikan teladan kepada kita bahwa puncak ilmu adalah amal, karena amal adalah wujud dari ilmu yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-sahari seperti kisah Kiai Hasyim di atas. Begitulah kira-kira.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...