Kisah Sahabat Nabi Menawar Racun Kalajengking dengan Surah Al-Fatihah

0
424

Harakah.id – Ketika itu, seorang tetua kampung baru saja digigit kalajengking beracun. Seorang sahabat Nabi kemudian membacakan surah Al-Fatihah. Tetua kampung itu pun sembuh dan racunnya ternetralisir.

Di antara kebiasaan bangsa Arab dulu adalah mereka akan memberikan beberapa nama yang berbeda untuk hal-hal yang mereka sukai. Dahulu, pada masa sebelum Islam, mereka dikenal sangat gemar mengkonsumsi khamar. Maka, mereka memberikan tidak kurang dari 90 nama berbeda untuk khamar. Di antaranya seperti Al-Syumul, Al-Da’, Al-Dawa’, Al-Shafra’ dan lain-lain. Tidak mengherankan jika syariat pelarangan khamar ketika itu adalah sesuatu yang terasa sangat berat bagi mereka.

Bangsa Arab kala itu sangat takut kepada singa, sehingga mereka memberikan sangat banyak nama yang merujuk kepada singa, bahkan tidak kurang dari 700 nama. Di antaranya adalah Al-Laits, Al-Ghadhanfar, Al-Dhargham, dan lain-lain. Mereka pula takut kepada laut, sehingga laut memiliki lebih dari 30 nama yang diberikan oleh mereka seperti Al-Yamm, Al-Bahr, Al-Zhulm, laut juga kadang disebut dengan Al-Kafir karena laut dapat menghapus atau menghilangkan benda yang jatuh ke dalamnya. Kebiasaan semacam ini merupakan salah satu faktor mengapa bahasa Arab sangat kaya dalam mengungkapkan berbagai nama dan sebuatan untuk sesuatu hal.

Al-Fatihah merupakan bagian yang paling dicintai dari Alquran, sehingga ia pun memiliki sekitar dua puluh nama. Pertama ia dinamai dengan Al-Fatihah atau pembuka, karena saat pertama kali engkau membuka Al-Qur’an maka surah Al-Fatihah yang pertama kali ditemui.

Baca Juga: Pernah Mimpi Digigit Ular, Ini Maknanya Menurut Ibn Sirin

Al-Fatihah juga memiliki nama yang lain salah satunya Al-Ruqyah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada sekelompok sahabat Nabi yang melewati sebuah kampung di tengah perjalanan mereka. Ketika itu, ternyata salah seorang tetua kampung baru saja digigit oleh kalajengking beracun. Salah seorang sahabat membacakan surah Al-Fatihah kepada orang yang digigit kalajengking tersebut, lalu orang itu pun sembuh dan racunnya ternetralisir. Sahabat tersebut pun dihadiahi dengan seekor kambing, akan tetapi ia tidak berani memakan kambing itu sebelum bertanya tentang peristiwa tersebut kepada Rasulullah Saw. Ini karena khawatir apa yang ia lakukan dengan perantara surah Al-Fatihah tadi ternyata keliru.

Saat ia bertanya kepada Rasul, Rasulullah Saw menjawab,

وما أدراكم أنها رقية

Artinya: “Bagaimana kalian tahu bahwa surah al-Fatihah itu adalah do’a penyembuh” (Al-Ruqyah)

Peristiwa di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Al-Hakim.

Syaikh Ali Jum’ah menekankan bahwa surah Al-Fatihah adalah Al-Ruqyah. Dan Al-Ruqyah itu berada dalam posisi sebagai doa. Jadi, saat ada yang sakit maka bacakanlah surah Al-Fatihah kepadanya sebagai doa untuk kesembuhan dirinya. Akan tetapi selayaknya sebuah doa tentu ia pula harus diiringi dengan usaha. Makanya, pengamalan ayat-ayat ruqyah tidak berarti umat Islam itu harus meninggalkan obat-obatan dan perawatan medis dan sepenuhnya hanya mengamalkan ruqyah. Ruqyah adalah doa, berobat adalah usaha. Keduanya dilakukan secara bersama-sama.

Baca Juga: Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid

Surah Al-Fatihah adalah surah yang dicintai umat Islam. Ia adalah pengantar saat membaca Al-Qur’an, pengantar saat berdoa dan dihafal oleh seluruh umat Islam. Pada perkembangannya, ada sebagian orang yang memiliki kebiasaan membaca dan memulai dengan membaca surah Al-Fatihah dalam momen-momen tertentu. Ada yang memiliki kebiasaan membaca Al-Fatihah setelah melakukan akad jual beli sebagai simbol penegasan berlakunya akad. Ada yang membaca surah Al-Fatihah saat melakukan lamaran sebagai simbol deklarasi sebuah lamaran. Hal ini tentu tidak menjadi masalah selama ia tidak diamalkan pada momen yang melanggar dengan syariat.