Beranda Keislaman Hadis Kisah Sahabat Bekerja pada Yahudi, Potret Toleransi Islam dalam Relasi dengan Non-Muslim

Kisah Sahabat Bekerja pada Yahudi, Potret Toleransi Islam dalam Relasi dengan Non-Muslim

Harakah.id Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga tidak melarang seorang sahabat yang bekerja kepada non-Muslim, yaitu Kaab bin Ujrah.

Dalam mencari rezeki, umat Islam pada dasarnya tidak dilarang untuk bekerja kepada pengusaha non-Muslim. Bahkan, hasil kerjanya hukumnya halal jika memenuhi beberapa syarat yang ditetapkan para ulama.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga tidak melarang seorang sahabat yang bekerja kepada non-Muslim, yaitu Kaab bin Ujrah. Dia bekerja kepada non-Muslim karena ingin memberi kurma kepada Nabi Muhammad SAW.

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عليه وسلم يَوْماً، فَرَأَيْتُهُ مُتَغَيِّراً. قَالَ: قُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّيْ، مَا لِي أَرَاكَ مُتَغَيِّراً؟ قَالَ: مَا دَخَلَ جَوْفِي مَا يَدْخُلُ جَوْفَ ذَاتِ كَبِدٍ مُنْذُ ثَلاَثٍ. قَالَ: فَذَهَبْتُ، فَإِذَا يَهُوْدِيٌّ يَسْقِي إِبِلاً لَهُ،  فَسَقَيْتُ لَهُ عَلَى كُلِّ دَلْوٍ تَمْرَةٌ، فَجَمَعْتُ تَمْراً فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم. فَقَالَ: مِنْ أَيْنَ لَكَ يَا كَعْبُ؟ فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: أَتُحِبُّنِي ياَ كَعْبُ؟ قُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ نَعَمْ.

Saya mendatangi Nabi SAW pada suatu hari, dan saya melihat beliau pucat. Maka saya bertanya, ‘Ayah dan ibu saya adalah tebusanmu. Mengapa engkau pucat?’ Beliau SAW menjawab, ‘Tidak ada makanan yang masuk ke perut saya sejak tiga hari.’ Maka saya pun pergi dan mendapati seorang Yahudi sedang memberi minum untanya. Lalu saya bekerja padanya, memberi minum unta dengan upah sebiji kurma untuk setiap ember. Saya pun mendapatkan beberapa biji kurma dan membawanya untuk Nabi SAW. Beliau SAW bertanya, ‘Dari mana ini wahai Ka’ab?’ Lalu saya pun menceritakan kisahnya. Beliau SAW bertanya, ‘Apakah kamu mencintaiku wahai Kaab?’ Saya menjawab, ‘Ya, dan ayah saya adalah tebusanmu.’” (HR Ath-Thabrani)  

Dalam hadits ini Nabi SAW tidak mengingkari apa yang dilakukan Ka’b. Hal itu menunjukkan  bahwa pada dasarnya, hukum bekerja pada orang non-Muslim adalah boleh.

Namun haram bagi seorang Muslim untuk bekerja untuk non Muslim dalam bidang pekerjaan yang diharamkan agama seperti bekerja menjual atau membuat minuman keras, atau menjual daging babi. Dalam hal ini tidak ada bedanya antara pemilik usaha tempat kerjanya itu seorang Muslim atau non-Muslim.

Jika pekerjaan yang dilakukan biasa dipandang rendah seperti menjadi pembantu rumah tangga dan menyusui bayi orang Non-Muslim hukumnya adalah makruh. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya haram dan akadnya tidak sah. Dalil makruhnya pekerjaan seperti ini adalah hadits Hudzaifah RA yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda :

لاَ يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ

Tidak pantas bagi seorang Mukmin untuk menghinakan dirinya sendiri. [HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan dari penjelasan hadits di atas bahwa pada dasarnya, hukum bekerja pada orang kafir adalah boleh. Hasil kerja pada usaha non-Muslim hukumnya halal. Asalkan, usahanya tersebut memproduksi barang-barang halal dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Semoga ulasan tentang “Kisah Sahabat Bekerja pada Yahudi, Potret Toleransi Islam dalam Relasi dengan Non-Muslim” ini bermanfaat bagi kita semua. 

Artikel berjudul ” Kisah Sahabat Bekerja pada Yahudi, Potret Toleransi Islam dalam Relasi dengan Non-Muslim” adalah kiriman dari Meylin Tri Anggraeni, Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...